Kamis, 24 Juli 2014

Humanistik Eksistensial

A.    Pengertian Terapi Humanistik-Eksistensial
Terapi eksistensial adalah pendekatan konseling dan psikoterapi yang didasarkan pada pemahaman filosofis tentang apa makna menjadi manusia, dan apa makna keberadaannya. Pemahama ini berdasarkan karya beberapa filsuf, dan para terapis berbeda dalam memberikan penekanan pada filsuf tertentu. Pendekatan eksistensial ini tidak hanya mempelajari tentang eksistensi dan menerapkannnya pada pendekatan lain secara terpisah.
 
B.     Teori dan Konsep Dasar  
Pemikiran eksistensial memiliki beberapa asumsi dasar tentang apa yang sejati bagi kita semua, dan asumsi-asumsi tentang apa makna eksistensi kita. Asumsi-asumsi fundamental tersebut sering diacu sebagai hal-ghal ‘biasa’ dalam pembahasan tentang eksistensi.
a.      Hakikat manusia
Jean-Paul Sartre (1905-1980), mungkin filsuf eksistensi paling populer, berpendapat bahwa tidak ada hal yang disebut ‘hakikat manusia’, karena hakikat manusia itu intinya tidak ada. Inti keberadaan adalah ketiadaan. Kita menjadi sesuatu melalui pilihan-pilihan yang kita buat—dengan cara mengisi kehidupan kita. Kita menjadi sesuatu yang tidak pernah tetap, tidak pernah sekaligus. Bahkan, kita selalu berproses, selalu berubah. Jadi berbicara tentang tipe-tipe kepribadian atau bahkan bertanya ‘Siapa saya?’ adalah hal yang tidak masuk akal, karena kita tidak pernah menjadi seseorang, namun selalu berada dalam proses menjadi. Dari perspektif eksistensialis, diri bukanlah suatu barang, bukan entitas yang berlainan yang bisa dilukiskan dan dideskripsikan. Dari waktu ke waktu, diri yang baru muncul, tiap pengalaman baru menempatkan kita di tempat yang berbeda dan kita tidak pernah bisa secara persis sama dengan kita di waktu sebelumnya.
 
b.      Pilihan
Banyak orang berpendapat bahwa gagasan ini sulit dipahami, karena kebanyakan kita memiliki rasa berkelanjutan dan rasa diri yang kuat. Kita merasa sebagai orang yang sama pagi ini, kemarin, dan 20 tahun yang lalu. Kita tampaknya membutuhkan rasa kesamaan ini karena tanpa itu kita merasa sangat tidak aman. Pada saat yang sama, eksistensialis berpendapat bahwa kita membatasi diri sendiri dengan melihat diri kita dengan cara yang tetap dan tidak berubah. Seberapa seing kita telah mendengar diri kita atau orang lain berkata, ‘Saya tetap sama seperti itu’, ‘Itulah saya’? Kita berbicara seolah-olah tidak ada yang berubah dan seolah-olah kita tidak bertanggung jawab atas diri kita saat ini—‘Saya ditakdrkan seperti itu’ kita sering berkata demikian. Sartre berpendapat bahwa kita punya jauh lebih banyak pilihan daripada yang kita bayangkan, dan ia percaya dalam keterbatasan ‘faktisitas’ kita, (facticity) kita bisa menjadi apa pun yang kita pilih. Faktsitas mengacu pada fakta-fakta eksistensi kita, aspek-aspek yang kita tidak punya pilihan—misalnya, keadaan saat kelahiran kita, orang tua kita, tempat, waktu, dan budaya yang kita masuki saat kita lahir, warisan genetic kita, tempat kita bertumbuh. Di mana kita benar-benar punya pilihan adalah dalam respons kita pada batasan-batasan itu: itulah kebebasan kita.
 
c.    Kebebasan
Sartre berpendapat bahwa tidak ada hal yang pasti (terlepas dari kepastian akan kematian), tidak ada hal yang absolute, terserah kita untuk memutuskan bagaimana kita ingin menjalani kehidupan kita, untuk membuat aturan kita sendiri, mendapati makna kita sendiri. Dengan kata lain, kita memanggul beban tanggung jawab yang sangat besar. Untuk mengakui bahwa kita bertanggung jawab atas diri kita dengan cara ini memprovokasi kecemasan yang luar biasa, dan pada saat yang sama kesadaran tentang kebebasan kita bisa alami sebagai pengalaman yang sangat membebaskan. Namun demikian, sering kita merasai lebih mudah untuk ‘bermain aman’ dengan melakukan apa yang selalu kita lakukan, mengikuti aturan dan berpura-pura bahwa kita tidak punya pilihan. Dengan melakukan itu, kita menyangkal pengalaman hidup yang lebih bergairah dan lebih bersemangat.
 
c.       Kecemasan dan Perasaan Bersalah
Eksistensialis berpendapat bahwa karena kita punya ukuran kebebasan dan diharuskan untuk memilih, tak bisa dihindari kita juga akan merasa cemas. Kecemasan eksistensial dianggap sebagai suatu aspek eksistensi, ‘anugerah’ yang eksistensial di mana kita tidak dapat menghindarinya. Akhirnya, kehidupan kita adalah tanggung jawab kita dan itu membuat kita cemas. Pada saat yang sama eksistensialis berpendapat bahwa kita tidak bisa memenuhi tanggung jawab pada diri kita, kita hanya bisa berupaya melakukannya. Karena kita tidak pernah bisa memenuhi potensi kita, kita pasti tidak bisa mencapai keadaan kita yang seharusnya, kita tidak bisa menghindari perasaan bersalah secara eksistensial. Kita selalu berutang pada diri kita sendiri, kita berutang pada diri kita untuk menjadi lebih daripada kita sekarang ini, sehingga kita merasa bersalah. Seperti kecemasan eksistensial, kesalahan eksistensial dianggap sebagai aspek keberadaan manusia yang tak bisa dielakkan.
 
d. Keberadaan di Dunia
Heidegger mendeskripsikan eksistensi sebagai ‘keberadaan di dunia’. Ia menggunakan frasa ini untuk menekankan relasi tak terelakkan kita, hubungan kita ‘yang sudah dari sananya’ pada semua hal yang kita jumpai. Kita selalu berada dalam dunia ini dan bahwa dunia itu adalah milik kita. Ketika kita mati, dunia kita, dunia yang kita tahu akan mati bersama kita.
 
e. ‘Dunia dengan’
Tak hanya kita selalu membawa dunia kita bersama kita, namun kita juga selalu hidup terkait dengan orang lain, kita hidup dalam sebuah ‘dunia dengan’. Kita selalu berhubungan, meskipun kita memilih hidup terpisah dengan orang lain. Hanya dengan melalui orang lain kita dapat merasakan diri kita, dengan berelasi dengan orang lain kita menjadi diri kita sekarang ini. Pada saat yang sama, diri kita selalu berada dalam keadaan yang bergejolak. Diri kita dengan teman, saudara perempuan, bos, dengan siapa pun juga, adalah diri yang lain dalam tiap hubungan itu. Sama seperti respon tiap orang kepada kita tidak sama, tak seorang pun melihat kita dengan cara yang persis sama seperti orang lain melihat kita. Mungkin benar untuk berkata, ‘Saya punya kepribadian sebanyak jumlah teman saya.’
 
f.       Dunia yang Diinterpretasikan
Penekanan pada hubungan kita yang tak terelakan pada semua yang ada menunjukkan bahwa dalam beberapa hal kita bukanlah individu yang terpisah, namun saling terlibat dengan orang-orang yang kita jumpai. Pada saat yang sama eksistensialis juga menekankan keunikan kita, tak ada pengalaman orang lain yang persis sama dengan pengalaman kita. Saya tidak pernah benar-benar tahu seperti apa menjadi anda. Kita semua berdiri di tempat unik kita masing-masing dan setiap kita memandang dunia dari perspektif kita sendiri. Secara paradoks,kita terhubung pada orang lain dan pada saat yang sama akhirnya terpisah dengan mereka. Walaupun pengalaman kita sangat mirip sekalipun,setiap kali kita mengalami hal-hal yang agak berbeda. Makna yang kita berikan pada sesuatu menjadi milik kita, orang lain mungkin memberi makna lain pada hal yang sama. Jadi, makna suatu objek, situasi atau pengalaman milik orang yang memberi makna tersebut-makna itu tidak tercantum dalam objek, situasi, atau pengalaman kita sendiri. Melalui respons kita pada apapun yang kita jumpai, kita menciptakan dunia kita.
Kita selamanya menginterpretasikan dan melekatkan makna pada semua yang kita alami. Makna yang kita berikan bisa berubah seiring waktu, sesuatu yang dulu sangat bermakna sekarang mungkin bermakna kecil saja.kita sering membatasi diri dengan percaya bahwa makna yang kita berikan itu tetap dan tidak dapat berubah, kita menjadi kaku dan tidak fleksibel. Pengakuan bahwa perubahan itu ada dalam jangkauan kita, terkait dengan pandangan kita tentang diri kita dan dalam makna yang kita berikan, adalah pengalaman yang sangat membebaskan bagi banyak orang.
 
g.      Kematian
Satu hal yang tidak bisa kita ubah adalah kematian,satu kepastian yang kita semua punyai, meskipun, tentu saja, waktu, dan tempat kematian kita tidak diketahui dan makna yang kita berikan beragam. Alih-alih menanggap kematian sebagai bencana, Heidegger menawarkan bahwa kesadaran akan kematian itu justru membebaskan. Kematian adalah dimensi kehidupan, dan menyangkal kematian kita justru membatasi pengalaman hidup kita. Cobalah bayangkan anda hidup selamanya. Jika kita berpikir bahwa kita makhluk yang tidak abadi, bahwa kehidupan itu terbatas, maka kita akan hidup lebih penuh pada saat ini.
 
h.      Memperoleh Dan Mengekalkan Gangguan Psikologis
Terapis eksistensial tidak berfokus kategori-kategori diagnostik, yaitu dengan memberi label orang-orang dan mempatologikan kesulitan mereka.dengan kata lain, mereka tidak menganggap klien yang mereka terapi mengalami kesakitan yang bisa didefinisikan. Alih-alih, mereka akan menganggap kesulitan klien sebagai `masalah dalam kehidupan`, di mana kita semua mengalami, klien dan terapis sama saja. Kita tidak ` memperoleh gangguan psikologis`, namun lebih pada kesakitan eksistensi manusia, kehidupan itu sendiri, dianggap sebagai gangguan. Seperti yang telah dibahas sebelumnya, Eksistensi manusia mencakup beberapa hal kodrati: pengalaman kecemasan dan perasaan bersalah: hidup menuju kematian: tanggung jawab untuk menemukan makna kehidupan kita sendiri: hidup dalam `dunia dengan` dan pada saat yang sama akhirnya terisolasi.
  Ada kemungkinan kita memilih mengabaikan`panggilan nurani` panggilan untuk menghadapi tantangan untuk menjalani kehidupan dengan lebih penuh dan oleh karena itu kita merasa kehidupan kita ada yang kurang. Kita mungkin merasa bahwa pengambilan keputusan dan tanggung jawab itu terlalu berat. Pengalaman sebelumnya telah memengaruhi kita sedemikian rupa sehingga harga diri kita rendah dan relasi kita buruk. Kehidupan kita mungkin kehilangan makna dan tujuan. Kesulitan kita berlanjut karena kita tidak menyadari cara kita yang justru mengekalkan kesulitan itu. Kita menemukan banyak cara untuk mengabaikan kemungkinan –kemungkinan yang tersedia bagi kita, kita justru membatasi diri kita. Dalam upaya kita yang terus-menerus menuju tingkat keamanan yang tak bisa diraih, kita membatasi diri kita dan mengekalkan masalah kita.
 
i.        Perpindahan Ke Kesehatan Psikologis
Dari perspektif eksistensial,`kesehatan psikologis` itu tidak dimungkinkan. Usaha kita untuk menjalani kehidupan yang bebas dari rasa khawatir, bebas stres, dan seimbang bisa mengekalkan kesulitan kita. Dengan menghadapi problem kita dan bertanggung jawab atas pilihan-pilihan kita, kita mengalami rasa kendali diri yang lebih besar. Pada saat yang sama kita mungkin menjadi lebih cemas, meskipun berbeda dengan rasa cemas ketika kita berpikir bahwa dimungkinkan untuk membuat ini pasti dan aman. Jika kita siap menanggung risiko dan membiarkan rasa tidak aman dan tidak pasti, kita bisa lebih baik menghadapi kehidupan ini. Diperlukan keberanian dan tekad yang besar untuk menentukan kehidupan ini dengan tangan anda sendiri, walaupun beberapa orang akan beranggapan bahwa hasilnya tidak bisa diperhitungkan.
 
 
 
C.    Praktik
a.       Tujuan-Tujuan
Terapi eksistensial bertujuan agar klien mengalami keberadaannya secara otentik dengan menjadi sadar atas keberadaan dan potensi-potensi serta sadar bahwa ia dapat membuka diri dan bertindak berdasarkan kemampuannya. Terapis eksistensial tidak berfokus pada penentuan tujuan spesifik untuk terapi. Pembukaan kemungkinan bisa dikatakan sebagai tujuan umum terapi eksistensial. Klien sering datang ke terapi karena merasa bahwa hidup mereka dibatasi atau kehilangan tujuan. Mereka mungkin punya hubungan yang tidak memuaskan, atau mungkin merasa menjadi korban keadaan atau lainnya, mereka ingin mengubah cara mereka menjalani kehidupan namun tidak tahu cara untuk melakukannya. Klien menggambarkan dirinya sebagai orang yang merasa kehidupannya mandek dan tidak bisa berubah. Diharapkan, melalui proses terapi ini klien bisa menyadari bahwa mereka punya lebih banyak kebebasan daripada yang mereka pikirkan sebelumnya dan bahwa ada banyak batasan yang mengungkung kita, kita masih punya pilihan terkait dengan bagaimana merespons batasan-batasan itu. Selama terapi, klien menyadari tanggung jawabnya atas pilihan yang diambilnya saat ini, yang diambilnya pada masa lalu, dan akan diambilnya di masa depan. Semua itu melibatkan pengakuan bahwa memilih itu seringkali sulit—dalam mengatakan ‘ya’ pada satu hal dan ‘tidak` pada hal lain, dan tentu saja, memilih untuk tidak memilih berarti kita juga membuat pilihan. Itulah khususnya. Terapis eksistensial tidak akan bekerja untuk menghilangkan kecemasan pada diri klien, karena justru akan berarti menafikan kebebasan dan tanggung jawab klien. Alih-alih ,terapis eksistensial akan mendorong klien untuk berkonfrontasi dengan kesulitannya dan menghadapi kecemasan yang mengikuti.hal yang sama terjadi untuk perasaan bersalah eksistensial.alih-alih mencoba menghilangkan perasaan bersalah, terapis eksistensial akan memfasilitasi kemampuan klien mengenali kapan ia menghindar mengambil tanggung jawab untuk memenuhi potensinya.itu dilakukan dengan pemahaman bahwa kita tidak pernah bisa memuaskan diri kita,kita selalu kekurangan. Dengan kata lain,kita tidak boleh gagal untuk gagal.          Autentisitas dideskripsikan sebagai tujuan terapi eksistensial,namun sering kali disalahartikan sebagai konsep. Heidegger mendiskusikan autentisitas sebagai cara menjadi yang benar untuk eksistensi. Bukan tentang menjadi yang benar untuk diri inti mistis.ketika kita autentik, kita menyadari kodrat eksistensi-kebebasan,tanggung jawab,kematian,dan sebagainya. Kita adalah makhluk yang penuh pertimbangan, sadar apa makna keberadaan. Keadaan yang penuh pertimbangan ini tidak permanen namun lebih hanya terjadi sementara, misalnya ketika kehidupan kita atau orang dekat kita terancam karena sakit. Begitu ancaman itu dihilangkan, kita kembali ke keadaan yang tidak autentik. Sebagian besar kita adalah makhluk pelupa, kita hanya mengikuti arus dan mengabaikan mortalitas kita.mungkin melalui proses terapi, klien menjadi lebih sadar keauntentisitasannya,walaupun samar, namun akhirnya selalu klienlah yang memutuskan tujuan terapi.
 
b.      Metode
Eksistensial mengadopsi metode fenomenologis yang pertama kali dideskripsikan oleh Edmund Husserl (1859-1938). Sederhananya, metode ini tidak menganggap semua hal bisa diterima begitu saja, tetapi semua hal perlu dipertanyakan. Kita diminta menjadi naif, mengadopsi sikap terbuka, hampir mirip sikap seorang anak, yang tidak berasumsi bahwa kita tahu atau memahammi segala hal. Hal yang disebut ‘reduksi fenomenologis’ ini meminta kita menyampingkan pemahamman yang kita peroleh sebelumnya, menanggalkan prasangka dan bias dan menunjukan sikap kekaguman pada semua hal yang kita jumpai. Dengan mereduksi asumsi kita tentang apa pun yang kita selidiki, kita bisa memperoleh pemahamman yang lebih baik dan lebih dekat pada hal itu sendiri. Dengan begitu, kita meningkatkan pengetahuan tentang fenomena itu (objek investigasi kita) ketimbang hanya berkutat dengan gagasan kita tentang itu.
Para terapis ekistensial juga mengadopsi metode fenomenologis dalam pendekatan mereka pada konseling dan psikoterapi. Mereka akan berupaya menyampingkan praangka dan teori tentang teman sesama manusia merek, tentang hal yang membuat klien terganggu dan apa yang terbaik baginya. Dengan begitu, terapis tetap menyediakan bagi klien suatu cara demikian rupa sehingga terapi bisa mendengar keprihatinan klien dari perspektif klien ketimbang perspektif mereka. Dengan hanya tetap bersama apapun yang ditunjukan klien, dengan fenomena, dan tidak mencari penyebab atau penjelasan, terapis dan klien secara perlahan akan mendapatkan pemhaman yang lebih baik tentang pengalaman klien. Terapis akan mencoba mendeskripsikan apa yang dipahaminya sehingga kejelasan yang lebih besar tentang cara menjadi klien bisa dicapai.
 
c.       Hubungan Terapeutik
Seperti telah didiskusikan di atas, proposisi fundamental pemikiran Eksistensial adalah bahwa kita selalu berada dalam hubungan, kita hidup dalam ‘dunia dengan’. Dengan kata lain, semua yang kita lakukan, katakan, dan rasakan selalu terjadi dalam relasi dengan orang lain. Pemahaman ini membuat kita  mengakui bahwa di segala interaksi, kita selalu saling memngaruhi. Ketika terapis dan klien bertemu, mereka menjadi diri mereka dalam hubungannya satu sama lain. Yang diungkapkan klien kepada seorang terapis tidak selalu sama dengan pengungkapan mereka pada terapis terapis lain. Begitu juga dengan respons terapis dalam hubungannya dengan klien tertentu. Penekanan pada saling keterhubungan ini berarti bahwa kita tidak dipandang memiliki dunia internal yang tetap di dalam kepala kita, namun lebih sebagai orang yang selalu berinteraksi dengan orang lain. Dengan kata lain, siapa diri kita di saat tertentu tidak bersemayam di dalam diri individu, namun ada ‘di antara’, antara kita dan orang lain, di situlah terjadinya relasi.
 
d.      Sikap terapis
Terapis ekisitensial tidak menganggap dirinya lebih superior daripada kliennya dan ia menghormati kliennya sebagai sesama manusia. Kita semua sama, yaitu menghadapi kodrat yang sama. Terapis bukanlah orang yang tidak mengalami kesulitan saat ini dan tak juga menganggap dirinya lebih kebal dari problem di masa depan. Hal itu mungkin lebih masuk akal untuk mengatakan ‘orang-orang dalam terapi’ ketimbang terapis dan klien. Baik klien dan terapis akan diubah dengan hubungan yang mereka jalin. Pada saaat yang sama, sungguh bodoh jika diktakan bahwa tidak ada ketidaksamaan dalam relasi itu. Fokusnya pada permasalahan klien dan klien datang ke terapis untuk minta bantuan. Sementara itu, permasalahan terapis tidak diungkapkan. Sekalipun demikian, terapis akan berusaha membuat relasi yang sepadan di mana ia dan klien adalah mitrapengeksplorasi pengalaman klien.
Menurut Buhler dan Allen, para ahli  psikologi  humanistik memiliki orientasi bersama yang mencakup hal-hal berikut :
1.    Mengakui pentingnya pendekatan dari pribadi ke pribadi.
2.    Menyadari peran dari tanggung jawab terapis.
3.    Mengakui sifat timbal balik dari hubungan terapeutik.
4.    Berorientasi pada pertumbuhan.
5.    Menekankan keharusan terapis terlibat dengan klien sebagai suatu pribadi yang menyeluruh.
6.    Mengakui bahwa putusan-putusan dan pilihan-pilihan akhir terletak di tangan klien.
7.    Memandang terapis sebagai model, dalam arti bahwa terapis dengan gaya hidup dan pandangan humanistiknya tentang manusia bisa secara implisit menunjukkan kepada klien potensi bagi tindakan kreatif dan positif.
8.    Mengakui kebebasan klien untuk mengungkapkan pandangan dan untuk mengembangkan tujuan-tujuan dan nilainya sendiri.
9.    Bekerja ke arah mengurangi kebergantungan klien serta meningkatkan kebebasan klien.
 
e.       Intervensi
Diam mungkin adalah intervensi terpenting yang bisa dilakukan terpis karena hanya dalam diam kita bisa mendengar orang lain berkata. Namun demikian , bukan berarti terapis tidak bertanya sama sekali kepada klien, atau menanatang asumsi klien. Sikap fenomenologis berarti bahwa terapis tidak menganggap semua sebagai hal yang wajar, dan tidak berasumsi bahwa ia dan klien telah memahami hal yang dideskripsikan. Klien akan ditanya untuk mengklrifikasi secara tepat apa yang mereka bicarakan dan alami. Terapis mencoba mengusik asumsi-asumsi yang dianut untuk didiskusikan guna memunculkan pandangan dunia klien. Melalui proses ini, diharapkan hal yang benar-benar bermakna bagi klien bisa terungkap.
Terapis  tidak akan menafsirkan hal yang dikatakan klien sehingga membuat satu hal bisa bermkna lain. Alih-alih, terpis akan mencoba mendeskripsikan hal yang telah dipahaminya dari klien. Penafsiran harus tetap bersifat deskriptif. Suatu objek yang muncul di sebuah mimpi, misalnya sebuah kotak, tak akan ditafsirkan menjadi benda lain, misalnya rahim. Kotak itu akan diselidiki apa adanya sehingga maknanya bagi klien bisa diungkapkan lebih lengkap.
 
 
 
f.       Proses perubahan
Terapis eksistensial memberi klien ruang di mana klien bisa mengeksplorasi pengalamannya. Terapis akan berupaya mengembangkan kepercayaan dan hubungan yang saling peduli di mana klien merasa cukup aman untuk mengungkapkan dirinya. Usha terapis untuk menemukan sesutau tentang seperti apa kehidupan itu bagi klien, untuk mendapatkan kedekatan dengan penglaman klien. Melalui proses ini klien akan mulai menanyakan asumsinya yang sangat diyakini tentang dirinya dan hal yang mungkin baginya. Ia mungkin mulai menyadari bahwa ia punya lebih banyak pilihan daripada yang ia pikirkan sebelumnya dan akan mulai mengetahui tanggung jawabnya untuk dirinya sendiri. Terapis menyampingkan ide apa pun yang dipunyainya tentang hal apa yang baik bagi klien, karena klienlah yang memutuskan segala perubahan.
 
g.      Format Sesi Tipikal
Para terapis eksistensial sepakat bahwa tidak mungkin mendeskripsikan bentuk sesi yang tipikal karena setiap pertemuan terapeutik berbeda. Karena baik klien dan terapis adalah individu unik, mereka merespons lingkup terapeutik dengan cara mereka sendiri. Tidak ada aturan-aturan yang didefinisikan secara jelas dalam terapis eksistensial. Dalam kerangka filosofi eksistensial, tiap terapis bertanggung jawab mengembangkan gaya kerja mereka sendiri. Terapis eksistensial selalu meyerahkan kepada klien untuk menentukan agenda setiap sesi.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
Daftar Pustaka
 
Corey, Gerald. 2013. Konseling dan Psikoterapi, Bandung: Refika Aditama.
Palmer, Stephen. 2011. Konseling dan Psikoterapi. Yogyakarta: Pustaka Belajar.
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 
 

Analisis Transaksional

A.  TEORI ANALISIS TRANSAKSIONAL
a.      Pandangan tentang Sifat Manusia
AT berpijak pada asumsi asumsi bahwa orang orang sanggup memahami putusan putusan masa lampaunya dan bahwa orang orang mampu memilih untuk memutuskan ulang. AT meletakkan kepercayaan pada kesanggupan individu untuk tampil di luar pola pola kebiasaan dan menyeleksi tujuan tujuan dan tingkah laku baru.  Orang orang dipengaruhi oleh pengharapan pengharapan dan tuntutan tuntutan dari orang orang lain yang berarti dan putusan putusan dininya pun dibuat ketika hidup mereka sangat bergantung pada orang lain. Akan tetapi, putusan putusan bisa tidak ada lagi, bisa dibuat putusan baru. Harris sepakat bahwa manusia memiliki pilihan-pilihan dan tidak dibelenggu oleh masa lampaunya.  Meskipun percaya bahwa memiliki kesanggupan untuk memilih, Berne merasa bahwa sedikit orang yang sampai pada kesadaran akan perlunya menjadi otonom: manusia dilahirkan bebas, tetapi salah satu hal yang paling pertama dipelajarinya adalah berbuat sebagaimana diperintahkan dan dia menghabiskan sisa hidupnya dengan berbuat seperti itu.
Terapis mengakui bahwa salah satu alasan mengapa seorang berada dalam terapi adalah karena dia ingin memasuki penrsengkokolan dan memainkan permainan dengan orang lain. Oleh karena itu, dengan mengikuti terapi ini maka terdapat kesempatan yang baik bagi mereka untuk menemukan kekuatan kekuatan internal dan kesangguapan kesanggupan untuk menggunkan kebebasan dalam merancang ulang kehidupannya sendiri dengan cara cara yang baru dan efektif. Pekerjaan analisis transaksional adalah membantu individu dengan membuang penghalang bagi perkembangan emosional dan mental pasien, sehingga membiarkan mereka tumbul sesuai arahnya masing –masing.
b.      Perwakilan Ego
AT adalah suatu sistem terapi yang berlandaskan teori kepribadian yang menggunakan tiga pola tingkah laku atau perwakilan ego yang terpisah, yaitu orangtua, orang dewasa dan anak. Ego orang tua adalah seperangkat perasaan, pikiran, sikap, dan perilaku yang mirip dengan figur orang tua. Jika ego orang tua itu dialami kembali  oleh kita, maka apa yang dibayangkan oleh kita adalah perasaan-perasaan orang tua kita dalam suatu situasi, atau kita merasa dan bertindak terhadap orang lain dengan cara yang sama dengan perasaan dan tindakan orang tua kita terhadap diri kita. Ego orang tua brisi perintah-perintah “harus” dan “semestinya”. Orang tua dalam diri kita bisa “orang tua Pengasuhan” atau “orang tua pengontrol”. Orang tua pengasuh dimanifestasikan sebagai simpati dan perhatian terhadap individu lain atau diri. Orang tua pengontrol dimanisfestasikan  sebagai seperangkat aturan yang tampak sewenang-wenang.
Ego orang dewasa adalah pengolah data dan informasi yang merupakan bagian objektif dari kepribadian, juga menjadi bagian dari kepribadian yang mengetahui apa yang sedang terjadi. Ia tidak emosional dan tidak menghakimi, tetapi menangani fakta-fakta dan kenyataan eksternal. Berdasarkan informasi yang tersedia, ego orang dewasa menghasilkan pemecahan yang paling baik bagi masalah tertentu.
Child ego state child adalah seperangkat perasaan, pikiran, sikap dan pola perilaku yang merupakan peninggalan kuno dan masa kanak-kanak seseorang. Berne menganggap bahwa kita membawa seorang anak laki-laki atau perempuan kecil dalam diri kita yang merasa, berpikir, bertindak, dan merespons seperti yang kita lakukan saat kita masih anak-anak pada usia tertentu. “anak” yang ada dalam diri kita bisa berupa “anak alamiah”, “profesor cilik”, atau berupa “anak yang disesuaikan”. Anak alamiah adalah anak yang impulsif, terlatih spontan dan ekspresif. Profesor cilik adalah kearifan yang: asli dari seorang anak. Ia manipulatif dan kreatif. Ia adalah bagian dari ego anak yang intuitif, bagian yang bermain di atas firasat-firasat. Berne menganggap child natural sebagai bagian kepribadian yang paling berharga.
c.       Kebutuhan Manusia akan Belaian
Orang orang ingin di belai secara fisik maupun emosional. Jika kebutuhan belaian tidak terpenuhi, cukup bukti yang menunujukan bahwa mereka tidak berkembang secara sehat baik emosional maupun fisik. Belaian seseorang menentukan bagaimana orang itu berperilaku. Menurut AT, kita seharusnya memahami bagaimana kita memperoleh belaian, belajar untuk memperoleh belaian yang kita inginkan dan bertanggung jawabatas ganjaran ganjaran atau hukuman hukuman. Belaian yang positif maka akan menyebabkan perkembangan pribadi yang sehat secara psikologis dan perasaan OK. Jika belaian yang kita terima itu otentik dan bersumber pada posisi Saya OK-kamu OK kita akan terpelihara baik.
AT memungut pandangan tentang motivasi manusia bahwa kebutuhan kebutuhan dasar berkaitan langsung dengan tingkah laku sehari hari yang dapat diamati. Sejumlah kebutuhan dasar mencakup haus akan belaian, haus akan struktur, haus akan kesenangan, dan haus akan pengakuan. Teori AT menekan bahwa manusia memiliki kebutuhan untuk mengadakan hubungan yang bisa dicapai dalam bentuknya yang terbaik melalui keakraban. Harris (1967) menyatakan bahwa hubungan yang akrab di antara dua orang bisa dianggap sebagai hubungan. Jadi salah satu teori AT adalah dalam kerangka penyusunan waktu yang melibatkan berbagai cara memperoleh belaian dari orang lain.
d.      Skenario-Skenario Kehidupan dan Posisi-Posisi Psikologis Dasar
Skenario-skenario kehidupan adalah ajaran-ajaran orang tua yang kita pelajari dan putusan-putusan awal yang dibuat oleh kita sebagai anak, yang selanjutnya dibawa oleh kita sebagai orang dewasa. Kita menerima pesan-pesan dan dengan demikian kita belajar dan menetapkan tentang bagaimana kita pada usia dini. Pesan-pesan verbal dan non verbal orang tua mengomunikasikan bagaimana mereka melihat kita dan bagaimana mereka merasakan diri kita. Kita membuat putusan-putusan dini yang memberikan andil pada pembentukan perasaan sebagai pemenang (perasaan OK) atau perasaan sebagai orang yang kalah (perasaan tidak OK).
Perintah-perintah orang tua adalah bagian dari skenario kehidupan kita yang mencakup “harus”, “semestinya, “lakukan”, “jangan dilakukan”,  dan pengharapan-pengharapan orang tua. Kita mempelajari perintah-perintah itu pada usia dini dan kita juga membuat putusan-putusan tentang bagaimana kita akan merespon orang lain dan bagaimana kita merasakan harga diri kita.  Dalam kehidupan dewasa banyak tingkah laku kita yang tumbuh dari bagaimana kita “diskenariokan” dan dari hasil putusan-putusan dini yang kita buat.
       Berkaitan dengan konsep-konsep skenario kehidupan, pesan-pesan dan perintah-perintah orang tua, serta putusan-putusan dini itu adalah konsep dalam AT tentang empat posisi dasar dalam hidup, yaitu: (1) “Saya OK – kamu OK” , (2) “Saya OK – Kamu tidak OK”, (3) “Saya tidak OK – kamu OK”, (4) Saya tidak OK – kamu tidak OK”. Masing-masing posisi itu berlandaskan putusan-putusan yang dibuat orang sebagai hasil dari pengalaman dini di masa kanak-kanak. Jika seseorang telah membuat suatu putusan, maka dia pada umumnya akan bertahan pada putusannya itu kecuali jika ada campur tangan  (terapi atau kejadian tertentu) yang mengubahnya. Posisi yang sehat adalah posisi dengan perasaan sebagai pemenang atau posisi saya OK – kamu OK. Dalam posisi tersebut, dua orang merasa seperti pemenang dan bisa menjalin hubungan langsung yang terbuka. Saya OK – kamu tidak OK – kamu tidak OK adalah posisi orang-orang yang memproyeksikan masalah-masalahnya kepada orang lain dan mempersalahkan orang lain. Ia adalah posisi yang arogan yang menjauhkan seseorang dari orang lain dan mempertahankan seseorang dalam penyingkiran diri. Saya tidak OK – kamu OK adalah posisi orang yang mengalami depresi, yang merasa tak kuasa dibanding dengan orang lain dan yang cenderung menarik diri atau lebih suka memenuhi keinginan orang lain ketimbang keinginan sendiri. Saya tidak OK -  kamu tidak OK adalah posisi orang-orang yang menyingkirkan semua harapan, yang kehilangan minat hidup dan melihat hidup sebagai tidak mengandung harapan, yang kehilangan minat hidup dan melihat hidup sebagai tidak mengandung harapan.
e.       Permainan – Permainan yang Kita Mainkan
Para pendukung AT mendorong orang-orang untuk mengenali dan memahami perwakilan-perwakilan ego-nya. Alasannya adalah dengan mengakui ketiga perwakilan ego itu, orang-orang bisa membebaskan diri dari putusan-putusan anak yang telah usang dan dari pesan-pesan orang tua yang irasional yang menyulitkan kehidupan mereka. AT mengajari orang bagian mana yang sebaiknya digunakan untuk membuat putusan-putusan yang penting bagi kehidupannya. Di samping itu, para tokoh AT mengungkapkan bahwa orang-orang bisa memahami dialog internalnya antara orang tua dan anak. Mereka juga bisa mendengar dan memahami hubungan mereka dengan orang lain. Mereka bisa sadar akan kapan mereka terus terang dan kapan mereka berbohong kepada orang lain. Dengan menggunakan prinsip-prinsip AT, orang-orang bisa sadar akan jenis belaian yang diperolehnya, dan mereka bisa mengubah respon-respon belaian dari negatif ke positif. Mereka bisa memberi belaian yang juga mereka butuhkan. Jika mereka enggan melakukannya, mereka bisa memastikan bahwa orang tua pengkritik mereka mendikte mereka  agar “jangan” tergila-gila pada diri sendiri. Prndek kata, salah satu sasaran  AT adalah membantu orang-orang agar memahami sifat transaksi-transaksi mereka dengan orang lain sehingga mereka bisa merespon orang lain secara langsung, menyeluruh dan akrab. Dari situ kecenderungan pada permaianan bisa dikurangi.
AT memandang permainan-permainan sebagai penukaran belaian-belaian yang mengakibatkan berlarut-larutnya perasaan-perasaan tidak enak. Permainan-permainan boleh jadi memperlihatkan keakraban. Akan tetapi orang-orang yang terlibat dalam transaksi-transaksi memainkan permainan menciptakan jarak di antara mereka sendiri dengan mempersonalkan pasangannya. Transaksi itu sekurang-kurangnya melibatkan dua orang yang memainkan permainan. Masalah-masalah yang ditimbulkan oleh permainan-permainan itu adalah motif yang tersembunyi tetap terpendam dan para pemain memperoleh perasaan tidak OK.
f.       Tipe-tipe Transaksi
Selama transaksi, salah satu ego state akan diberi energi atau dikateksis secara dominan. Jadi, transaksi terjadi di antara ego states, dan di tingkat paling sederhana, analisis transaksional melibatkan diagnosis ego states yang terlibat dalam pertukaran stimulus dan respons. Ada tiga tipe utama transaksi: complementary, crossed, dan ulterior.
1.      Transaksi Komplementer (Complementary Transactions)
Transaksi komplementer adalah transaksi yang arah transaksi stimulus-responsnya konsisten, misalnya mendiskusikan kesulitan dunia (Parent-Parent), berbicara tentang pekerjaa (Adult-Adult), atau bersenang-senang bersama (Child-Child). Cara lain untuk mengatakannya adalah bahwa transaksi komplementer adalah transaksi yang orangnya menerima respons dari ego state yang ditujuannya.
2.      Transaksi Menyilang (Crossed Transaction)
Dalam transaksi menyilang, respons transaksionalnya (a) datang dari ego state yang berbeda dengan ego state yang dituju, dan/atau (b) mengarah ke ego state yang tidak mengirimkan stimulus awalnya. Aturan kedua atau aturan kebalikan komunikasi adalah komunikasi tidak berlanjut ketika sebuah transaksi menyilang terjadi. Faktanya, putusnya komunikasi itu mungkin hanya sementara. Akan tetapi, pada ekstrem sebaliknya, komunikasi bisa sepenuhnya terputus.
3.      Transaksi Tersembunyi
Ulterior communication (komunikasi tersembunyi) adalah di mana, tertutup di balik komunikasi terbuka dan secara sosial lebih dapat diterima, seorang individu terlibat dalam komunikasi yang mendasari dan secara sosial lebih berisiko. Cara lain untuk melihat ini adalah di banyak interaksi manusia, ada agenda sosial psikologis maupun sosial yang mendasari. Permainan psikologis, menurut definisinya, melibatkan transaksi tersembunyi. Transaksi tersembunyi dapat terjadi dalam situasi sehari-hari.
B.     TERAPI
a.      Tujuan Terapi
            Tujuan terapi AT adalah membantu klien dalam membuat putusan putusan baru yang menyangkut tingkah lakunya sekarang dan arah hidupnya. Sasarannya adalah mendorong klien agar menyadari bahwa kebebasan dirinya dalam memilih telah dibatasi oleh putusan putusan dini mengenai posisi hidupnya dan oleh pilihan terhadap cara cara hidup.
Harris (1967) tujuan AT untuk membantu individu individu agar memiliki kebebsan memilih, kebebasan mengubah keinginan, kebebasan mengubah respon respon terhadap stimulus stimulus yang lazim maupun baru. Harris (1967) menyatakan tujuan pemberian treatmen adalah menyembuhkan gejala yang timbul dan metode treatmen adalah membebasakan ego orang dewasa sehingga bisa mengalami kebebasan memilih dan penciptaan pilihan pilihan baru diatas dan diseberang pengaruh pengaruh masa lampau yang membatasi. Menurut Harris, hunungan terapeutik di capai dengan mengajarkan kepada klien dasar dasar ego orangtua, orang dewasa, dan ego anak. Para klien dalam setting kelompok itu belajar bagaimana menyadari, menangani ketiga ego selama ego ego tersebut muncul dalam transaksi transaksi dalam kelompok.
Berne (1964) menyatakan bahwa tujuan utama AT pencapaian otonomi yang diwujudkan oleh penemuan kembali tiga karakteristik, yaitu: kesadaran, spontanitas dan keakraban. Analisis transaksional berusaha membantu klien untuk mendapat sikap hidup “I am OK-You are OK”. Stewart (1996a) melihat tujuan-tujuan tersebut sebagai tahap-tahap progresif kea rah penyembuhan:
  1. Social control: Meskipun masih merasa distress (hendaya), klien dapat mengontrol gejala-gejalanya dalam berinteraksi dengan orang lain;
  2. Symptomatic relief: Membaik, atau “mengalami kemajuan” , yang dianggap Berne menjadikan klien “katak-katak yang merasa nyaman”.
  3. Transference cure: Di sini klien keluar dari skrip mereka selama mereka dapat menjaga terapisnya tetap berada didekatnya, secara harfiah atau secara mental.
  4. Aotonomy: Klien “keluar dari kulit kodoknya dan sekali lagi meneruskan perkembangannya sebagai pangeran atau putri raja terinterupsi” (Barne, 1966: 290). Ego state Adult klien mengambil alih peran terapis ketika klien mencapai otonomi. Otonomi mengacu pada kapasitas untuk perilaku “nonskrip” tanpa jadwal waktu tertentu, yang dikembangkan lebih kemudian dalam hidup, dan tidak di bawah pengaruh orangtua” (Barne, 1972: 418)
Pencapaian otonomi melibatkan mendapatkan kembali ketiga kapasitas sikap OK yang positif, yaitu: kesadaran, spontanitas, dan intimasi.
·         Kesadaran: Awareneess (kesadaran) berarti kapasitas untuk melihat dan mendengar langsung dan tidak dengan cara seperti yang digunakan ketika individu dibesarkan. Hal ini berarti hidup dalam here-and-now, terbuka terhadap berbagai sensasi yang datang dari lingkungan dengan cara seperti yang dilakukan oleh seorang pelukis, pujangga, atau musisi;
·         Spontanitas: Spontanitas berarti kapasitas untuk merasakan secara langsung dan mengekspresikan perasaan secara langsung dan tidak dengan cara seperti yang digunakan ketika individu dibesarkan. Orang yang spontan bias memilih perasaan: perasaan Parent, Adult, atau Child;
·         Intimasi: Intimasi berarti kapasitas untuk berhubungan dengan orang atau orang lain secara sadar, spontan, penuh kasih, dan bebas-permainan. Berne menganggap intimasi pada dasarnya adalah fungsi Child yang alamiah dan murni.
Analisis transaksional mengambil pendekatan kontraktual untuk terapinya. Terapis dan klien menegosiasikan sebuah kontrak yang menentukan tujuan penanganan dan tanggung jawab bersama dalam mencapai tujuan tersebut.
b.      Relasi Terapeutik
Analisi transaksional memberikan hubungan yang suportif dan nurturing yang kondusif bagi klien yang memikul tanggung jawab pribadi lebih besar atas hidupnya. Terapis memberikan izin kepada klien untuk memainkan peran aktif dalam terapi. Terapis mendukung klien pada saat mereka mengungkapkan dan menganalisis dirinya secara lebih lengkap dan mengujicobakan pola-pola perasaan, pemikiran dan perilaku yang lebih Adult.  
Hubungan terapis-klien mirip dengan hubungan pengajar-pembelajar yang demokratis. Pada awal terapi, terapis dan klien menetapkan aturan-aturan dasar dan menetukan elemen-elemen kontrak kerja dan kontrak belajar mereka. Terapis melatih klien tentang keterampilan menganalisis ego state, transaksi, permainan, dan skrip. Di samping itu, terapis mendorong dan membantu klien untuk mengidentifikasi opsi-opsi Adult untuk menghadapi berbagai orang, masalah, dan situasi dalam hidupnya.
c.       Fungsi dan Peran Terapis
Analisis transaksional dirancang untuk memperoleh pemahaman emosoional maupun pemahaman intelektual. Akan tetapi, dengan berfokus pada aspek-aspek rasional, peran terapis sebagian besar adalah memberikan perhatian pada masalah-masalah didaktik dan emosional. Harris (dalam Corey, 2010) melihat peran terapis sebagai seorang “guru, pelatih dan nara sumber dengan penekanan yang kuat pada keterlibatan”. Sebagai guru, terapis menerangkan konsep-konsep seperti analisis struktural, analisis transaksional, analisis skenario, dan analisis permainan. Terapis membantu klien dalam menemukan kondisi-kondisi masa lampau yang merugikan yang membuat putusan-putusan dini tertentu, memungut rencana-rencana hidup, dan mengembangkan strategi-strategi yang telah digunakan dalam menghadapi orang lain yang sekarang barangkali ingin dipertimbangkannya. Terapis membantu klien memperoleh kesadaran yang lebih realistis dan mencari alternatif-alternatif guna menjalani kehidupan yang lebih otonom.
Tugas terapis pada dasarnya dalah membantu klien agar memperoleh perangkat yang diperlukan bagi perubahan. Terapis mendorong dan mengajari klien agar lebih mempercayai ego orang dewasanya sendiri ketimbang ego orang dewasa terapis  dalam memeriksa putusan-putusan lamanya dan dalam membuat putusan-putusan baru.
d.      Pengalaman Klien dalam Terapi
Salah satu persyaratan dasar untuk menjadi klien analisis transaksional adalah memiliki kesanggupan dan kesediaan untuk memahami dan menerima suatu kontak, terapi. Kontak treatment berisi suatu pernyataan spesifik dan kongkret tentang sasaran-sasaran yang hendak dicapai oleh klien dan kriteria untuk menentukan bagaimana dan kapan sasaran-sasaran itu dicapai secara efektif. Kontrak menyiratkan bahwa klien adalah agen yang aktif dalam proses terapeutik. Sejak permulaan, klien menjelaskan dan menyatakan tujuan-tujuan terapinya sendiri dalam kontrak. Untuk mencapai tujuan-tujuan itu, klien dan terapis bisa merancang “tugas-tugas” yang akan dilaksanakan selama pertemuan terapi dan dalam kehidupan klien sehari-hari.
e.       Hubungan antara Terapis dan Klien
Analisis transaksional adalah suatu bentuk terapi berdasatkan kontrak. Suatu kontrak dalam analisis transaksional menyiratkan bahwa seseorang akan berubah. Kontrak haruslah spesifik, ditetapkan secara jelas, dan dinyatakan secra ringkas. Kontrak menyatakan apa yang akan dilakukan oleh klien, bagaimana klien akan melangkah kearah tujuan-tujuan yang akan ditetapkannya, dan kapan klien mengetahui saat kontraknya habis. Pendekatan kontrak dengan jelas menyiaratkan suatu tanggung jawab bersama. Dengan berbagi tanggung jawab bersama terapis, klien menjadi rekan dalam treatmennya. Terapis tidak melakukan sesuatu kepada klien sementara klien itu sendiri berlaku pasif. Akan tetapi, baik terapis maupun klien aktif dalam hubungan itu.
C.    INTERVESI TERAPEUTIK
Prosedur prosedur terpeutik
Proses proses, prosedur prosedur dan teknik teknik  yang umum digunakan dalam praktek Analisi Transaksional. Bisa diterapkan individual maupun dalam kelompok.
a.      Analisis struktural
Analisi structural adalah alat yang bisa membantu klien agar menjadi sadar atas isi dan fungsi ego orang tua,ego orang dewasa ,dan ego anaknya. Analisis structural membantu klien dalam mengubah pola- pola yang dirasakan menghambat. Ia juga membantu klien dalam menemukan perwakilan ego yang mana menjadi landasan tingkah yang mana yang menjadi landasan tingkah lakunya. Dengan penemuan itu, klien bisa memperhitungkan pilihan pilihannya.
b.      Analisis Transaksional
Analisis transaksional pada dasarnya adalah suatu penjabaran atas analisis yang dilakukan dan dikatakan oleh orang-orang terhadap satu sama lain. Apapun yang terjadi, orang-orang melibatkan suatu transaksi di antara perwakilan-perwakilan ego mereka. Ketika pesan-pesan disampaikan, diharapkan ada respons. Ada tiga tipe transaksi, yaitu komplementer, menyilang dan terselubung. Transaksi-transaksi komplementer terjadi apabila suatu pesan yang disampaikan oleh suatu perwakilan ego seseorang memperoleh respons yang diprakirakan dari perwakilan ego seseorang yang lainnya. Sebagai contoh adalah transaksi anak-anak yang suka bermain-main. Transaksi menyilang terjadi apabila respon yang tidak diharapkan diberikan kepada suatu pesan yang disampaikan oleh seseorang. Transaksi terselubung yang merupakan suatu transaksi yang kompleks, terjadi apabila lebih dari satu perwakilan ego terlibat serta seseorang menyampaikan pesan terselubung kepada seseorang yang lainnya.
c.      Kursi Kosong
Kursi kosong merupakan suatu prosedur yang sesuai analisis struktural. Misalnya seorang klien mengalami kesulitan dalam menghadapi boss nya (ego orang tua). Klien diminta untuk membayangkan bahwa seseorang tengah duduk di sebuah kursi di hadapannya dan mengajaknya berdialog. Prosedur ini memberikan kesempatan kepada klien untuk menyatakan pikiran-pikiran, perasaan-perasaan, dan sikap-sikapnya selama dia menjalankan peran-peran perwakilan-perwakilan ego-nya. Klien tidak hanya mempertajam kesadarannya, dalam kasus ini ego orang tuanya, tetapi juga kedua ego lainnya (anak dan orang dewasa) yang biasanya memiliki ciri-ciri tertentu dalam hubungannya dengan keadaan yang dibayangkan.
d.      Permainan peran
Prosedur prosedur At bisa digabungkan dengan teknik teknik psikodrama dan permainan peran. Dalam terapi kelompok, situasi situasi permainan peran bisa melibatkan para anggota lain. Seorang anggota kelompok memainkan peran sebagai perwakilan ego yang menjadi sumber masalah bagi seorang anggota lainnya dan ia berbicara kepada anggota lain tersebut. para anggota lain pun menjalankan perannya masing masing dan mencobanya di luar terapi.
e.      Percontohan keluarga
Klien diminta untuk membayangkan suatu adegan yang melibatkan sebanyak mungkin orang yang berpengaruh dimasa lampau, termasuk dirinya sendiri. Klien menjadi sutradara, produser, dan actor. Dia menetapkan situasi dan menggunakan para anggota kelompok sebagai pemeran para anggota keluarga (orang orang berpengaruh) serta menempatkan mereka pada situasi yang dibayangkan.
f.       Analisis upacara, hiburan, dan permainan
Analisis transaksi-transaksi menckup pengenalan terhadap upacara upacara (ritual ritual), hiburan hiburan dan permainan permainan yang digunakan dalam menyusun waktunya. Penyusuana waktu adalah bahan yang penting bagi diskusi dan pemeriksaan karena ia merefleksikan putusan putusan tentang bagaimana menjalankan transaksi dengan orang lain dan memperoleh belaian. Orang yang menyusun waktunya terutama dengan upacara upacara dan hiburan hiburan boleh jadi mengalai kekurangan balaian sehingga dia kurang akrab dalam transaksinya dengan orang lain.
g.      Analisis permaian dan ketengangan
Analisis permainana permainan dan ketegangan ketegangan adalah aspek yang penting bagi peahaman sifat transaksi dengan orang lai. Borne (1964) menjabarkan permaianan sebagai ‘’ rangkaian transaksi terselubung komplementer yang terus berlangung menuju hasil yang didefinisikan dengan baik dan dapat diperkirakan’’. Hasil dari kebanyakan permainan adalah perasaan ‘’ tidak enak’’ yang dialami oleh pemain..
h.      Analisis skenario
Scenario kehidupan atau rencana seumur hidup , yang berlandaskan serangkaian putusan dan adaptasi, sangat mirip dengan pementasan sandiwara. Orang orang mengalami peristiwa peristiwa hidup tertentu, menerima dan  mempelajari peran peran tertentu, mengulang ulang dan menampilkan peran peran itu sesuai dengan scenario. Ada casting watak, adegan adegan, dialog dialog, plot plot dan aksi aksi yang menuju pada akhir cerita. Scenario kehidupan psokologis menggariskan kemana seseorang akan menuju dalam hidupnya dan apa terdapat dalam scenario kehidupan itu adalah sifat menggerakannya yang mendorong seseorang untuk memainkannya.
Pembuatan scenario mula mula terjadi secara nonverbal pada masa kanak kanak melalui pesan pesan dari orang tua. Selama bertahun tahun pertama perkembangan, seseorang belajar tentang nilai dirinya sebagai pribadi dan tempat dirinya dalam kehidupan. Selanjutnya, pembuatan scenario berjalan melalui cara cara langsung maupun tidak. Analisis scenario bisa dilaksanakan dengan menggunkan suatu daftar scenario yang berisi item item yang berkaitan dengan posisi hidup, penipuan-penipuan, permainan permainan yang kesemuannya merupakan komponen kompone fungsional utama pada scenario kehidupan individu.
Intervensi dan Interposisi Dasar 
Intervensi
1.      Interogasi: Terapis menggunakan interogasi terutama untuk mengklarifikasi, memikirkan, dan mendokumentasikan poin-poin tertentu yang mungkin berguna secara klinis di masa yang akan dating. Contoh: “Apakah Anda benar-benar mencuri uang itu?” terapis yang mengajukan terlalu banyak pertanyaaan mungkin akan menemukan kliennya senang memainkan “Riwayat Psikiatrik”.
2.      Spesifikasi: Spesifikasi dimaksudkan untuk membetulkan sesuatu dalam pikiran terapis dank lien sehingga kelak dapat dapat dibawa ke dalam terapi. Contoh: “Jadi Anda selalu ingin membeli barang-barang yang lebih mahal”.
3.      Konfrontasi: dalam konfrontasi terapis menggunakan informasi yang sebelumnya di munculkan dan disebutkan untuk menunjukkan sebuah ketidakkonsistenan dan dengan demikian akan mengacaukan ego state Parent, Adult, dan Child klien.
4.      Penjelasan: terapis menggunakan explanation (penjelasan) untuk memperkuat, mendekontaminasi, atau mengubah orientasi ego state Adult klien. Contoh: “Jadi Anda lihat ego state Child dalam diri Anda sedang mengancam untuk menjadi aktif, dan jika itu terjadi, ego state Adult akan lenyap dan ego state Parent Anda akan mengambil alih dan ketika itulah Anda membentuk anak-anak.
Interposisi
1.      Ilustrasi:  Ilustrasi adalah onekdot, similes atau perbandingan yang mengikuti sebuah konfrontasi yang sukses dengan maksud memperbuatnya  dan melunakkan efek susulan (efek   stimulus yang muncul setelah stimulusnya menghilang ) yang tidak diinginkan. Ilustrasi adalah upaya terapis untuk menempatkan sesuatu diantara ego states Adult dan ego states lainnya yang membuatnya sulit menerobos masuk ke dalam kegiatan Parent atau Child.
2.      Konfirmasi: jika klien memberikan bukti konfirmatorik setelah konfrontasi, terapis dapat memanfaatkan konfirmasi untuk menstabilkan Adult klien. Sebagai contoh, jika klien mengatakan “saya benar-benar tidak bisa—Oh, maksudnya, saya tidak mau melakukannya” terapis segera mengonfirmasi kesadaran diri klien yang lebih tinggi itu (Dusay & Dusay, 1989: 441).
3.      Interpretasi: terapis menggunakan intervensi dan interposisi sebelumnya yang objek primernya mengateksi dan mendekontaminasi ego state Adult klien.
4.      Kristalisasi: analisis transaksional bermaksud membawa klien ke titik  di mana pernyataan kristalisasi dari terapis efektif. Kristalisasi adalah pernyataan posisi klien dari Adult terapis kepada Adult klien. Contoh kristalisasi adalah: “Jadi sekarang Anda dalam posisi menghentikan permainan kalau Anda menginginkannya.”
Penerapan pada Kelompok
Konsep-konsep dan teknik-teknik analisis transaksional cocok terutama untuk situasi-situasi kelompok. Analisis transaksional pada mulanya direncanakan sebagai suatu bentuk treatmen kelompok dan prosedur-prosedur terapeutiknya memberikan hasil dalam setting kelompok. Dalam setting kelompok, orang-orang bisa mengamati perubahan orang lain yang memberikan kepada mereka model-model peningkatan kebebasan memilih. Mereka menjadi paham atas struktur dan fungsi kepribadian mereka sendiri serta belajar bagaimana bertransaksi dengan orang lain. Mereka dengan cepat bisa mengenali permainan-permainan yang mereka mainkan dan skenario-skenario yang mereka perankan. Mereka mampu memusatkan perhatian pada putusan-putusan dininya yang boleh jadi belum pernah ditelaahnya secara cermat.
Harris (dalam Corey, 2010) sepakat bahwa treatment atas individu-individu dalam kelompok adalah metode memilih oleh analisis-analisis transaksional. Ia memandang fase permulaan kelompok analisis transaksional sebagai suatu proses mengajar dan belajar serta meletakan kepentingannya pada peran didaktis terapis semangat dan kemampuannya sebagai pengajar dan kesiagaannya dalam mengikuti setiap komunikasi atau isyarat dalam kelompok, beik verbal maupun non-verbal. Ia juga membahas beberapa keuntungan yang bisa diperoleh dari pendekatan kelompok diantaranya: (1) berbagai cara ego orang tua mewujudkan dirinya dalam transaksi-transaksi bisa diamati. (2) karakteristik-karakteristik ego anak pada masing-masing individu dalam kelompok bisa dialami. (3) orang-orang bisa dialami dalam suatu lingkungan yang alamiah, yang ditandai oleh keterlibatan dengan orang-orang lain. (4) konfrontasi permainan-permainan yang timbal balik bisa muncul secara wajar. (5) para klien bergerak dan membaik lebih cepat dalam treatment kelompok.