Kamis, 24 Juli 2014

Humanistik Eksistensial

A.    Pengertian Terapi Humanistik-Eksistensial
Terapi eksistensial adalah pendekatan konseling dan psikoterapi yang didasarkan pada pemahaman filosofis tentang apa makna menjadi manusia, dan apa makna keberadaannya. Pemahama ini berdasarkan karya beberapa filsuf, dan para terapis berbeda dalam memberikan penekanan pada filsuf tertentu. Pendekatan eksistensial ini tidak hanya mempelajari tentang eksistensi dan menerapkannnya pada pendekatan lain secara terpisah.
 
B.     Teori dan Konsep Dasar  
Pemikiran eksistensial memiliki beberapa asumsi dasar tentang apa yang sejati bagi kita semua, dan asumsi-asumsi tentang apa makna eksistensi kita. Asumsi-asumsi fundamental tersebut sering diacu sebagai hal-ghal ‘biasa’ dalam pembahasan tentang eksistensi.
a.      Hakikat manusia
Jean-Paul Sartre (1905-1980), mungkin filsuf eksistensi paling populer, berpendapat bahwa tidak ada hal yang disebut ‘hakikat manusia’, karena hakikat manusia itu intinya tidak ada. Inti keberadaan adalah ketiadaan. Kita menjadi sesuatu melalui pilihan-pilihan yang kita buat—dengan cara mengisi kehidupan kita. Kita menjadi sesuatu yang tidak pernah tetap, tidak pernah sekaligus. Bahkan, kita selalu berproses, selalu berubah. Jadi berbicara tentang tipe-tipe kepribadian atau bahkan bertanya ‘Siapa saya?’ adalah hal yang tidak masuk akal, karena kita tidak pernah menjadi seseorang, namun selalu berada dalam proses menjadi. Dari perspektif eksistensialis, diri bukanlah suatu barang, bukan entitas yang berlainan yang bisa dilukiskan dan dideskripsikan. Dari waktu ke waktu, diri yang baru muncul, tiap pengalaman baru menempatkan kita di tempat yang berbeda dan kita tidak pernah bisa secara persis sama dengan kita di waktu sebelumnya.
 
b.      Pilihan
Banyak orang berpendapat bahwa gagasan ini sulit dipahami, karena kebanyakan kita memiliki rasa berkelanjutan dan rasa diri yang kuat. Kita merasa sebagai orang yang sama pagi ini, kemarin, dan 20 tahun yang lalu. Kita tampaknya membutuhkan rasa kesamaan ini karena tanpa itu kita merasa sangat tidak aman. Pada saat yang sama, eksistensialis berpendapat bahwa kita membatasi diri sendiri dengan melihat diri kita dengan cara yang tetap dan tidak berubah. Seberapa seing kita telah mendengar diri kita atau orang lain berkata, ‘Saya tetap sama seperti itu’, ‘Itulah saya’? Kita berbicara seolah-olah tidak ada yang berubah dan seolah-olah kita tidak bertanggung jawab atas diri kita saat ini—‘Saya ditakdrkan seperti itu’ kita sering berkata demikian. Sartre berpendapat bahwa kita punya jauh lebih banyak pilihan daripada yang kita bayangkan, dan ia percaya dalam keterbatasan ‘faktisitas’ kita, (facticity) kita bisa menjadi apa pun yang kita pilih. Faktsitas mengacu pada fakta-fakta eksistensi kita, aspek-aspek yang kita tidak punya pilihan—misalnya, keadaan saat kelahiran kita, orang tua kita, tempat, waktu, dan budaya yang kita masuki saat kita lahir, warisan genetic kita, tempat kita bertumbuh. Di mana kita benar-benar punya pilihan adalah dalam respons kita pada batasan-batasan itu: itulah kebebasan kita.
 
c.    Kebebasan
Sartre berpendapat bahwa tidak ada hal yang pasti (terlepas dari kepastian akan kematian), tidak ada hal yang absolute, terserah kita untuk memutuskan bagaimana kita ingin menjalani kehidupan kita, untuk membuat aturan kita sendiri, mendapati makna kita sendiri. Dengan kata lain, kita memanggul beban tanggung jawab yang sangat besar. Untuk mengakui bahwa kita bertanggung jawab atas diri kita dengan cara ini memprovokasi kecemasan yang luar biasa, dan pada saat yang sama kesadaran tentang kebebasan kita bisa alami sebagai pengalaman yang sangat membebaskan. Namun demikian, sering kita merasai lebih mudah untuk ‘bermain aman’ dengan melakukan apa yang selalu kita lakukan, mengikuti aturan dan berpura-pura bahwa kita tidak punya pilihan. Dengan melakukan itu, kita menyangkal pengalaman hidup yang lebih bergairah dan lebih bersemangat.
 
c.       Kecemasan dan Perasaan Bersalah
Eksistensialis berpendapat bahwa karena kita punya ukuran kebebasan dan diharuskan untuk memilih, tak bisa dihindari kita juga akan merasa cemas. Kecemasan eksistensial dianggap sebagai suatu aspek eksistensi, ‘anugerah’ yang eksistensial di mana kita tidak dapat menghindarinya. Akhirnya, kehidupan kita adalah tanggung jawab kita dan itu membuat kita cemas. Pada saat yang sama eksistensialis berpendapat bahwa kita tidak bisa memenuhi tanggung jawab pada diri kita, kita hanya bisa berupaya melakukannya. Karena kita tidak pernah bisa memenuhi potensi kita, kita pasti tidak bisa mencapai keadaan kita yang seharusnya, kita tidak bisa menghindari perasaan bersalah secara eksistensial. Kita selalu berutang pada diri kita sendiri, kita berutang pada diri kita untuk menjadi lebih daripada kita sekarang ini, sehingga kita merasa bersalah. Seperti kecemasan eksistensial, kesalahan eksistensial dianggap sebagai aspek keberadaan manusia yang tak bisa dielakkan.
 
d. Keberadaan di Dunia
Heidegger mendeskripsikan eksistensi sebagai ‘keberadaan di dunia’. Ia menggunakan frasa ini untuk menekankan relasi tak terelakkan kita, hubungan kita ‘yang sudah dari sananya’ pada semua hal yang kita jumpai. Kita selalu berada dalam dunia ini dan bahwa dunia itu adalah milik kita. Ketika kita mati, dunia kita, dunia yang kita tahu akan mati bersama kita.
 
e. ‘Dunia dengan’
Tak hanya kita selalu membawa dunia kita bersama kita, namun kita juga selalu hidup terkait dengan orang lain, kita hidup dalam sebuah ‘dunia dengan’. Kita selalu berhubungan, meskipun kita memilih hidup terpisah dengan orang lain. Hanya dengan melalui orang lain kita dapat merasakan diri kita, dengan berelasi dengan orang lain kita menjadi diri kita sekarang ini. Pada saat yang sama, diri kita selalu berada dalam keadaan yang bergejolak. Diri kita dengan teman, saudara perempuan, bos, dengan siapa pun juga, adalah diri yang lain dalam tiap hubungan itu. Sama seperti respon tiap orang kepada kita tidak sama, tak seorang pun melihat kita dengan cara yang persis sama seperti orang lain melihat kita. Mungkin benar untuk berkata, ‘Saya punya kepribadian sebanyak jumlah teman saya.’
 
f.       Dunia yang Diinterpretasikan
Penekanan pada hubungan kita yang tak terelakan pada semua yang ada menunjukkan bahwa dalam beberapa hal kita bukanlah individu yang terpisah, namun saling terlibat dengan orang-orang yang kita jumpai. Pada saat yang sama eksistensialis juga menekankan keunikan kita, tak ada pengalaman orang lain yang persis sama dengan pengalaman kita. Saya tidak pernah benar-benar tahu seperti apa menjadi anda. Kita semua berdiri di tempat unik kita masing-masing dan setiap kita memandang dunia dari perspektif kita sendiri. Secara paradoks,kita terhubung pada orang lain dan pada saat yang sama akhirnya terpisah dengan mereka. Walaupun pengalaman kita sangat mirip sekalipun,setiap kali kita mengalami hal-hal yang agak berbeda. Makna yang kita berikan pada sesuatu menjadi milik kita, orang lain mungkin memberi makna lain pada hal yang sama. Jadi, makna suatu objek, situasi atau pengalaman milik orang yang memberi makna tersebut-makna itu tidak tercantum dalam objek, situasi, atau pengalaman kita sendiri. Melalui respons kita pada apapun yang kita jumpai, kita menciptakan dunia kita.
Kita selamanya menginterpretasikan dan melekatkan makna pada semua yang kita alami. Makna yang kita berikan bisa berubah seiring waktu, sesuatu yang dulu sangat bermakna sekarang mungkin bermakna kecil saja.kita sering membatasi diri dengan percaya bahwa makna yang kita berikan itu tetap dan tidak dapat berubah, kita menjadi kaku dan tidak fleksibel. Pengakuan bahwa perubahan itu ada dalam jangkauan kita, terkait dengan pandangan kita tentang diri kita dan dalam makna yang kita berikan, adalah pengalaman yang sangat membebaskan bagi banyak orang.
 
g.      Kematian
Satu hal yang tidak bisa kita ubah adalah kematian,satu kepastian yang kita semua punyai, meskipun, tentu saja, waktu, dan tempat kematian kita tidak diketahui dan makna yang kita berikan beragam. Alih-alih menanggap kematian sebagai bencana, Heidegger menawarkan bahwa kesadaran akan kematian itu justru membebaskan. Kematian adalah dimensi kehidupan, dan menyangkal kematian kita justru membatasi pengalaman hidup kita. Cobalah bayangkan anda hidup selamanya. Jika kita berpikir bahwa kita makhluk yang tidak abadi, bahwa kehidupan itu terbatas, maka kita akan hidup lebih penuh pada saat ini.
 
h.      Memperoleh Dan Mengekalkan Gangguan Psikologis
Terapis eksistensial tidak berfokus kategori-kategori diagnostik, yaitu dengan memberi label orang-orang dan mempatologikan kesulitan mereka.dengan kata lain, mereka tidak menganggap klien yang mereka terapi mengalami kesakitan yang bisa didefinisikan. Alih-alih, mereka akan menganggap kesulitan klien sebagai `masalah dalam kehidupan`, di mana kita semua mengalami, klien dan terapis sama saja. Kita tidak ` memperoleh gangguan psikologis`, namun lebih pada kesakitan eksistensi manusia, kehidupan itu sendiri, dianggap sebagai gangguan. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, Eksistensi manusia mencakup beberapa hal kodrati: pengalaman kecemasan dan perasaan bersalah: hidup menuju kematian: tanggung jawab untuk menemukan makna kehidupan kita sendiri: hidup dalam `dunia dengan` dan pada saat yang sama akhirnya terisolasi.
  Ada kemungkinan kita memilih mengabaikan`panggilan nurani` panggilan untuk menghadapi tantangan untuk menjalani kehidupan dengan lebih penuh dan oleh karena itu kita merasa kehidupan kita ada yang kurang. Kita mungkin merasa bahwa pengambilan keputusan dan tanggung jawab itu terlalu berat. Pengalaman sebelumnya telah memengaruhi kita sedemikian rupa sehingga harga diri kita rendah dan relasi kita buruk. Kehidupan kita mungkin kehilangan makna dan tujuan. Kesulitan kita berlanjut karena kita tidak menyadari cara kita yang justru mengekalkan kesulitan itu. Kita menemukan banyak cara untuk mengabaikan kemungkinan –kemungkinan yang tersedia bagi kita, kita justru membatasi diri kita. Dalam upaya kita yang terus-menerus menuju tingkat keamanan yang tak bisa diraih, kita membatasi diri kita dan mengekalkan masalah kita.
 
i.        Perpindahan Ke Kesehatan Psikologis
Dari perspektif eksistensial,`kesehatan psikologis` itu tidak dimungkinkan. Usaha kita untuk menjalani kehidupan yang bebas dari rasa khawatir, bebas stres, dan seimbang bisa mengekalkan kesulitan kita. Dengan menghadapi problem kita dan bertanggung jawab atas pilihan-pilihan kita, kita mengalami rasa kendali diri yang lebih besar. Pada saat yang sama kita mungkin menjadi lebih cemas, meskipun berbeda dengan rasa cemas ketika kita berpikir bahwa dimungkinkan untuk membuat ini pasti dan aman. Jika kita siap menanggung risiko dan membiarkan rasa tidak aman dan tidak pasti, kita bisa lebih baik menghadapi kehidupan ini. Diperlukan keberanian dan tekad yang besar untuk menentukan kehidupan ini dengan tangan anda sendiri, walaupun beberapa orang akan beranggapan bahwa hasilnya tidak bisa diperhitungkan.
 
 
 
C.    Praktik
a.       Tujuan-Tujuan
Terapi eksistensial bertujuan agar klien mengalami keberadaannya secara otentik dengan menjadi sadar atas keberadaan dan potensi-potensi serta sadar bahwa ia dapat membuka diri dan bertindak berdasarkan kemampuannya. Terapis eksistensial tidak berfokus pada penentuan tujuan spesifik untuk terapi. Pembukaan kemungkinan bisa dikatakan sebagai tujuan umum terapi eksistensial. Klien sering datang ke terapi karena merasa bahwa hidup mereka dibatasi atau kehilangan tujuan. Mereka mungkin punya hubungan yang tidak memuaskan, atau mungkin merasa menjadi korban keadaan atau lainnya, mereka ingin mengubah cara mereka menjalani kehidupan namun tidak tahu cara untuk melakukannya. Klien menggambarkan dirinya sebagai orang yang merasa kehidupannya mandek dan tidak bisa berubah. Diharapkan, melalui proses terapi ini klien bisa menyadari bahwa mereka punya lebih banyak kebebasan daripada yang mereka pikirkan sebelumnya dan bahwa ada banyak batasan yang mengungkung kita, kita masih punya pilihan terkait dengan bagaimana merespons batasan-batasan itu. Selama terapi, klien menyadari tanggung jawabnya atas pilihan yang diambilnya saat ini, yang diambilnya pada masa lalu, dan akan diambilnya di masa depan. Semua itu melibatkan pengakuan bahwa memilih itu seringkali sulit—dalam mengatakan ‘ya’ pada satu hal dan ‘tidak` pada hal lain, dan tentu saja, memilih untuk tidak memilih berarti kita juga membuat pilihan. Itulah khususnya. Terapis eksistensial tidak akan bekerja untuk menghilangkan kecemasan pada diri klien, karena justru akan berarti menafikan kebebasan dan tanggung jawab klien. Alih-alih ,terapis eksistensial akan mendorong klien untuk berkonfrontasi dengan kesulitannya dan menghadapi kecemasan yang mengikuti.hal yang sama terjadi untuk perasaan bersalah eksistensial.alih-alih mencoba menghilangkan perasaan bersalah, terapis eksistensial akan memfasilitasi kemampuan klien mengenali kapan ia menghindar mengambil tanggung jawab untuk memenuhi potensinya.itu dilakukan dengan pemahaman bahwa kita tidak pernah bisa memuaskan diri kita,kita selalu kekurangan. Dengan kata lain,kita tidak boleh gagal untuk gagal.          Autentisitas dideskripsikan sebagai tujuan terapi eksistensial,namun sering kali disalahartikan sebagai konsep. Heidegger mendiskusikan autentisitas sebagai cara menjadi yang benar untuk eksistensi. Bukan tentang menjadi yang benar untuk diri inti mistis.ketika kita autentik, kita menyadari kodrat eksistensi-kebebasan,tanggung jawab,kematian,dan sebagainya. Kita adalah makhluk yang penuh pertimbangan, sadar apa makna keberadaan. Keadaan yang penuh pertimbangan ini tidak permanen namun lebih hanya terjadi sementara, misalnya ketika kehidupan kita atau orang dekat kita terancam karena sakit. Begitu ancaman itu dihilangkan, kita kembali ke keadaan yang tidak autentik. Sebagian besar kita adalah makhluk pelupa, kita hanya mengikuti arus dan mengabaikan mortalitas kita.mungkin melalui proses terapi, klien menjadi lebih sadar keauntentisitasannya,walaupun samar, namun akhirnya selalu klienlah yang memutuskan tujuan terapi.
 
b.      Metode
Eksistensial mengadopsi metode fenomenologis yang pertama kali dideskripsikan oleh Edmund Husserl (1859-1938). Sederhananya, metode ini tidak menganggap semua hal bisa diterima begitu saja, tetapi semua hal perlu dipertanyakan. Kita diminta menjadi naif, mengadopsi sikap terbuka, hampir mirip sikap seorang anak, yang tidak berasumsi bahwa kita tahu atau memahammi segala hal. Hal yang disebut ‘reduksi fenomenologis’ ini meminta kita menyampingkan pemahamman yang kita peroleh sebelumnya, menanggalkan prasangka dan bias dan menunjukan sikap kekaguman pada semua hal yang kita jumpai. Dengan mereduksi asumsi kita tentang apa pun yang kita selidiki, kita bisa memperoleh pemahamman yang lebih baik dan lebih dekat pada hal itu sendiri. Dengan begitu, kita meningkatkan pengetahuan tentang fenomena itu (objek investigasi kita) ketimbang hanya berkutat dengan gagasan kita tentang itu.
Para terapis ekistensial juga mengadopsi metode fenomenologis dalam pendekatan mereka pada konseling dan psikoterapi. Mereka akan berupaya menyampingkan praangka dan teori tentang teman sesama manusia merek, tentang hal yang membuat klien terganggu dan apa yang terbaik baginya. Dengan begitu, terapis tetap menyediakan bagi klien suatu cara demikian rupa sehingga terapi bisa mendengar keprihatinan klien dari perspektif klien ketimbang perspektif mereka. Dengan hanya tetap bersama apapun yang ditunjukan klien, dengan fenomena, dan tidak mencari penyebab atau penjelasan, terapis dan klien secara perlahan akan mendapatkan pemhaman yang lebih baik tentang pengalaman klien. Terapis akan mencoba mendeskripsikan apa yang dipahaminya sehingga kejelasan yang lebih besar tentang cara menjadi klien bisa dicapai.
 
c.       Hubungan Terapeutik
Seperti telah didiskusikan di atas, proposisi fundamental pemikiran Eksistensial adalah bahwa kita selalu berada dalam hubungan, kita hidup dalam ‘dunia dengan’. Dengan kata lain, semua yang kita lakukan, katakan, dan rasakan selalu terjadi dalam relasi dengan orang lain. Pemahaman ini membuat kita  mengakui bahwa di segala interaksi, kita selalu saling memngaruhi. Ketika terapis dan klien bertemu, mereka menjadi diri mereka dalam hubungannya satu sama lain. Yang diungkapkan klien kepada seorang terapis tidak selalu sama dengan pengungkapan mereka pada terapis terapis lain. Begitu juga dengan respons terapis dalam hubungannya dengan klien tertentu. Penekanan pada saling keterhubungan ini berarti bahwa kita tidak dipandang memiliki dunia internal yang tetap di dalam kepala kita, namun lebih sebagai orang yang selalu berinteraksi dengan orang lain. Dengan kata lain, siapa diri kita di saat tertentu tidak bersemayam di dalam diri individu, namun ada ‘di antara’, antara kita dan orang lain, di situlah terjadinya relasi.
 
d.      Sikap terapis
Terapis ekisitensial tidak menganggap dirinya lebih superior daripada kliennya dan ia menghormati kliennya sebagai sesama manusia. Kita semua sama, yaitu menghadapi kodrat yang sama. Terapis bukanlah orang yang tidak mengalami kesulitan saat ini dan tak juga menganggap dirinya lebih kebal dari problem di masa depan. Hal itu mungkin lebih masuk akal untuk mengatakan ‘orang-orang dalam terapi’ ketimbang terapis dan klien. Baik klien dan terapis akan diubah dengan hubungan yang mereka jalin. Pada saaat yang sama, sungguh bodoh jika diktakan bahwa tidak ada ketidaksamaan dalam relasi itu. Fokusnya pada permasalahan klien dan klien datang ke terapis untuk minta bantuan. Sementara itu, permasalahan terapis tidak diungkapkan. Sekalipun demikian, terapis akan berusaha membuat relasi yang sepadan di mana ia dan klien adalah mitrapengeksplorasi pengalaman klien.
Menurut Buhler dan Allen, para ahli  psikologi  humanistik memiliki orientasi bersama yang mencakup hal-hal berikut :
1.    Mengakui pentingnya pendekatan dari pribadi ke pribadi.
2.    Menyadari peran dari tanggung jawab terapis.
3.    Mengakui sifat timbal balik dari hubungan terapeutik.
4.    Berorientasi pada pertumbuhan.
5.    Menekankan keharusan terapis terlibat dengan klien sebagai suatu pribadi yang menyeluruh.
6.    Mengakui bahwa putusan-putusan dan pilihan-pilihan akhir terletak di tangan klien.
7.    Memandang terapis sebagai model, dalam arti bahwa terapis dengan gaya hidup dan pandangan humanistiknya tentang manusia bisa secara implisit menunjukkan kepada klien potensi bagi tindakan kreatif dan positif.
8.    Mengakui kebebasan klien untuk mengungkapkan pandangan dan untuk mengembangkan tujuan-tujuan dan nilainya sendiri.
9.    Bekerja ke arah mengurangi kebergantungan klien serta meningkatkan kebebasan klien.
 
e.       Intervensi
Diam mungkin adalah intervensi terpenting yang bisa dilakukan terpis karena hanya dalam diam kita bisa mendengar orang lain berkata. Namun demikian , bukan berarti terapis tidak bertanya sama sekali kepada klien, atau menanatang asumsi klien. Sikap fenomenologis berarti bahwa terapis tidak menganggap semua sebagai hal yang wajar, dan tidak berasumsi bahwa ia dan klien telah memahami hal yang dideskripsikan. Klien akan ditanya untuk mengklrifikasi secara tepat apa yang mereka bicarakan dan alami. Terapis mencoba mengusik asumsi-asumsi yang dianut untuk didiskusikan guna memunculkan pandangan dunia klien. Melalui proses ini, diharapkan hal yang benar-benar bermakna bagi klien bisa terungkap.
Terapis  tidak akan menafsirkan hal yang dikatakan klien sehingga membuat satu hal bisa bermkna lain. Alih-alih, terpis akan mencoba mendeskripsikan hal yang telah dipahaminya dari klien. Penafsiran harus tetap bersifat deskriptif. Suatu objek yang muncul di sebuah mimpi, misalnya sebuah kotak, tak akan ditafsirkan menjadi benda lain, misalnya rahim. Kotak itu akan diselidiki apa adanya sehingga maknanya bagi klien bisa diungkapkan lebih lengkap.
 
 
 
f.       Proses perubahan
Terapis eksistensial memberi klien ruang di mana klien bisa mengeksplorasi pengalamannya. Terapis akan berupaya mengembangkan kepercayaan dan hubungan yang saling peduli di mana klien merasa cukup aman untuk mengungkapkan dirinya. Usha terapis untuk menemukan sesutau tentang seperti apa kehidupan itu bagi klien, untuk mendapatkan kedekatan dengan penglaman klien. Melalui proses ini klien akan mulai menanyakan asumsinya yang sangat diyakini tentang dirinya dan hal yang mungkin baginya. Ia mungkin mulai menyadari bahwa ia punya lebih banyak pilihan daripada yang ia pikirkan sebelumnya dan akan mulai mengetahui tanggung jawabnya untuk dirinya sendiri. Terapis menyampingkan ide apa pun yang dipunyainya tentang hal apa yang baik bagi klien, karena klienlah yang memutuskan segala perubahan.
 
g.      Format Sesi Tipikal
Para terapis eksistensial sepakat bahwa tidak mungkin mendeskripsikan bentuk sesi yang tipikal karena setiap pertemuan terapeutik berbeda. Karena baik klien dan terapis adalah individu unik, mereka merespons lingkup terapeutik dengan cara mereka sendiri. Tidak ada aturan-aturan yang didefinisikan secara jelas dalam terapis eksistensial. Dalam kerangka filosofi eksistensial, tiap terapis bertanggung jawab mengembangkan gaya kerja mereka sendiri. Terapis eksistensial selalu meyerahkan kepada klien untuk menentukan agenda setiap sesi.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Daftar Pustaka
 
Corey, Gerald. 2013. Konseling dan Psikoterapi, Bandung: Refika Aditama.
Palmer, Stephen. 2011. Konseling dan Psikoterapi. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar