A. TEORI ANALISIS TRANSAKSIONAL
a.
Pandangan
tentang Sifat Manusia
AT berpijak pada asumsi asumsi
bahwa orang orang sanggup memahami putusan putusan masa lampaunya dan bahwa
orang orang mampu memilih untuk memutuskan ulang. AT meletakkan kepercayaan
pada kesanggupan individu untuk tampil di luar pola pola kebiasaan dan menyeleksi
tujuan tujuan dan tingkah laku baru.
Orang orang dipengaruhi oleh pengharapan pengharapan dan tuntutan
tuntutan dari orang orang lain yang berarti dan putusan putusan dininya pun
dibuat ketika hidup mereka sangat bergantung pada orang lain. Akan tetapi,
putusan putusan bisa tidak ada lagi, bisa dibuat putusan baru. Harris sepakat
bahwa manusia memiliki pilihan-pilihan dan tidak dibelenggu oleh masa
lampaunya. Meskipun percaya bahwa
memiliki kesanggupan untuk memilih, Berne merasa bahwa sedikit orang yang
sampai pada kesadaran akan perlunya menjadi otonom: manusia dilahirkan bebas,
tetapi salah satu hal yang paling pertama dipelajarinya adalah berbuat
sebagaimana diperintahkan dan dia menghabiskan sisa hidupnya dengan berbuat
seperti itu.
Terapis mengakui bahwa salah satu
alasan mengapa seorang berada dalam terapi adalah karena dia ingin memasuki
penrsengkokolan dan memainkan permainan dengan orang lain. Oleh karena itu,
dengan mengikuti terapi ini maka terdapat kesempatan yang baik bagi mereka untuk
menemukan kekuatan kekuatan internal dan kesangguapan kesanggupan untuk
menggunkan kebebasan dalam merancang ulang kehidupannya sendiri dengan cara
cara yang baru dan efektif. Pekerjaan analisis transaksional adalah membantu individu
dengan membuang penghalang bagi perkembangan emosional dan mental pasien, sehingga
membiarkan mereka tumbul sesuai arahnya masing –masing.
b.
Perwakilan
Ego
AT adalah suatu sistem terapi yang
berlandaskan teori kepribadian yang menggunakan tiga pola tingkah laku atau
perwakilan ego yang terpisah, yaitu orangtua, orang dewasa dan anak. Ego orang
tua adalah seperangkat perasaan, pikiran, sikap, dan perilaku yang mirip dengan
figur orang tua. Jika ego orang tua itu dialami kembali oleh kita, maka apa yang dibayangkan oleh
kita adalah perasaan-perasaan orang tua kita dalam suatu situasi, atau kita
merasa dan bertindak terhadap orang lain dengan cara yang sama dengan perasaan
dan tindakan orang tua kita terhadap diri kita. Ego orang tua brisi
perintah-perintah “harus” dan “semestinya”. Orang tua dalam diri kita bisa
“orang tua Pengasuhan” atau “orang tua pengontrol”. Orang tua pengasuh
dimanifestasikan sebagai simpati dan perhatian terhadap individu lain atau
diri. Orang tua pengontrol dimanisfestasikan
sebagai seperangkat aturan yang tampak sewenang-wenang.
Ego orang dewasa adalah pengolah
data dan informasi yang merupakan bagian objektif dari kepribadian, juga
menjadi bagian dari kepribadian yang mengetahui apa yang sedang terjadi. Ia
tidak emosional dan tidak menghakimi, tetapi menangani fakta-fakta dan
kenyataan eksternal. Berdasarkan informasi yang tersedia, ego orang dewasa
menghasilkan pemecahan yang paling baik bagi masalah tertentu.
Child ego state child adalah
seperangkat perasaan, pikiran, sikap dan pola perilaku yang merupakan
peninggalan kuno dan masa kanak-kanak seseorang. Berne menganggap bahwa kita
membawa seorang anak laki-laki atau perempuan kecil dalam diri kita yang merasa,
berpikir, bertindak, dan merespons seperti yang kita lakukan saat kita masih
anak-anak pada usia tertentu. “anak” yang ada dalam diri kita bisa berupa “anak
alamiah”, “profesor cilik”, atau berupa “anak yang disesuaikan”. Anak alamiah
adalah anak yang impulsif, terlatih spontan dan ekspresif. Profesor cilik
adalah kearifan yang: asli dari seorang anak. Ia manipulatif dan kreatif. Ia
adalah bagian dari ego anak yang intuitif, bagian yang bermain di atas
firasat-firasat. Berne menganggap child natural sebagai bagian kepribadian yang
paling berharga.
c.
Kebutuhan
Manusia akan Belaian
Orang orang ingin di belai secara fisik maupun emosional. Jika kebutuhan belaian tidak terpenuhi, cukup bukti yang menunujukan
bahwa mereka tidak berkembang secara sehat baik emosional maupun fisik. Belaian seseorang menentukan bagaimana orang itu berperilaku.
Menurut AT, kita seharusnya memahami bagaimana kita memperoleh belaian, belajar
untuk memperoleh belaian yang kita inginkan dan bertanggung jawabatas ganjaran
ganjaran atau hukuman hukuman. Belaian yang positif maka akan menyebabkan perkembangan pribadi yang sehat secara psikologis dan perasaan OK. Jika
belaian yang kita terima itu otentik dan bersumber pada posisi Saya OK-kamu OK
kita akan terpelihara baik.
AT memungut pandangan tentang motivasi manusia bahwa kebutuhan kebutuhan
dasar berkaitan langsung dengan tingkah laku sehari hari yang dapat diamati.
Sejumlah kebutuhan dasar mencakup haus akan belaian, haus akan struktur, haus
akan kesenangan, dan haus akan pengakuan. Teori AT menekan bahwa manusia
memiliki kebutuhan untuk mengadakan hubungan yang bisa dicapai dalam bentuknya
yang terbaik melalui keakraban. Harris (1967) menyatakan bahwa hubungan yang
akrab di antara dua orang bisa dianggap sebagai hubungan. Jadi salah satu teori
AT adalah dalam kerangka penyusunan waktu yang melibatkan berbagai cara
memperoleh belaian dari orang lain.
d.
Skenario-Skenario
Kehidupan dan Posisi-Posisi Psikologis Dasar
Skenario-skenario kehidupan adalah
ajaran-ajaran orang tua yang kita pelajari dan putusan-putusan awal yang dibuat
oleh kita sebagai anak, yang selanjutnya dibawa oleh kita sebagai orang dewasa.
Kita menerima pesan-pesan dan dengan demikian kita belajar dan menetapkan
tentang bagaimana kita pada usia dini. Pesan-pesan verbal dan non verbal orang
tua mengomunikasikan bagaimana mereka melihat kita dan bagaimana mereka
merasakan diri kita. Kita membuat putusan-putusan dini yang memberikan andil
pada pembentukan perasaan sebagai pemenang (perasaan OK) atau perasaan sebagai
orang yang kalah (perasaan tidak OK).
Perintah-perintah orang tua adalah
bagian dari skenario kehidupan kita yang mencakup “harus”, “semestinya,
“lakukan”, “jangan dilakukan”, dan
pengharapan-pengharapan orang tua. Kita mempelajari perintah-perintah itu pada
usia dini dan kita juga membuat putusan-putusan tentang bagaimana kita akan
merespon orang lain dan bagaimana kita merasakan harga diri kita. Dalam kehidupan dewasa banyak tingkah laku
kita yang tumbuh dari bagaimana kita “diskenariokan” dan dari hasil putusan-putusan
dini yang kita buat.
Berkaitan
dengan konsep-konsep skenario kehidupan, pesan-pesan dan perintah-perintah
orang tua, serta putusan-putusan dini itu adalah konsep dalam AT tentang empat
posisi dasar dalam hidup, yaitu: (1) “Saya OK – kamu OK” , (2) “Saya OK – Kamu
tidak OK”, (3) “Saya tidak OK – kamu OK”, (4) Saya tidak OK – kamu tidak OK”.
Masing-masing posisi itu berlandaskan putusan-putusan yang dibuat orang sebagai
hasil dari pengalaman dini di masa kanak-kanak. Jika seseorang telah membuat
suatu putusan, maka dia pada umumnya akan bertahan pada putusannya itu kecuali
jika ada campur tangan (terapi atau
kejadian tertentu) yang mengubahnya. Posisi yang sehat adalah posisi dengan
perasaan sebagai pemenang atau posisi saya OK – kamu OK. Dalam posisi tersebut,
dua orang merasa seperti pemenang dan bisa menjalin hubungan langsung yang
terbuka. Saya OK – kamu tidak OK – kamu tidak OK adalah posisi orang-orang yang
memproyeksikan masalah-masalahnya kepada orang lain dan mempersalahkan orang
lain. Ia adalah posisi yang arogan yang menjauhkan seseorang dari orang lain
dan mempertahankan seseorang dalam penyingkiran diri. Saya tidak OK – kamu OK
adalah posisi orang yang mengalami depresi, yang merasa tak kuasa dibanding
dengan orang lain dan yang cenderung menarik diri atau lebih suka memenuhi
keinginan orang lain ketimbang keinginan sendiri. Saya tidak OK - kamu tidak OK adalah posisi orang-orang yang
menyingkirkan semua harapan, yang kehilangan minat hidup dan melihat hidup
sebagai tidak mengandung harapan, yang kehilangan minat hidup dan melihat hidup
sebagai tidak mengandung harapan.
e.
Permainan
– Permainan yang Kita Mainkan
Para pendukung AT mendorong
orang-orang untuk mengenali dan memahami perwakilan-perwakilan ego-nya.
Alasannya adalah dengan mengakui ketiga perwakilan ego itu, orang-orang bisa
membebaskan diri dari putusan-putusan anak yang telah usang dan dari pesan-pesan
orang tua yang irasional yang menyulitkan kehidupan mereka. AT mengajari orang
bagian mana yang sebaiknya digunakan untuk membuat putusan-putusan yang penting
bagi kehidupannya. Di samping itu, para tokoh AT mengungkapkan bahwa
orang-orang bisa memahami dialog internalnya antara orang tua dan anak. Mereka
juga bisa mendengar dan memahami hubungan mereka dengan orang lain. Mereka bisa
sadar akan kapan mereka terus terang dan kapan mereka berbohong kepada orang
lain. Dengan menggunakan prinsip-prinsip AT, orang-orang bisa sadar akan jenis
belaian yang diperolehnya, dan mereka bisa mengubah respon-respon belaian dari
negatif ke positif. Mereka bisa memberi belaian yang juga mereka butuhkan. Jika
mereka enggan melakukannya, mereka bisa memastikan bahwa orang tua pengkritik
mereka mendikte mereka agar “jangan”
tergila-gila pada diri sendiri. Prndek kata, salah satu sasaran AT adalah membantu orang-orang agar memahami
sifat transaksi-transaksi mereka dengan orang lain sehingga mereka bisa
merespon orang lain secara langsung, menyeluruh dan akrab. Dari situ
kecenderungan pada permaianan bisa dikurangi.
AT memandang permainan-permainan
sebagai penukaran belaian-belaian yang mengakibatkan berlarut-larutnya
perasaan-perasaan tidak enak. Permainan-permainan boleh jadi memperlihatkan
keakraban. Akan tetapi orang-orang yang terlibat dalam transaksi-transaksi
memainkan permainan menciptakan jarak di antara mereka sendiri dengan
mempersonalkan pasangannya. Transaksi itu sekurang-kurangnya melibatkan dua
orang yang memainkan permainan. Masalah-masalah yang ditimbulkan oleh
permainan-permainan itu adalah motif yang tersembunyi tetap terpendam dan para
pemain memperoleh perasaan tidak OK.
f.
Tipe-tipe
Transaksi
Selama transaksi, salah satu ego state akan diberi energi atau dikateksis
secara dominan. Jadi, transaksi terjadi di antara ego states, dan di tingkat paling sederhana, analisis transaksional
melibatkan diagnosis ego states yang
terlibat dalam pertukaran stimulus dan respons. Ada tiga tipe utama transaksi: complementary, crossed, dan ulterior.
1.
Transaksi
Komplementer (Complementary Transactions)
Transaksi
komplementer adalah transaksi yang arah transaksi stimulus-responsnya
konsisten, misalnya mendiskusikan kesulitan dunia (Parent-Parent), berbicara tentang pekerjaa (Adult-Adult), atau bersenang-senang bersama (Child-Child). Cara lain untuk mengatakannya adalah bahwa transaksi
komplementer adalah transaksi yang orangnya menerima respons dari ego state yang ditujuannya.
2.
Transaksi
Menyilang (Crossed Transaction)
Dalam transaksi menyilang, respons
transaksionalnya (a) datang dari ego
state yang berbeda dengan ego state yang
dituju, dan/atau (b) mengarah ke ego
state yang tidak mengirimkan stimulus awalnya. Aturan kedua atau aturan
kebalikan komunikasi adalah komunikasi tidak berlanjut ketika sebuah transaksi
menyilang terjadi. Faktanya, putusnya komunikasi itu mungkin hanya sementara.
Akan tetapi, pada ekstrem sebaliknya, komunikasi bisa sepenuhnya terputus.
3.
Transaksi
Tersembunyi
Ulterior communication
(komunikasi tersembunyi) adalah di mana, tertutup di balik komunikasi terbuka
dan secara sosial lebih dapat diterima, seorang individu terlibat dalam
komunikasi yang mendasari dan secara sosial lebih berisiko. Cara lain untuk
melihat ini adalah di banyak interaksi manusia, ada agenda sosial psikologis
maupun sosial yang mendasari. Permainan psikologis, menurut definisinya,
melibatkan transaksi tersembunyi. Transaksi tersembunyi dapat terjadi dalam
situasi sehari-hari.
B.
TERAPI
a.
Tujuan
Terapi
Tujuan terapi AT adalah membantu klien dalam
membuat putusan putusan baru yang menyangkut tingkah lakunya sekarang dan arah
hidupnya. Sasarannya adalah mendorong klien agar menyadari bahwa kebebasan
dirinya dalam memilih telah dibatasi oleh putusan putusan dini mengenai posisi
hidupnya dan oleh pilihan terhadap cara cara hidup.
Harris (1967) tujuan AT untuk membantu individu individu agar memiliki kebebsan memilih, kebebasan mengubah keinginan, kebebasan mengubah respon respon terhadap stimulus stimulus yang lazim maupun
baru. Harris (1967) menyatakan tujuan pemberian treatmen adalah menyembuhkan
gejala yang timbul dan metode treatmen adalah membebasakan ego orang dewasa sehingga bisa mengalami kebebasan memilih dan penciptaan
pilihan pilihan baru diatas dan diseberang pengaruh pengaruh masa lampau yang
membatasi. Menurut Harris, hunungan terapeutik di capai dengan mengajarkan
kepada klien dasar dasar ego orangtua, orang dewasa, dan ego anak. Para klien
dalam setting kelompok itu belajar bagaimana menyadari, menangani ketiga ego selama
ego ego tersebut muncul dalam transaksi transaksi dalam kelompok.
Berne (1964) menyatakan bahwa tujuan utama AT pencapaian otonomi yang diwujudkan oleh penemuan kembali tiga
karakteristik, yaitu: kesadaran, spontanitas dan keakraban. Analisis transaksional
berusaha membantu klien untuk mendapat sikap hidup “I am OK-You are OK”. Stewart (1996a) melihat tujuan-tujuan tersebut
sebagai tahap-tahap progresif kea rah penyembuhan:
- Social control:
Meskipun masih merasa distress (hendaya), klien dapat mengontrol
gejala-gejalanya dalam berinteraksi dengan orang lain;
- Symptomatic
relief: Membaik, atau “mengalami kemajuan”
, yang dianggap Berne menjadikan klien “katak-katak yang merasa nyaman”.
- Transference cure:
Di sini klien keluar dari skrip mereka selama mereka dapat menjaga
terapisnya tetap berada didekatnya, secara harfiah atau secara mental.
- Aotonomy: Klien
“keluar dari kulit kodoknya dan sekali lagi meneruskan perkembangannya
sebagai pangeran atau putri raja terinterupsi” (Barne, 1966: 290). Ego
state Adult klien mengambil alih peran terapis ketika klien mencapai
otonomi. Otonomi mengacu pada kapasitas untuk perilaku “nonskrip” tanpa
jadwal waktu tertentu, yang dikembangkan lebih kemudian dalam hidup, dan tidak
di bawah pengaruh orangtua” (Barne, 1972: 418)
Pencapaian otonomi melibatkan
mendapatkan kembali ketiga kapasitas sikap OK yang positif, yaitu: kesadaran,
spontanitas, dan intimasi.
·
Kesadaran:
Awareneess (kesadaran) berarti kapasitas untuk
melihat dan mendengar langsung dan tidak dengan cara seperti yang digunakan
ketika individu dibesarkan. Hal ini berarti hidup dalam here-and-now, terbuka
terhadap berbagai sensasi yang datang dari lingkungan dengan cara seperti yang
dilakukan oleh seorang pelukis, pujangga, atau musisi;
·
Spontanitas:
Spontanitas berarti kapasitas untuk merasakan secara langsung dan
mengekspresikan perasaan secara langsung dan tidak dengan cara seperti yang
digunakan ketika individu dibesarkan. Orang yang spontan bias memilih perasaan:
perasaan Parent, Adult, atau Child;
·
Intimasi:
Intimasi berarti kapasitas untuk berhubungan dengan orang atau orang lain
secara sadar, spontan, penuh kasih, dan bebas-permainan. Berne menganggap
intimasi pada dasarnya adalah fungsi Child
yang alamiah dan murni.
Analisis transaksional mengambil pendekatan
kontraktual untuk terapinya. Terapis dan klien menegosiasikan sebuah kontrak
yang menentukan tujuan penanganan dan tanggung jawab bersama dalam mencapai
tujuan tersebut.
b.
Relasi
Terapeutik
Analisi transaksional memberikan
hubungan yang suportif dan nurturing
yang kondusif bagi klien yang memikul tanggung jawab pribadi lebih besar atas
hidupnya. Terapis memberikan izin kepada klien untuk memainkan peran aktif
dalam terapi. Terapis mendukung klien pada saat mereka mengungkapkan dan
menganalisis dirinya secara lebih lengkap dan mengujicobakan pola-pola
perasaan, pemikiran dan perilaku yang lebih Adult.
Hubungan terapis-klien mirip dengan
hubungan pengajar-pembelajar yang demokratis. Pada awal terapi, terapis dan klien
menetapkan aturan-aturan dasar dan menetukan elemen-elemen kontrak kerja dan
kontrak belajar mereka. Terapis melatih klien tentang keterampilan menganalisis
ego state, transaksi, permainan, dan skrip. Di samping itu, terapis mendorong
dan membantu klien untuk mengidentifikasi opsi-opsi Adult untuk menghadapi berbagai orang, masalah, dan situasi dalam
hidupnya.
c.
Fungsi
dan Peran Terapis
Analisis transaksional dirancang
untuk memperoleh pemahaman emosoional maupun pemahaman intelektual. Akan
tetapi, dengan berfokus pada aspek-aspek rasional, peran terapis sebagian besar
adalah memberikan perhatian pada masalah-masalah didaktik dan emosional. Harris
(dalam Corey, 2010) melihat peran terapis sebagai seorang “guru, pelatih dan
nara sumber dengan penekanan yang kuat pada keterlibatan”. Sebagai guru,
terapis menerangkan konsep-konsep seperti analisis struktural, analisis
transaksional, analisis skenario, dan analisis permainan. Terapis membantu
klien dalam menemukan kondisi-kondisi masa lampau yang merugikan yang membuat
putusan-putusan dini tertentu, memungut rencana-rencana hidup, dan
mengembangkan strategi-strategi yang telah digunakan dalam menghadapi orang
lain yang sekarang barangkali ingin dipertimbangkannya. Terapis membantu klien
memperoleh kesadaran yang lebih realistis dan mencari alternatif-alternatif
guna menjalani kehidupan yang lebih otonom.
Tugas terapis pada dasarnya dalah
membantu klien agar memperoleh perangkat yang diperlukan bagi perubahan.
Terapis mendorong dan mengajari klien agar lebih mempercayai ego orang
dewasanya sendiri ketimbang ego orang dewasa terapis dalam memeriksa putusan-putusan lamanya dan
dalam membuat putusan-putusan baru.
d.
Pengalaman
Klien dalam Terapi
Salah satu persyaratan dasar untuk
menjadi klien analisis transaksional adalah memiliki kesanggupan dan kesediaan
untuk memahami dan menerima suatu kontak, terapi. Kontak treatment berisi suatu
pernyataan spesifik dan kongkret tentang sasaran-sasaran yang hendak dicapai
oleh klien dan kriteria untuk menentukan bagaimana dan kapan sasaran-sasaran
itu dicapai secara efektif. Kontrak menyiratkan bahwa klien adalah agen yang
aktif dalam proses terapeutik. Sejak permulaan, klien menjelaskan dan
menyatakan tujuan-tujuan terapinya sendiri dalam kontrak. Untuk mencapai
tujuan-tujuan itu, klien dan terapis bisa merancang “tugas-tugas” yang akan
dilaksanakan selama pertemuan terapi dan dalam kehidupan klien sehari-hari.
e.
Hubungan
antara Terapis dan Klien
Analisis transaksional adalah suatu
bentuk terapi berdasatkan kontrak. Suatu kontrak dalam analisis transaksional
menyiratkan bahwa seseorang akan berubah. Kontrak haruslah spesifik, ditetapkan
secara jelas, dan dinyatakan secra ringkas. Kontrak menyatakan apa yang akan
dilakukan oleh klien, bagaimana klien akan melangkah kearah tujuan-tujuan yang
akan ditetapkannya, dan kapan klien mengetahui saat kontraknya habis.
Pendekatan kontrak dengan jelas menyiaratkan suatu tanggung jawab bersama.
Dengan berbagi tanggung jawab bersama terapis, klien menjadi rekan dalam
treatmennya. Terapis tidak melakukan sesuatu kepada klien sementara klien itu
sendiri berlaku pasif. Akan tetapi, baik terapis maupun klien aktif dalam
hubungan itu.
C.
INTERVESI
TERAPEUTIK
Prosedur prosedur
terpeutik
Proses proses, prosedur prosedur dan teknik
teknik yang umum digunakan dalam praktek
Analisi Transaksional. Bisa diterapkan individual maupun dalam kelompok.
a. Analisis struktural
Analisi structural adalah alat yang
bisa membantu klien agar menjadi sadar atas isi dan fungsi ego orang tua,ego
orang dewasa ,dan ego anaknya. Analisis structural membantu klien dalam
mengubah pola- pola yang dirasakan menghambat. Ia juga membantu klien dalam
menemukan perwakilan ego yang mana menjadi landasan tingkah yang mana yang
menjadi landasan tingkah lakunya. Dengan penemuan itu, klien bisa
memperhitungkan pilihan pilihannya.
b. Analisis Transaksional
Analisis transaksional pada
dasarnya adalah suatu penjabaran atas analisis yang dilakukan dan dikatakan
oleh orang-orang terhadap satu sama lain. Apapun yang terjadi, orang-orang
melibatkan suatu transaksi di antara perwakilan-perwakilan ego mereka. Ketika
pesan-pesan disampaikan, diharapkan ada respons. Ada tiga tipe transaksi, yaitu
komplementer, menyilang dan terselubung. Transaksi-transaksi komplementer
terjadi apabila suatu pesan yang disampaikan oleh suatu perwakilan ego
seseorang memperoleh respons yang diprakirakan dari perwakilan ego seseorang
yang lainnya. Sebagai contoh adalah transaksi anak-anak yang suka bermain-main.
Transaksi menyilang terjadi apabila respon yang tidak diharapkan diberikan
kepada suatu pesan yang disampaikan oleh seseorang. Transaksi terselubung yang
merupakan suatu transaksi yang kompleks, terjadi apabila lebih dari satu
perwakilan ego terlibat serta seseorang menyampaikan pesan terselubung kepada
seseorang yang lainnya.
c. Kursi Kosong
Kursi kosong merupakan suatu prosedur yang sesuai
analisis struktural. Misalnya seorang klien mengalami kesulitan dalam
menghadapi boss nya (ego orang tua). Klien diminta untuk membayangkan bahwa
seseorang tengah duduk di sebuah kursi di hadapannya dan mengajaknya berdialog.
Prosedur ini memberikan kesempatan kepada klien untuk menyatakan
pikiran-pikiran, perasaan-perasaan, dan sikap-sikapnya selama dia menjalankan
peran-peran perwakilan-perwakilan ego-nya. Klien tidak hanya mempertajam
kesadarannya, dalam kasus ini ego orang tuanya, tetapi juga kedua ego lainnya
(anak dan orang dewasa) yang biasanya memiliki ciri-ciri tertentu dalam
hubungannya dengan keadaan yang dibayangkan.
d. Permainan peran
Prosedur prosedur At bisa
digabungkan dengan teknik teknik psikodrama dan permainan peran. Dalam terapi
kelompok, situasi situasi permainan peran bisa melibatkan para anggota lain. Seorang
anggota kelompok memainkan peran sebagai perwakilan ego yang menjadi sumber
masalah bagi seorang anggota lainnya dan ia berbicara kepada anggota lain
tersebut. para anggota lain pun menjalankan perannya masing masing dan
mencobanya di luar terapi.
e. Percontohan keluarga
Klien diminta untuk membayangkan
suatu adegan yang melibatkan sebanyak mungkin orang yang berpengaruh dimasa
lampau, termasuk dirinya sendiri. Klien menjadi sutradara, produser, dan actor.
Dia menetapkan situasi dan menggunakan para anggota kelompok sebagai pemeran
para anggota keluarga (orang orang berpengaruh) serta menempatkan mereka pada
situasi yang dibayangkan.
f. Analisis upacara, hiburan, dan
permainan
Analisis
transaksi-transaksi menckup pengenalan terhadap upacara upacara (ritual
ritual), hiburan hiburan dan permainan permainan yang digunakan dalam menyusun
waktunya. Penyusuana waktu adalah bahan yang penting bagi diskusi dan
pemeriksaan karena ia merefleksikan putusan putusan tentang bagaimana
menjalankan transaksi dengan orang lain dan memperoleh belaian. Orang yang
menyusun waktunya terutama dengan upacara upacara dan hiburan hiburan boleh
jadi mengalai kekurangan balaian sehingga dia kurang akrab dalam transaksinya
dengan orang lain.
g. Analisis permaian dan ketengangan
Analisis permainana permainan dan
ketegangan ketegangan adalah aspek yang penting bagi peahaman sifat transaksi
dengan orang lai. Borne (1964) menjabarkan permaianan sebagai ‘’ rangkaian
transaksi terselubung komplementer yang terus berlangung menuju hasil yang didefinisikan
dengan baik dan dapat diperkirakan’’. Hasil dari kebanyakan permainan adalah
perasaan ‘’ tidak enak’’ yang dialami oleh pemain..
h. Analisis skenario
Scenario kehidupan atau rencana
seumur hidup , yang berlandaskan serangkaian putusan dan adaptasi, sangat mirip
dengan pementasan sandiwara. Orang orang mengalami peristiwa peristiwa hidup
tertentu, menerima dan mempelajari peran
peran tertentu, mengulang ulang dan menampilkan peran peran itu sesuai dengan
scenario. Ada casting watak, adegan adegan, dialog dialog, plot plot dan aksi
aksi yang menuju pada akhir cerita. Scenario kehidupan psokologis menggariskan
kemana seseorang akan menuju dalam hidupnya dan apa terdapat dalam scenario
kehidupan itu adalah sifat menggerakannya yang mendorong seseorang untuk
memainkannya.
Pembuatan scenario mula mula
terjadi secara nonverbal pada masa kanak kanak melalui pesan pesan dari orang
tua. Selama bertahun tahun pertama perkembangan, seseorang belajar tentang
nilai dirinya sebagai pribadi dan tempat dirinya dalam kehidupan. Selanjutnya,
pembuatan scenario berjalan melalui cara cara langsung maupun tidak. Analisis
scenario bisa dilaksanakan dengan menggunkan suatu daftar scenario yang berisi
item item yang berkaitan dengan posisi hidup, penipuan-penipuan, permainan
permainan yang kesemuannya merupakan komponen kompone fungsional utama pada
scenario kehidupan individu.
Intervensi dan
Interposisi Dasar
Intervensi
1. Interogasi:
Terapis menggunakan interogasi terutama untuk mengklarifikasi, memikirkan, dan mendokumentasikan
poin-poin tertentu yang mungkin berguna secara klinis di masa yang akan dating.
Contoh: “Apakah Anda benar-benar mencuri uang itu?” terapis yang mengajukan
terlalu banyak pertanyaaan mungkin akan menemukan kliennya senang memainkan
“Riwayat Psikiatrik”.
2. Spesifikasi:
Spesifikasi dimaksudkan untuk membetulkan sesuatu dalam pikiran terapis dank
lien sehingga kelak dapat dapat dibawa ke dalam terapi. Contoh: “Jadi Anda
selalu ingin membeli barang-barang yang lebih mahal”.
3. Konfrontasi:
dalam konfrontasi terapis menggunakan informasi yang sebelumnya di munculkan
dan disebutkan untuk menunjukkan sebuah ketidakkonsistenan dan dengan demikian
akan mengacaukan ego state Parent, Adult,
dan Child klien.
4. Penjelasan:
terapis menggunakan explanation (penjelasan)
untuk memperkuat, mendekontaminasi, atau mengubah orientasi ego state Adult klien. Contoh: “Jadi
Anda lihat ego state Child dalam diri
Anda sedang mengancam untuk menjadi aktif, dan jika itu terjadi, ego state Adult akan lenyap dan ego state Parent Anda akan mengambil
alih dan ketika itulah Anda membentuk anak-anak.
Interposisi
1.
Ilustrasi: Ilustrasi adalah onekdot, similes atau
perbandingan yang mengikuti sebuah konfrontasi yang sukses dengan maksud
memperbuatnya dan melunakkan efek
susulan (efek stimulus yang muncul
setelah stimulusnya menghilang ) yang tidak diinginkan. Ilustrasi adalah upaya
terapis untuk menempatkan sesuatu diantara ego states Adult dan ego states
lainnya yang membuatnya sulit menerobos masuk ke dalam kegiatan Parent atau
Child.
2.
Konfirmasi: jika klien memberikan bukti
konfirmatorik setelah konfrontasi, terapis dapat memanfaatkan konfirmasi untuk
menstabilkan Adult klien. Sebagai contoh, jika klien mengatakan “saya
benar-benar tidak bisa—Oh, maksudnya, saya tidak mau melakukannya” terapis
segera mengonfirmasi kesadaran diri klien yang lebih tinggi itu (Dusay &
Dusay, 1989: 441).
3.
Interpretasi: terapis menggunakan
intervensi dan interposisi sebelumnya yang objek primernya mengateksi dan
mendekontaminasi ego state Adult klien.
4.
Kristalisasi: analisis transaksional
bermaksud membawa klien ke titik di mana
pernyataan kristalisasi dari terapis efektif. Kristalisasi adalah pernyataan
posisi klien dari Adult terapis kepada Adult klien. Contoh kristalisasi adalah:
“Jadi sekarang Anda dalam posisi menghentikan permainan kalau Anda
menginginkannya.”
Penerapan
pada Kelompok
Konsep-konsep dan teknik-teknik
analisis transaksional cocok terutama untuk situasi-situasi kelompok. Analisis
transaksional pada mulanya direncanakan sebagai suatu bentuk treatmen kelompok
dan prosedur-prosedur terapeutiknya memberikan hasil dalam setting kelompok.
Dalam setting kelompok, orang-orang bisa mengamati perubahan orang lain yang
memberikan kepada mereka model-model peningkatan kebebasan memilih. Mereka
menjadi paham atas struktur dan fungsi kepribadian mereka sendiri serta belajar
bagaimana bertransaksi dengan orang lain. Mereka dengan cepat bisa mengenali
permainan-permainan yang mereka mainkan dan skenario-skenario yang mereka
perankan. Mereka mampu memusatkan perhatian
pada putusan-putusan dininya yang boleh jadi belum pernah ditelaahnya secara
cermat.
Harris (dalam Corey, 2010) sepakat bahwa
treatment atas individu-individu dalam kelompok adalah metode memilih oleh
analisis-analisis transaksional. Ia memandang fase permulaan kelompok analisis
transaksional sebagai suatu proses mengajar dan belajar serta meletakan
kepentingannya pada peran didaktis terapis semangat dan kemampuannya sebagai
pengajar dan kesiagaannya dalam mengikuti setiap komunikasi atau isyarat dalam
kelompok, beik verbal maupun non-verbal. Ia juga membahas beberapa keuntungan
yang bisa diperoleh dari pendekatan kelompok diantaranya: (1) berbagai cara ego
orang tua mewujudkan dirinya dalam transaksi-transaksi bisa diamati. (2)
karakteristik-karakteristik ego anak pada masing-masing individu dalam kelompok
bisa dialami. (3) orang-orang bisa dialami dalam suatu lingkungan yang alamiah,
yang ditandai oleh keterlibatan dengan orang-orang lain. (4) konfrontasi
permainan-permainan yang timbal balik bisa muncul secara wajar. (5) para klien
bergerak dan membaik lebih cepat dalam treatment kelompok.
DAFTAR PUSTAKA
Corey, Gerald. 2013. Teori dan
Praktek Koseling dan Psikoterapi. Bandung: Reflika Aditama.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar