Kamis, 24 Juli 2014

Analisis Transaksional

A.  TEORI ANALISIS TRANSAKSIONAL
a.      Pandangan tentang Sifat Manusia
AT berpijak pada asumsi asumsi bahwa orang orang sanggup memahami putusan putusan masa lampaunya dan bahwa orang orang mampu memilih untuk memutuskan ulang. AT meletakkan kepercayaan pada kesanggupan individu untuk tampil di luar pola pola kebiasaan dan menyeleksi tujuan tujuan dan tingkah laku baru.  Orang orang dipengaruhi oleh pengharapan pengharapan dan tuntutan tuntutan dari orang orang lain yang berarti dan putusan putusan dininya pun dibuat ketika hidup mereka sangat bergantung pada orang lain. Akan tetapi, putusan putusan bisa tidak ada lagi, bisa dibuat putusan baru. Harris sepakat bahwa manusia memiliki pilihan-pilihan dan tidak dibelenggu oleh masa lampaunya.  Meskipun percaya bahwa memiliki kesanggupan untuk memilih, Berne merasa bahwa sedikit orang yang sampai pada kesadaran akan perlunya menjadi otonom: manusia dilahirkan bebas, tetapi salah satu hal yang paling pertama dipelajarinya adalah berbuat sebagaimana diperintahkan dan dia menghabiskan sisa hidupnya dengan berbuat seperti itu.
Terapis mengakui bahwa salah satu alasan mengapa seorang berada dalam terapi adalah karena dia ingin memasuki penrsengkokolan dan memainkan permainan dengan orang lain. Oleh karena itu, dengan mengikuti terapi ini maka terdapat kesempatan yang baik bagi mereka untuk menemukan kekuatan kekuatan internal dan kesangguapan kesanggupan untuk menggunkan kebebasan dalam merancang ulang kehidupannya sendiri dengan cara cara yang baru dan efektif. Pekerjaan analisis transaksional adalah membantu individu dengan membuang penghalang bagi perkembangan emosional dan mental pasien, sehingga membiarkan mereka tumbul sesuai arahnya masing –masing.
b.      Perwakilan Ego
AT adalah suatu sistem terapi yang berlandaskan teori kepribadian yang menggunakan tiga pola tingkah laku atau perwakilan ego yang terpisah, yaitu orangtua, orang dewasa dan anak. Ego orang tua adalah seperangkat perasaan, pikiran, sikap, dan perilaku yang mirip dengan figur orang tua. Jika ego orang tua itu dialami kembali  oleh kita, maka apa yang dibayangkan oleh kita adalah perasaan-perasaan orang tua kita dalam suatu situasi, atau kita merasa dan bertindak terhadap orang lain dengan cara yang sama dengan perasaan dan tindakan orang tua kita terhadap diri kita. Ego orang tua brisi perintah-perintah “harus” dan “semestinya”. Orang tua dalam diri kita bisa “orang tua Pengasuhan” atau “orang tua pengontrol”. Orang tua pengasuh dimanifestasikan sebagai simpati dan perhatian terhadap individu lain atau diri. Orang tua pengontrol dimanisfestasikan  sebagai seperangkat aturan yang tampak sewenang-wenang.
Ego orang dewasa adalah pengolah data dan informasi yang merupakan bagian objektif dari kepribadian, juga menjadi bagian dari kepribadian yang mengetahui apa yang sedang terjadi. Ia tidak emosional dan tidak menghakimi, tetapi menangani fakta-fakta dan kenyataan eksternal. Berdasarkan informasi yang tersedia, ego orang dewasa menghasilkan pemecahan yang paling baik bagi masalah tertentu.
Child ego state child adalah seperangkat perasaan, pikiran, sikap dan pola perilaku yang merupakan peninggalan kuno dan masa kanak-kanak seseorang. Berne menganggap bahwa kita membawa seorang anak laki-laki atau perempuan kecil dalam diri kita yang merasa, berpikir, bertindak, dan merespons seperti yang kita lakukan saat kita masih anak-anak pada usia tertentu. “anak” yang ada dalam diri kita bisa berupa “anak alamiah”, “profesor cilik”, atau berupa “anak yang disesuaikan”. Anak alamiah adalah anak yang impulsif, terlatih spontan dan ekspresif. Profesor cilik adalah kearifan yang: asli dari seorang anak. Ia manipulatif dan kreatif. Ia adalah bagian dari ego anak yang intuitif, bagian yang bermain di atas firasat-firasat. Berne menganggap child natural sebagai bagian kepribadian yang paling berharga.
c.       Kebutuhan Manusia akan Belaian
Orang orang ingin di belai secara fisik maupun emosional. Jika kebutuhan belaian tidak terpenuhi, cukup bukti yang menunujukan bahwa mereka tidak berkembang secara sehat baik emosional maupun fisik. Belaian seseorang menentukan bagaimana orang itu berperilaku. Menurut AT, kita seharusnya memahami bagaimana kita memperoleh belaian, belajar untuk memperoleh belaian yang kita inginkan dan bertanggung jawabatas ganjaran ganjaran atau hukuman hukuman. Belaian yang positif maka akan menyebabkan perkembangan pribadi yang sehat secara psikologis dan perasaan OK. Jika belaian yang kita terima itu otentik dan bersumber pada posisi Saya OK-kamu OK kita akan terpelihara baik.
AT memungut pandangan tentang motivasi manusia bahwa kebutuhan kebutuhan dasar berkaitan langsung dengan tingkah laku sehari hari yang dapat diamati. Sejumlah kebutuhan dasar mencakup haus akan belaian, haus akan struktur, haus akan kesenangan, dan haus akan pengakuan. Teori AT menekan bahwa manusia memiliki kebutuhan untuk mengadakan hubungan yang bisa dicapai dalam bentuknya yang terbaik melalui keakraban. Harris (1967) menyatakan bahwa hubungan yang akrab di antara dua orang bisa dianggap sebagai hubungan. Jadi salah satu teori AT adalah dalam kerangka penyusunan waktu yang melibatkan berbagai cara memperoleh belaian dari orang lain.
d.      Skenario-Skenario Kehidupan dan Posisi-Posisi Psikologis Dasar
Skenario-skenario kehidupan adalah ajaran-ajaran orang tua yang kita pelajari dan putusan-putusan awal yang dibuat oleh kita sebagai anak, yang selanjutnya dibawa oleh kita sebagai orang dewasa. Kita menerima pesan-pesan dan dengan demikian kita belajar dan menetapkan tentang bagaimana kita pada usia dini. Pesan-pesan verbal dan non verbal orang tua mengomunikasikan bagaimana mereka melihat kita dan bagaimana mereka merasakan diri kita. Kita membuat putusan-putusan dini yang memberikan andil pada pembentukan perasaan sebagai pemenang (perasaan OK) atau perasaan sebagai orang yang kalah (perasaan tidak OK).
Perintah-perintah orang tua adalah bagian dari skenario kehidupan kita yang mencakup “harus”, “semestinya, “lakukan”, “jangan dilakukan”,  dan pengharapan-pengharapan orang tua. Kita mempelajari perintah-perintah itu pada usia dini dan kita juga membuat putusan-putusan tentang bagaimana kita akan merespon orang lain dan bagaimana kita merasakan harga diri kita.  Dalam kehidupan dewasa banyak tingkah laku kita yang tumbuh dari bagaimana kita “diskenariokan” dan dari hasil putusan-putusan dini yang kita buat.
       Berkaitan dengan konsep-konsep skenario kehidupan, pesan-pesan dan perintah-perintah orang tua, serta putusan-putusan dini itu adalah konsep dalam AT tentang empat posisi dasar dalam hidup, yaitu: (1) “Saya OK – kamu OK” , (2) “Saya OK – Kamu tidak OK”, (3) “Saya tidak OK – kamu OK”, (4) Saya tidak OK – kamu tidak OK”. Masing-masing posisi itu berlandaskan putusan-putusan yang dibuat orang sebagai hasil dari pengalaman dini di masa kanak-kanak. Jika seseorang telah membuat suatu putusan, maka dia pada umumnya akan bertahan pada putusannya itu kecuali jika ada campur tangan  (terapi atau kejadian tertentu) yang mengubahnya. Posisi yang sehat adalah posisi dengan perasaan sebagai pemenang atau posisi saya OK – kamu OK. Dalam posisi tersebut, dua orang merasa seperti pemenang dan bisa menjalin hubungan langsung yang terbuka. Saya OK – kamu tidak OK – kamu tidak OK adalah posisi orang-orang yang memproyeksikan masalah-masalahnya kepada orang lain dan mempersalahkan orang lain. Ia adalah posisi yang arogan yang menjauhkan seseorang dari orang lain dan mempertahankan seseorang dalam penyingkiran diri. Saya tidak OK – kamu OK adalah posisi orang yang mengalami depresi, yang merasa tak kuasa dibanding dengan orang lain dan yang cenderung menarik diri atau lebih suka memenuhi keinginan orang lain ketimbang keinginan sendiri. Saya tidak OK -  kamu tidak OK adalah posisi orang-orang yang menyingkirkan semua harapan, yang kehilangan minat hidup dan melihat hidup sebagai tidak mengandung harapan, yang kehilangan minat hidup dan melihat hidup sebagai tidak mengandung harapan.
e.       Permainan – Permainan yang Kita Mainkan
Para pendukung AT mendorong orang-orang untuk mengenali dan memahami perwakilan-perwakilan ego-nya. Alasannya adalah dengan mengakui ketiga perwakilan ego itu, orang-orang bisa membebaskan diri dari putusan-putusan anak yang telah usang dan dari pesan-pesan orang tua yang irasional yang menyulitkan kehidupan mereka. AT mengajari orang bagian mana yang sebaiknya digunakan untuk membuat putusan-putusan yang penting bagi kehidupannya. Di samping itu, para tokoh AT mengungkapkan bahwa orang-orang bisa memahami dialog internalnya antara orang tua dan anak. Mereka juga bisa mendengar dan memahami hubungan mereka dengan orang lain. Mereka bisa sadar akan kapan mereka terus terang dan kapan mereka berbohong kepada orang lain. Dengan menggunakan prinsip-prinsip AT, orang-orang bisa sadar akan jenis belaian yang diperolehnya, dan mereka bisa mengubah respon-respon belaian dari negatif ke positif. Mereka bisa memberi belaian yang juga mereka butuhkan. Jika mereka enggan melakukannya, mereka bisa memastikan bahwa orang tua pengkritik mereka mendikte mereka  agar “jangan” tergila-gila pada diri sendiri. Prndek kata, salah satu sasaran  AT adalah membantu orang-orang agar memahami sifat transaksi-transaksi mereka dengan orang lain sehingga mereka bisa merespon orang lain secara langsung, menyeluruh dan akrab. Dari situ kecenderungan pada permaianan bisa dikurangi.
AT memandang permainan-permainan sebagai penukaran belaian-belaian yang mengakibatkan berlarut-larutnya perasaan-perasaan tidak enak. Permainan-permainan boleh jadi memperlihatkan keakraban. Akan tetapi orang-orang yang terlibat dalam transaksi-transaksi memainkan permainan menciptakan jarak di antara mereka sendiri dengan mempersonalkan pasangannya. Transaksi itu sekurang-kurangnya melibatkan dua orang yang memainkan permainan. Masalah-masalah yang ditimbulkan oleh permainan-permainan itu adalah motif yang tersembunyi tetap terpendam dan para pemain memperoleh perasaan tidak OK.
f.       Tipe-tipe Transaksi
Selama transaksi, salah satu ego state akan diberi energi atau dikateksis secara dominan. Jadi, transaksi terjadi di antara ego states, dan di tingkat paling sederhana, analisis transaksional melibatkan diagnosis ego states yang terlibat dalam pertukaran stimulus dan respons. Ada tiga tipe utama transaksi: complementary, crossed, dan ulterior.
1.      Transaksi Komplementer (Complementary Transactions)
Transaksi komplementer adalah transaksi yang arah transaksi stimulus-responsnya konsisten, misalnya mendiskusikan kesulitan dunia (Parent-Parent), berbicara tentang pekerjaa (Adult-Adult), atau bersenang-senang bersama (Child-Child). Cara lain untuk mengatakannya adalah bahwa transaksi komplementer adalah transaksi yang orangnya menerima respons dari ego state yang ditujuannya.
2.      Transaksi Menyilang (Crossed Transaction)
Dalam transaksi menyilang, respons transaksionalnya (a) datang dari ego state yang berbeda dengan ego state yang dituju, dan/atau (b) mengarah ke ego state yang tidak mengirimkan stimulus awalnya. Aturan kedua atau aturan kebalikan komunikasi adalah komunikasi tidak berlanjut ketika sebuah transaksi menyilang terjadi. Faktanya, putusnya komunikasi itu mungkin hanya sementara. Akan tetapi, pada ekstrem sebaliknya, komunikasi bisa sepenuhnya terputus.
3.      Transaksi Tersembunyi
Ulterior communication (komunikasi tersembunyi) adalah di mana, tertutup di balik komunikasi terbuka dan secara sosial lebih dapat diterima, seorang individu terlibat dalam komunikasi yang mendasari dan secara sosial lebih berisiko. Cara lain untuk melihat ini adalah di banyak interaksi manusia, ada agenda sosial psikologis maupun sosial yang mendasari. Permainan psikologis, menurut definisinya, melibatkan transaksi tersembunyi. Transaksi tersembunyi dapat terjadi dalam situasi sehari-hari.
B.     TERAPI
a.      Tujuan Terapi
            Tujuan terapi AT adalah membantu klien dalam membuat putusan putusan baru yang menyangkut tingkah lakunya sekarang dan arah hidupnya. Sasarannya adalah mendorong klien agar menyadari bahwa kebebasan dirinya dalam memilih telah dibatasi oleh putusan putusan dini mengenai posisi hidupnya dan oleh pilihan terhadap cara cara hidup.
Harris (1967) tujuan AT untuk membantu individu individu agar memiliki kebebsan memilih, kebebasan mengubah keinginan, kebebasan mengubah respon respon terhadap stimulus stimulus yang lazim maupun baru. Harris (1967) menyatakan tujuan pemberian treatmen adalah menyembuhkan gejala yang timbul dan metode treatmen adalah membebasakan ego orang dewasa sehingga bisa mengalami kebebasan memilih dan penciptaan pilihan pilihan baru diatas dan diseberang pengaruh pengaruh masa lampau yang membatasi. Menurut Harris, hunungan terapeutik di capai dengan mengajarkan kepada klien dasar dasar ego orangtua, orang dewasa, dan ego anak. Para klien dalam setting kelompok itu belajar bagaimana menyadari, menangani ketiga ego selama ego ego tersebut muncul dalam transaksi transaksi dalam kelompok.
Berne (1964) menyatakan bahwa tujuan utama AT pencapaian otonomi yang diwujudkan oleh penemuan kembali tiga karakteristik, yaitu: kesadaran, spontanitas dan keakraban. Analisis transaksional berusaha membantu klien untuk mendapat sikap hidup “I am OK-You are OK”. Stewart (1996a) melihat tujuan-tujuan tersebut sebagai tahap-tahap progresif kea rah penyembuhan:
  1. Social control: Meskipun masih merasa distress (hendaya), klien dapat mengontrol gejala-gejalanya dalam berinteraksi dengan orang lain;
  2. Symptomatic relief: Membaik, atau “mengalami kemajuan” , yang dianggap Berne menjadikan klien “katak-katak yang merasa nyaman”.
  3. Transference cure: Di sini klien keluar dari skrip mereka selama mereka dapat menjaga terapisnya tetap berada didekatnya, secara harfiah atau secara mental.
  4. Aotonomy: Klien “keluar dari kulit kodoknya dan sekali lagi meneruskan perkembangannya sebagai pangeran atau putri raja terinterupsi” (Barne, 1966: 290). Ego state Adult klien mengambil alih peran terapis ketika klien mencapai otonomi. Otonomi mengacu pada kapasitas untuk perilaku “nonskrip” tanpa jadwal waktu tertentu, yang dikembangkan lebih kemudian dalam hidup, dan tidak di bawah pengaruh orangtua” (Barne, 1972: 418)
Pencapaian otonomi melibatkan mendapatkan kembali ketiga kapasitas sikap OK yang positif, yaitu: kesadaran, spontanitas, dan intimasi.
·         Kesadaran: Awareneess (kesadaran) berarti kapasitas untuk melihat dan mendengar langsung dan tidak dengan cara seperti yang digunakan ketika individu dibesarkan. Hal ini berarti hidup dalam here-and-now, terbuka terhadap berbagai sensasi yang datang dari lingkungan dengan cara seperti yang dilakukan oleh seorang pelukis, pujangga, atau musisi;
·         Spontanitas: Spontanitas berarti kapasitas untuk merasakan secara langsung dan mengekspresikan perasaan secara langsung dan tidak dengan cara seperti yang digunakan ketika individu dibesarkan. Orang yang spontan bias memilih perasaan: perasaan Parent, Adult, atau Child;
·         Intimasi: Intimasi berarti kapasitas untuk berhubungan dengan orang atau orang lain secara sadar, spontan, penuh kasih, dan bebas-permainan. Berne menganggap intimasi pada dasarnya adalah fungsi Child yang alamiah dan murni.
Analisis transaksional mengambil pendekatan kontraktual untuk terapinya. Terapis dan klien menegosiasikan sebuah kontrak yang menentukan tujuan penanganan dan tanggung jawab bersama dalam mencapai tujuan tersebut.
b.      Relasi Terapeutik
Analisi transaksional memberikan hubungan yang suportif dan nurturing yang kondusif bagi klien yang memikul tanggung jawab pribadi lebih besar atas hidupnya. Terapis memberikan izin kepada klien untuk memainkan peran aktif dalam terapi. Terapis mendukung klien pada saat mereka mengungkapkan dan menganalisis dirinya secara lebih lengkap dan mengujicobakan pola-pola perasaan, pemikiran dan perilaku yang lebih Adult.  
Hubungan terapis-klien mirip dengan hubungan pengajar-pembelajar yang demokratis. Pada awal terapi, terapis dan klien menetapkan aturan-aturan dasar dan menetukan elemen-elemen kontrak kerja dan kontrak belajar mereka. Terapis melatih klien tentang keterampilan menganalisis ego state, transaksi, permainan, dan skrip. Di samping itu, terapis mendorong dan membantu klien untuk mengidentifikasi opsi-opsi Adult untuk menghadapi berbagai orang, masalah, dan situasi dalam hidupnya.
c.       Fungsi dan Peran Terapis
Analisis transaksional dirancang untuk memperoleh pemahaman emosoional maupun pemahaman intelektual. Akan tetapi, dengan berfokus pada aspek-aspek rasional, peran terapis sebagian besar adalah memberikan perhatian pada masalah-masalah didaktik dan emosional. Harris (dalam Corey, 2010) melihat peran terapis sebagai seorang “guru, pelatih dan nara sumber dengan penekanan yang kuat pada keterlibatan”. Sebagai guru, terapis menerangkan konsep-konsep seperti analisis struktural, analisis transaksional, analisis skenario, dan analisis permainan. Terapis membantu klien dalam menemukan kondisi-kondisi masa lampau yang merugikan yang membuat putusan-putusan dini tertentu, memungut rencana-rencana hidup, dan mengembangkan strategi-strategi yang telah digunakan dalam menghadapi orang lain yang sekarang barangkali ingin dipertimbangkannya. Terapis membantu klien memperoleh kesadaran yang lebih realistis dan mencari alternatif-alternatif guna menjalani kehidupan yang lebih otonom.
Tugas terapis pada dasarnya dalah membantu klien agar memperoleh perangkat yang diperlukan bagi perubahan. Terapis mendorong dan mengajari klien agar lebih mempercayai ego orang dewasanya sendiri ketimbang ego orang dewasa terapis  dalam memeriksa putusan-putusan lamanya dan dalam membuat putusan-putusan baru.
d.      Pengalaman Klien dalam Terapi
Salah satu persyaratan dasar untuk menjadi klien analisis transaksional adalah memiliki kesanggupan dan kesediaan untuk memahami dan menerima suatu kontak, terapi. Kontak treatment berisi suatu pernyataan spesifik dan kongkret tentang sasaran-sasaran yang hendak dicapai oleh klien dan kriteria untuk menentukan bagaimana dan kapan sasaran-sasaran itu dicapai secara efektif. Kontrak menyiratkan bahwa klien adalah agen yang aktif dalam proses terapeutik. Sejak permulaan, klien menjelaskan dan menyatakan tujuan-tujuan terapinya sendiri dalam kontrak. Untuk mencapai tujuan-tujuan itu, klien dan terapis bisa merancang “tugas-tugas” yang akan dilaksanakan selama pertemuan terapi dan dalam kehidupan klien sehari-hari.
e.       Hubungan antara Terapis dan Klien
Analisis transaksional adalah suatu bentuk terapi berdasatkan kontrak. Suatu kontrak dalam analisis transaksional menyiratkan bahwa seseorang akan berubah. Kontrak haruslah spesifik, ditetapkan secara jelas, dan dinyatakan secra ringkas. Kontrak menyatakan apa yang akan dilakukan oleh klien, bagaimana klien akan melangkah kearah tujuan-tujuan yang akan ditetapkannya, dan kapan klien mengetahui saat kontraknya habis. Pendekatan kontrak dengan jelas menyiaratkan suatu tanggung jawab bersama. Dengan berbagi tanggung jawab bersama terapis, klien menjadi rekan dalam treatmennya. Terapis tidak melakukan sesuatu kepada klien sementara klien itu sendiri berlaku pasif. Akan tetapi, baik terapis maupun klien aktif dalam hubungan itu.
C.    INTERVESI TERAPEUTIK
Prosedur prosedur terpeutik
Proses proses, prosedur prosedur dan teknik teknik  yang umum digunakan dalam praktek Analisi Transaksional. Bisa diterapkan individual maupun dalam kelompok.
a.      Analisis struktural
Analisi structural adalah alat yang bisa membantu klien agar menjadi sadar atas isi dan fungsi ego orang tua,ego orang dewasa ,dan ego anaknya. Analisis structural membantu klien dalam mengubah pola- pola yang dirasakan menghambat. Ia juga membantu klien dalam menemukan perwakilan ego yang mana menjadi landasan tingkah yang mana yang menjadi landasan tingkah lakunya. Dengan penemuan itu, klien bisa memperhitungkan pilihan pilihannya.
b.      Analisis Transaksional
Analisis transaksional pada dasarnya adalah suatu penjabaran atas analisis yang dilakukan dan dikatakan oleh orang-orang terhadap satu sama lain. Apapun yang terjadi, orang-orang melibatkan suatu transaksi di antara perwakilan-perwakilan ego mereka. Ketika pesan-pesan disampaikan, diharapkan ada respons. Ada tiga tipe transaksi, yaitu komplementer, menyilang dan terselubung. Transaksi-transaksi komplementer terjadi apabila suatu pesan yang disampaikan oleh suatu perwakilan ego seseorang memperoleh respons yang diprakirakan dari perwakilan ego seseorang yang lainnya. Sebagai contoh adalah transaksi anak-anak yang suka bermain-main. Transaksi menyilang terjadi apabila respon yang tidak diharapkan diberikan kepada suatu pesan yang disampaikan oleh seseorang. Transaksi terselubung yang merupakan suatu transaksi yang kompleks, terjadi apabila lebih dari satu perwakilan ego terlibat serta seseorang menyampaikan pesan terselubung kepada seseorang yang lainnya.
c.      Kursi Kosong
Kursi kosong merupakan suatu prosedur yang sesuai analisis struktural. Misalnya seorang klien mengalami kesulitan dalam menghadapi boss nya (ego orang tua). Klien diminta untuk membayangkan bahwa seseorang tengah duduk di sebuah kursi di hadapannya dan mengajaknya berdialog. Prosedur ini memberikan kesempatan kepada klien untuk menyatakan pikiran-pikiran, perasaan-perasaan, dan sikap-sikapnya selama dia menjalankan peran-peran perwakilan-perwakilan ego-nya. Klien tidak hanya mempertajam kesadarannya, dalam kasus ini ego orang tuanya, tetapi juga kedua ego lainnya (anak dan orang dewasa) yang biasanya memiliki ciri-ciri tertentu dalam hubungannya dengan keadaan yang dibayangkan.
d.      Permainan peran
Prosedur prosedur At bisa digabungkan dengan teknik teknik psikodrama dan permainan peran. Dalam terapi kelompok, situasi situasi permainan peran bisa melibatkan para anggota lain. Seorang anggota kelompok memainkan peran sebagai perwakilan ego yang menjadi sumber masalah bagi seorang anggota lainnya dan ia berbicara kepada anggota lain tersebut. para anggota lain pun menjalankan perannya masing masing dan mencobanya di luar terapi.
e.      Percontohan keluarga
Klien diminta untuk membayangkan suatu adegan yang melibatkan sebanyak mungkin orang yang berpengaruh dimasa lampau, termasuk dirinya sendiri. Klien menjadi sutradara, produser, dan actor. Dia menetapkan situasi dan menggunakan para anggota kelompok sebagai pemeran para anggota keluarga (orang orang berpengaruh) serta menempatkan mereka pada situasi yang dibayangkan.
f.       Analisis upacara, hiburan, dan permainan
Analisis transaksi-transaksi menckup pengenalan terhadap upacara upacara (ritual ritual), hiburan hiburan dan permainan permainan yang digunakan dalam menyusun waktunya. Penyusuana waktu adalah bahan yang penting bagi diskusi dan pemeriksaan karena ia merefleksikan putusan putusan tentang bagaimana menjalankan transaksi dengan orang lain dan memperoleh belaian. Orang yang menyusun waktunya terutama dengan upacara upacara dan hiburan hiburan boleh jadi mengalai kekurangan balaian sehingga dia kurang akrab dalam transaksinya dengan orang lain.
g.      Analisis permaian dan ketengangan
Analisis permainana permainan dan ketegangan ketegangan adalah aspek yang penting bagi peahaman sifat transaksi dengan orang lai. Borne (1964) menjabarkan permaianan sebagai ‘’ rangkaian transaksi terselubung komplementer yang terus berlangung menuju hasil yang didefinisikan dengan baik dan dapat diperkirakan’’. Hasil dari kebanyakan permainan adalah perasaan ‘’ tidak enak’’ yang dialami oleh pemain..
h.      Analisis skenario
Scenario kehidupan atau rencana seumur hidup , yang berlandaskan serangkaian putusan dan adaptasi, sangat mirip dengan pementasan sandiwara. Orang orang mengalami peristiwa peristiwa hidup tertentu, menerima dan  mempelajari peran peran tertentu, mengulang ulang dan menampilkan peran peran itu sesuai dengan scenario. Ada casting watak, adegan adegan, dialog dialog, plot plot dan aksi aksi yang menuju pada akhir cerita. Scenario kehidupan psokologis menggariskan kemana seseorang akan menuju dalam hidupnya dan apa terdapat dalam scenario kehidupan itu adalah sifat menggerakannya yang mendorong seseorang untuk memainkannya.
Pembuatan scenario mula mula terjadi secara nonverbal pada masa kanak kanak melalui pesan pesan dari orang tua. Selama bertahun tahun pertama perkembangan, seseorang belajar tentang nilai dirinya sebagai pribadi dan tempat dirinya dalam kehidupan. Selanjutnya, pembuatan scenario berjalan melalui cara cara langsung maupun tidak. Analisis scenario bisa dilaksanakan dengan menggunkan suatu daftar scenario yang berisi item item yang berkaitan dengan posisi hidup, penipuan-penipuan, permainan permainan yang kesemuannya merupakan komponen kompone fungsional utama pada scenario kehidupan individu.
Intervensi dan Interposisi Dasar 
Intervensi
1.      Interogasi: Terapis menggunakan interogasi terutama untuk mengklarifikasi, memikirkan, dan mendokumentasikan poin-poin tertentu yang mungkin berguna secara klinis di masa yang akan dating. Contoh: “Apakah Anda benar-benar mencuri uang itu?” terapis yang mengajukan terlalu banyak pertanyaaan mungkin akan menemukan kliennya senang memainkan “Riwayat Psikiatrik”.
2.      Spesifikasi: Spesifikasi dimaksudkan untuk membetulkan sesuatu dalam pikiran terapis dank lien sehingga kelak dapat dapat dibawa ke dalam terapi. Contoh: “Jadi Anda selalu ingin membeli barang-barang yang lebih mahal”.
3.      Konfrontasi: dalam konfrontasi terapis menggunakan informasi yang sebelumnya di munculkan dan disebutkan untuk menunjukkan sebuah ketidakkonsistenan dan dengan demikian akan mengacaukan ego state Parent, Adult, dan Child klien.
4.      Penjelasan: terapis menggunakan explanation (penjelasan) untuk memperkuat, mendekontaminasi, atau mengubah orientasi ego state Adult klien. Contoh: “Jadi Anda lihat ego state Child dalam diri Anda sedang mengancam untuk menjadi aktif, dan jika itu terjadi, ego state Adult akan lenyap dan ego state Parent Anda akan mengambil alih dan ketika itulah Anda membentuk anak-anak.
Interposisi
1.      Ilustrasi:  Ilustrasi adalah onekdot, similes atau perbandingan yang mengikuti sebuah konfrontasi yang sukses dengan maksud memperbuatnya  dan melunakkan efek susulan (efek   stimulus yang muncul setelah stimulusnya menghilang ) yang tidak diinginkan. Ilustrasi adalah upaya terapis untuk menempatkan sesuatu diantara ego states Adult dan ego states lainnya yang membuatnya sulit menerobos masuk ke dalam kegiatan Parent atau Child.
2.      Konfirmasi: jika klien memberikan bukti konfirmatorik setelah konfrontasi, terapis dapat memanfaatkan konfirmasi untuk menstabilkan Adult klien. Sebagai contoh, jika klien mengatakan “saya benar-benar tidak bisa—Oh, maksudnya, saya tidak mau melakukannya” terapis segera mengonfirmasi kesadaran diri klien yang lebih tinggi itu (Dusay & Dusay, 1989: 441).
3.      Interpretasi: terapis menggunakan intervensi dan interposisi sebelumnya yang objek primernya mengateksi dan mendekontaminasi ego state Adult klien.
4.      Kristalisasi: analisis transaksional bermaksud membawa klien ke titik  di mana pernyataan kristalisasi dari terapis efektif. Kristalisasi adalah pernyataan posisi klien dari Adult terapis kepada Adult klien. Contoh kristalisasi adalah: “Jadi sekarang Anda dalam posisi menghentikan permainan kalau Anda menginginkannya.”
Penerapan pada Kelompok
Konsep-konsep dan teknik-teknik analisis transaksional cocok terutama untuk situasi-situasi kelompok. Analisis transaksional pada mulanya direncanakan sebagai suatu bentuk treatmen kelompok dan prosedur-prosedur terapeutiknya memberikan hasil dalam setting kelompok. Dalam setting kelompok, orang-orang bisa mengamati perubahan orang lain yang memberikan kepada mereka model-model peningkatan kebebasan memilih. Mereka menjadi paham atas struktur dan fungsi kepribadian mereka sendiri serta belajar bagaimana bertransaksi dengan orang lain. Mereka dengan cepat bisa mengenali permainan-permainan yang mereka mainkan dan skenario-skenario yang mereka perankan. Mereka mampu memusatkan perhatian pada putusan-putusan dininya yang boleh jadi belum pernah ditelaahnya secara cermat.
Harris (dalam Corey, 2010) sepakat bahwa treatment atas individu-individu dalam kelompok adalah metode memilih oleh analisis-analisis transaksional. Ia memandang fase permulaan kelompok analisis transaksional sebagai suatu proses mengajar dan belajar serta meletakan kepentingannya pada peran didaktis terapis semangat dan kemampuannya sebagai pengajar dan kesiagaannya dalam mengikuti setiap komunikasi atau isyarat dalam kelompok, beik verbal maupun non-verbal. Ia juga membahas beberapa keuntungan yang bisa diperoleh dari pendekatan kelompok diantaranya: (1) berbagai cara ego orang tua mewujudkan dirinya dalam transaksi-transaksi bisa diamati. (2) karakteristik-karakteristik ego anak pada masing-masing individu dalam kelompok bisa dialami. (3) orang-orang bisa dialami dalam suatu lingkungan yang alamiah, yang ditandai oleh keterlibatan dengan orang-orang lain. (4) konfrontasi permainan-permainan yang timbal balik bisa muncul secara wajar. (5) para klien bergerak dan membaik lebih cepat dalam treatment kelompok.



DAFTAR PUSTAKA
Corey, Gerald. 2013. Teori dan Praktek Koseling dan Psikoterapi. Bandung: Reflika Aditama.

Jones, R. N. 2012. Konseling Keterampilan Hidup. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
Add caption

Tidak ada komentar:

Posting Komentar