A.
Pengertian
Terapi Humanistik-Eksistensial
Terapi eksistensial adalah pendekatan konseling dan psikoterapi
yang didasarkan pada pemahaman filosofis tentang apa makna menjadi manusia, dan
apa makna keberadaannya. Pemahama ini berdasarkan karya beberapa filsuf, dan
para terapis berbeda dalam memberikan penekanan pada filsuf tertentu.
Pendekatan eksistensial ini tidak hanya mempelajari tentang eksistensi dan
menerapkannnya pada pendekatan lain secara terpisah.
B.
Teori
dan Konsep Dasar
Pemikiran eksistensial memiliki beberapa asumsi dasar tentang apa
yang sejati bagi kita semua, dan asumsi-asumsi tentang apa makna eksistensi
kita. Asumsi-asumsi fundamental tersebut sering diacu sebagai hal-ghal
‘biasa’ dalam pembahasan tentang eksistensi.
a.
Hakikat manusia
Jean-Paul
Sartre (1905-1980), mungkin filsuf eksistensi paling populer, berpendapat bahwa
tidak ada hal yang disebut ‘hakikat manusia’, karena hakikat manusia itu intinya
tidak ada. Inti keberadaan adalah ketiadaan. Kita menjadi sesuatu melalui
pilihan-pilihan yang kita buat—dengan cara mengisi kehidupan kita. Kita menjadi
sesuatu yang tidak pernah tetap, tidak pernah sekaligus. Bahkan, kita selalu
berproses, selalu berubah. Jadi berbicara tentang tipe-tipe kepribadian
atau bahkan bertanya ‘Siapa saya?’ adalah hal yang tidak masuk akal, karena
kita tidak pernah menjadi seseorang, namun selalu berada dalam proses menjadi.
Dari perspektif eksistensialis, diri bukanlah suatu barang, bukan entitas yang
berlainan yang bisa dilukiskan dan dideskripsikan. Dari waktu ke waktu, diri
yang baru muncul, tiap pengalaman baru menempatkan kita di tempat yang berbeda
dan kita tidak pernah bisa secara persis sama dengan kita di waktu sebelumnya.
b.
Pilihan
Banyak orang
berpendapat bahwa gagasan ini sulit dipahami, karena kebanyakan kita memiliki
rasa berkelanjutan dan rasa diri yang kuat. Kita merasa sebagai orang yang sama
pagi ini, kemarin, dan 20 tahun yang lalu. Kita tampaknya membutuhkan rasa
kesamaan ini karena tanpa itu kita merasa sangat tidak aman. Pada saat yang sama,
eksistensialis berpendapat bahwa kita membatasi diri sendiri dengan melihat
diri kita dengan cara yang tetap dan tidak berubah. Seberapa seing kita telah
mendengar diri kita atau orang lain berkata, ‘Saya tetap sama seperti itu’,
‘Itulah saya’? Kita berbicara seolah-olah tidak ada yang berubah dan
seolah-olah kita tidak bertanggung jawab atas diri kita saat ini—‘Saya
ditakdrkan seperti itu’ kita sering berkata demikian. Sartre berpendapat bahwa kita punya
jauh lebih banyak pilihan daripada yang kita bayangkan, dan ia percaya dalam
keterbatasan ‘faktisitas’ kita, (facticity) kita bisa menjadi apa pun
yang kita pilih. Faktsitas mengacu pada fakta-fakta eksistensi kita,
aspek-aspek yang kita tidak punya pilihan—misalnya, keadaan saat kelahiran
kita, orang tua kita, tempat, waktu, dan budaya yang kita masuki saat kita
lahir, warisan genetic kita, tempat kita bertumbuh. Di mana kita benar-benar
punya pilihan adalah dalam respons kita pada batasan-batasan itu: itulah
kebebasan kita.
c. Kebebasan
Sartre berpendapat bahwa tidak ada
hal yang pasti (terlepas dari kepastian akan kematian), tidak ada hal yang
absolute, terserah kita untuk memutuskan bagaimana kita ingin menjalani
kehidupan kita, untuk membuat aturan kita sendiri, mendapati makna kita sendiri.
Dengan kata lain, kita memanggul
beban tanggung jawab yang sangat besar.
Untuk mengakui bahwa kita bertanggung jawab atas diri kita dengan cara ini
memprovokasi kecemasan yang luar biasa, dan pada saat yang sama kesadaran
tentang kebebasan kita bisa alami sebagai pengalaman yang sangat membebaskan.
Namun demikian, sering kita merasai lebih mudah untuk ‘bermain aman’ dengan
melakukan apa yang selalu kita lakukan, mengikuti aturan dan berpura-pura bahwa
kita tidak punya pilihan. Dengan melakukan itu, kita menyangkal pengalaman
hidup yang lebih bergairah dan lebih bersemangat.
c.
Kecemasan dan Perasaan Bersalah
Eksistensialis
berpendapat bahwa karena kita punya ukuran kebebasan dan diharuskan untuk
memilih, tak bisa dihindari kita juga akan merasa cemas. Kecemasan eksistensial
dianggap sebagai suatu aspek eksistensi, ‘anugerah’ yang eksistensial di mana
kita tidak dapat menghindarinya. Akhirnya, kehidupan kita adalah tanggung jawab
kita dan itu membuat kita cemas. Pada saat yang sama eksistensialis berpendapat
bahwa kita tidak bisa memenuhi tanggung jawab pada diri kita, kita hanya bisa
berupaya melakukannya. Karena kita tidak pernah bisa memenuhi potensi kita,
kita pasti tidak bisa mencapai keadaan kita yang seharusnya, kita tidak bisa
menghindari perasaan bersalah secara eksistensial. Kita selalu berutang
pada diri kita sendiri, kita berutang pada diri kita untuk menjadi lebih
daripada kita sekarang ini, sehingga kita merasa bersalah. Seperti kecemasan
eksistensial, kesalahan eksistensial dianggap sebagai aspek keberadaan manusia
yang tak bisa dielakkan.
d. Keberadaan di Dunia
Heidegger
mendeskripsikan eksistensi sebagai ‘keberadaan di dunia’. Ia menggunakan frasa
ini untuk menekankan relasi tak terelakkan kita, hubungan kita ‘yang sudah dari
sananya’ pada semua hal yang kita jumpai. Kita selalu berada dalam dunia ini
dan bahwa dunia itu adalah milik kita. Ketika kita mati, dunia kita, dunia yang
kita tahu akan mati bersama kita.
e. ‘Dunia dengan’
Tak hanya kita selalu membawa dunia
kita bersama kita, namun kita juga selalu hidup terkait dengan orang lain, kita
hidup dalam sebuah ‘dunia dengan’. Kita selalu
berhubungan, meskipun kita memilih hidup terpisah dengan orang lain. Hanya dengan
melalui orang lain kita dapat merasakan diri
kita, dengan berelasi dengan orang lain kita menjadi diri kita sekarang ini. Pada saat yang sama, diri kita selalu berada dalam keadaan yang
bergejolak. Diri kita dengan teman, saudara perempuan, bos, dengan siapa pun
juga, adalah diri yang lain dalam tiap hubungan itu. Sama seperti respon tiap
orang kepada kita tidak sama, tak seorang pun melihat kita dengan cara yang
persis sama seperti orang lain melihat kita. Mungkin benar untuk berkata, ‘Saya
punya kepribadian sebanyak jumlah teman saya.’
f.
Dunia yang
Diinterpretasikan
Penekanan pada hubungan kita yang
tak terelakan pada semua yang ada menunjukkan bahwa dalam beberapa hal kita
bukanlah individu yang terpisah, namun saling terlibat dengan orang-orang yang
kita jumpai. Pada saat yang sama eksistensialis juga menekankan keunikan kita, tak ada
pengalaman orang lain yang persis sama dengan pengalaman kita. Saya
tidak pernah benar-benar tahu seperti apa menjadi anda. Kita semua berdiri di
tempat unik kita masing-masing dan setiap kita memandang dunia dari perspektif
kita sendiri. Secara paradoks,kita terhubung pada orang lain dan pada saat yang
sama akhirnya terpisah dengan mereka. Walaupun pengalaman kita sangat mirip
sekalipun,setiap kali kita mengalami hal-hal yang agak berbeda. Makna yang kita
berikan pada sesuatu menjadi milik kita, orang lain mungkin memberi makna lain
pada hal yang sama. Jadi, makna suatu objek, situasi atau pengalaman milik orang yang
memberi makna tersebut-makna itu tidak tercantum dalam objek, situasi, atau
pengalaman kita sendiri. Melalui respons kita pada apapun yang kita jumpai, kita
menciptakan dunia kita.
Kita selamanya menginterpretasikan
dan melekatkan makna pada semua yang kita alami. Makna yang kita berikan bisa
berubah seiring waktu, sesuatu yang dulu sangat bermakna sekarang mungkin
bermakna kecil saja.kita sering membatasi diri dengan percaya bahwa makna yang
kita berikan itu tetap dan tidak dapat berubah, kita menjadi kaku dan tidak
fleksibel. Pengakuan bahwa perubahan itu ada dalam jangkauan kita, terkait
dengan pandangan kita tentang diri kita dan dalam makna yang kita berikan, adalah
pengalaman yang sangat membebaskan bagi banyak orang.
g.
Kematian
Satu hal yang tidak bisa kita ubah
adalah kematian,satu kepastian yang kita semua punyai, meskipun, tentu saja, waktu,
dan tempat kematian kita tidak diketahui dan makna yang kita berikan beragam. Alih-alih
menanggap kematian sebagai bencana, Heidegger menawarkan bahwa kesadaran akan kematian
itu justru membebaskan. Kematian adalah dimensi kehidupan, dan menyangkal
kematian kita justru membatasi pengalaman hidup kita. Cobalah bayangkan anda
hidup selamanya. Jika kita berpikir bahwa kita makhluk yang tidak abadi, bahwa kehidupan
itu terbatas, maka kita akan hidup lebih penuh pada saat ini.
h.
Memperoleh
Dan Mengekalkan Gangguan Psikologis
Terapis eksistensial tidak berfokus
kategori-kategori diagnostik, yaitu dengan memberi label orang-orang dan
mempatologikan kesulitan mereka.dengan kata lain, mereka tidak menganggap klien
yang mereka terapi mengalami kesakitan yang bisa didefinisikan. Alih-alih, mereka
akan menganggap kesulitan klien sebagai `masalah dalam kehidupan`, di mana kita
semua mengalami, klien dan terapis sama saja. Kita tidak ` memperoleh gangguan
psikologis`, namun lebih pada kesakitan eksistensi manusia, kehidupan itu
sendiri, dianggap sebagai gangguan. Seperti yang telah dibahas
sebelumnya, Eksistensi manusia mencakup beberapa hal kodrati: pengalaman
kecemasan dan perasaan bersalah: hidup menuju kematian: tanggung jawab untuk
menemukan makna kehidupan kita sendiri: hidup dalam `dunia dengan` dan pada
saat yang sama akhirnya terisolasi.
Ada kemungkinan kita memilih mengabaikan`panggilan nurani` panggilan
untuk menghadapi tantangan untuk menjalani kehidupan dengan lebih penuh dan
oleh karena itu kita merasa kehidupan kita ada yang kurang. Kita mungkin merasa
bahwa pengambilan keputusan dan tanggung jawab itu terlalu berat. Pengalaman
sebelumnya telah memengaruhi kita sedemikian rupa sehingga harga diri kita
rendah dan relasi kita buruk. Kehidupan kita mungkin kehilangan makna dan tujuan. Kesulitan
kita berlanjut karena kita tidak menyadari cara kita yang justru mengekalkan
kesulitan itu. Kita menemukan banyak cara untuk mengabaikan kemungkinan
–kemungkinan yang tersedia bagi kita, kita justru membatasi diri kita. Dalam upaya
kita yang terus-menerus menuju tingkat keamanan yang tak bisa diraih, kita
membatasi diri kita dan mengekalkan masalah kita.
i.
Perpindahan
Ke Kesehatan Psikologis
Dari perspektif
eksistensial,`kesehatan psikologis` itu tidak dimungkinkan. Usaha kita untuk
menjalani kehidupan yang bebas dari rasa khawatir, bebas stres, dan seimbang
bisa mengekalkan kesulitan kita. Dengan menghadapi problem kita dan bertanggung
jawab atas pilihan-pilihan kita, kita mengalami rasa kendali diri yang lebih
besar. Pada saat yang sama kita mungkin menjadi lebih cemas, meskipun berbeda
dengan rasa cemas ketika kita berpikir bahwa dimungkinkan untuk membuat ini pasti
dan aman. Jika kita siap menanggung risiko dan membiarkan rasa tidak aman dan tidak
pasti, kita bisa lebih baik menghadapi kehidupan ini. Diperlukan keberanian dan
tekad yang besar untuk menentukan kehidupan ini dengan tangan anda sendiri, walaupun
beberapa orang akan beranggapan bahwa hasilnya tidak bisa diperhitungkan.
C.
Praktik
a.
Tujuan-Tujuan
Terapi eksistensial bertujuan agar klien mengalami keberadaannya secara
otentik dengan menjadi sadar atas keberadaan dan potensi-potensi serta sadar
bahwa ia dapat membuka diri dan bertindak berdasarkan kemampuannya. Terapis
eksistensial tidak berfokus pada penentuan tujuan spesifik untuk terapi. Pembukaan
kemungkinan bisa dikatakan sebagai tujuan umum terapi eksistensial. Klien
sering datang ke terapi karena merasa bahwa hidup mereka dibatasi atau
kehilangan tujuan. Mereka mungkin punya hubungan yang tidak memuaskan, atau
mungkin merasa menjadi korban keadaan atau lainnya, mereka ingin mengubah cara
mereka menjalani kehidupan namun tidak tahu cara untuk melakukannya. Klien
menggambarkan dirinya sebagai orang yang merasa kehidupannya mandek dan tidak
bisa berubah. Diharapkan, melalui proses terapi ini klien bisa menyadari bahwa
mereka punya lebih banyak kebebasan daripada yang mereka pikirkan sebelumnya
dan bahwa ada banyak batasan yang mengungkung kita, kita masih punya pilihan
terkait dengan bagaimana merespons batasan-batasan itu.
Selama terapi, klien menyadari tanggung jawabnya atas pilihan yang
diambilnya saat ini, yang diambilnya pada masa lalu, dan akan diambilnya di
masa depan. Semua itu melibatkan pengakuan bahwa memilih
itu seringkali sulit—dalam mengatakan ‘ya’ pada satu hal dan ‘tidak` pada hal
lain, dan tentu saja, memilih untuk tidak memilih berarti kita juga membuat
pilihan. Itulah khususnya. Terapis eksistensial tidak akan bekerja untuk
menghilangkan kecemasan pada diri klien, karena justru akan berarti menafikan
kebebasan dan tanggung jawab klien. Alih-alih ,terapis eksistensial akan
mendorong klien untuk berkonfrontasi dengan kesulitannya dan menghadapi
kecemasan yang mengikuti.hal yang sama terjadi untuk perasaan bersalah
eksistensial.alih-alih mencoba menghilangkan perasaan bersalah, terapis
eksistensial akan memfasilitasi kemampuan klien mengenali kapan ia menghindar
mengambil tanggung jawab untuk memenuhi potensinya.itu dilakukan dengan
pemahaman bahwa kita tidak pernah bisa memuaskan diri kita,kita selalu
kekurangan. Dengan kata lain,kita tidak boleh gagal untuk gagal. Autentisitas
dideskripsikan sebagai tujuan terapi eksistensial,namun sering kali
disalahartikan sebagai konsep. Heidegger mendiskusikan autentisitas sebagai
cara menjadi yang benar untuk eksistensi. Bukan
tentang menjadi yang benar untuk diri inti mistis.ketika kita autentik, kita menyadari kodrat
eksistensi-kebebasan,tanggung jawab,kematian,dan sebagainya. Kita adalah
makhluk yang penuh pertimbangan, sadar
apa makna keberadaan. Keadaan
yang penuh pertimbangan ini tidak permanen namun lebih hanya terjadi sementara, misalnya ketika
kehidupan kita atau orang dekat kita terancam karena sakit. Begitu ancaman itu
dihilangkan, kita
kembali ke keadaan yang tidak autentik. Sebagian
besar kita adalah makhluk pelupa, kita
hanya mengikuti arus dan mengabaikan mortalitas kita.mungkin melalui proses
terapi, klien
menjadi lebih sadar keauntentisitasannya,walaupun samar, namun akhirnya selalu
klienlah yang memutuskan tujuan terapi.
b.
Metode
Eksistensial mengadopsi metode
fenomenologis yang pertama kali dideskripsikan oleh Edmund Husserl (1859-1938).
Sederhananya, metode ini tidak menganggap semua hal bisa diterima begitu saja,
tetapi semua hal perlu dipertanyakan. Kita diminta menjadi naif, mengadopsi
sikap terbuka, hampir mirip sikap seorang anak, yang tidak berasumsi bahwa kita
tahu atau memahammi segala hal. Hal yang disebut ‘reduksi fenomenologis’ ini
meminta kita menyampingkan pemahamman yang kita peroleh sebelumnya,
menanggalkan prasangka dan bias dan menunjukan sikap kekaguman pada semua hal
yang kita jumpai. Dengan mereduksi asumsi kita tentang apa pun yang kita
selidiki, kita bisa memperoleh pemahamman yang lebih baik dan lebih dekat pada
hal itu sendiri. Dengan begitu, kita meningkatkan pengetahuan tentang fenomena
itu (objek investigasi kita) ketimbang hanya berkutat dengan gagasan kita
tentang itu.
Para terapis ekistensial juga mengadopsi
metode fenomenologis dalam pendekatan mereka pada konseling dan psikoterapi.
Mereka akan berupaya menyampingkan praangka dan teori tentang teman sesama
manusia merek, tentang hal yang membuat klien terganggu dan apa yang terbaik
baginya. Dengan begitu, terapis tetap menyediakan bagi klien suatu cara
demikian rupa sehingga terapi bisa mendengar keprihatinan klien dari perspektif
klien ketimbang perspektif mereka. Dengan hanya tetap bersama apapun yang
ditunjukan klien, dengan fenomena, dan tidak mencari penyebab atau penjelasan,
terapis dan klien secara perlahan akan mendapatkan pemhaman yang lebih baik
tentang pengalaman klien. Terapis akan mencoba mendeskripsikan apa yang
dipahaminya sehingga kejelasan yang lebih besar tentang cara menjadi klien bisa
dicapai.
c.
Hubungan Terapeutik
Seperti telah didiskusikan di atas,
proposisi fundamental pemikiran Eksistensial adalah bahwa kita selalu berada
dalam hubungan, kita hidup dalam ‘dunia dengan’. Dengan kata lain, semua yang
kita lakukan, katakan, dan rasakan selalu terjadi dalam relasi dengan orang
lain. Pemahaman ini membuat kita
mengakui bahwa di segala interaksi, kita selalu saling memngaruhi.
Ketika terapis dan klien bertemu, mereka menjadi diri mereka dalam hubungannya
satu sama lain. Yang diungkapkan klien kepada seorang terapis tidak selalu sama
dengan pengungkapan mereka pada terapis terapis lain. Begitu juga dengan
respons terapis dalam hubungannya dengan klien tertentu. Penekanan pada saling
keterhubungan ini berarti bahwa kita tidak dipandang memiliki dunia internal
yang tetap di dalam kepala kita, namun lebih sebagai orang yang selalu berinteraksi
dengan orang lain. Dengan kata lain, siapa diri kita di saat tertentu tidak
bersemayam di dalam diri individu, namun ada ‘di antara’, antara kita dan orang
lain, di situlah terjadinya relasi.
d.
Sikap terapis
Terapis ekisitensial tidak
menganggap dirinya lebih superior daripada kliennya dan ia menghormati kliennya
sebagai sesama manusia.
Kita semua sama, yaitu menghadapi kodrat yang sama. Terapis bukanlah orang yang
tidak mengalami kesulitan saat ini dan tak juga menganggap dirinya lebih kebal
dari problem di masa depan. Hal itu mungkin lebih masuk akal untuk mengatakan
‘orang-orang dalam terapi’ ketimbang terapis dan klien. Baik klien dan terapis
akan diubah dengan hubungan yang mereka jalin. Pada saaat yang sama, sungguh
bodoh jika diktakan bahwa tidak ada ketidaksamaan dalam relasi itu. Fokusnya
pada permasalahan klien dan klien datang ke terapis untuk minta bantuan.
Sementara itu, permasalahan terapis tidak diungkapkan. Sekalipun demikian,
terapis akan berusaha membuat relasi yang sepadan di mana ia dan klien adalah
mitrapengeksplorasi pengalaman klien.
Menurut Buhler dan Allen, para
ahli psikologi humanistik memiliki orientasi bersama yang
mencakup hal-hal berikut :
1.
Mengakui pentingnya pendekatan dari pribadi ke pribadi.
2.
Menyadari peran dari tanggung jawab terapis.
3.
Mengakui sifat timbal balik dari hubungan terapeutik.
4.
Berorientasi pada pertumbuhan.
5.
Menekankan keharusan terapis terlibat dengan klien sebagai suatu pribadi
yang menyeluruh.
6.
Mengakui bahwa putusan-putusan dan pilihan-pilihan akhir terletak di
tangan klien.
7.
Memandang terapis sebagai model, dalam arti bahwa terapis dengan gaya
hidup dan pandangan humanistiknya tentang manusia bisa secara implisit
menunjukkan kepada klien potensi bagi tindakan kreatif dan positif.
8.
Mengakui kebebasan klien untuk mengungkapkan pandangan dan untuk
mengembangkan tujuan-tujuan dan nilainya sendiri.
9.
Bekerja ke arah mengurangi kebergantungan klien serta meningkatkan
kebebasan klien.
e.
Intervensi
Diam mungkin adalah intervensi
terpenting yang bisa dilakukan terpis karena hanya dalam diam kita bisa
mendengar orang lain berkata. Namun demikian , bukan berarti terapis tidak
bertanya sama sekali kepada klien, atau menanatang asumsi klien. Sikap fenomenologis
berarti bahwa terapis tidak menganggap semua sebagai hal yang wajar, dan tidak
berasumsi bahwa ia dan klien telah memahami hal yang dideskripsikan. Klien akan
ditanya untuk mengklrifikasi secara tepat apa yang mereka bicarakan dan alami.
Terapis mencoba mengusik asumsi-asumsi yang dianut untuk didiskusikan guna
memunculkan pandangan dunia klien. Melalui proses ini, diharapkan hal yang
benar-benar bermakna bagi klien bisa terungkap.
Terapis
tidak akan menafsirkan hal yang dikatakan klien sehingga membuat satu
hal bisa bermkna lain. Alih-alih, terpis akan mencoba mendeskripsikan hal yang
telah dipahaminya dari klien. Penafsiran harus tetap bersifat deskriptif. Suatu
objek yang muncul di sebuah mimpi, misalnya sebuah kotak, tak akan ditafsirkan
menjadi benda lain, misalnya rahim. Kotak itu akan diselidiki apa adanya
sehingga maknanya bagi klien bisa diungkapkan lebih lengkap.
f.
Proses perubahan
Terapis eksistensial memberi klien ruang
di mana klien bisa mengeksplorasi pengalamannya. Terapis akan berupaya
mengembangkan kepercayaan dan hubungan yang saling peduli di mana klien merasa
cukup aman untuk mengungkapkan dirinya. Usha terapis untuk menemukan sesutau
tentang seperti apa kehidupan itu bagi klien, untuk mendapatkan kedekatan
dengan penglaman klien. Melalui proses ini klien akan mulai menanyakan
asumsinya yang sangat diyakini tentang dirinya dan hal yang mungkin baginya. Ia
mungkin mulai menyadari bahwa ia punya lebih banyak pilihan daripada yang ia
pikirkan sebelumnya dan akan mulai mengetahui tanggung jawabnya untuk dirinya
sendiri. Terapis menyampingkan ide apa pun yang dipunyainya tentang hal apa
yang baik bagi klien, karena klienlah yang memutuskan segala perubahan.
g.
Format Sesi Tipikal
Para terapis eksistensial sepakat bahwa
tidak mungkin mendeskripsikan bentuk sesi yang tipikal karena setiap pertemuan
terapeutik berbeda. Karena baik klien dan terapis adalah individu unik, mereka
merespons lingkup terapeutik dengan cara mereka sendiri. Tidak ada
aturan-aturan yang didefinisikan secara jelas dalam terapis eksistensial. Dalam
kerangka filosofi eksistensial, tiap terapis bertanggung jawab mengembangkan
gaya kerja mereka sendiri. Terapis eksistensial selalu meyerahkan kepada klien
untuk menentukan agenda setiap sesi.
Daftar Pustaka
Corey, Gerald. 2013. Konseling dan
Psikoterapi, Bandung: Refika Aditama.
Palmer, Stephen. 2011. Konseling dan Psikoterapi. Yogyakarta:
Pustaka Belajar.
b.
Metode
3.
Mengakui sifat timbal balik dari hubungan terapeutik.
5.
Menekankan keharusan terapis terlibat dengan klien sebagai suatu pribadi
yang menyeluruh.
7.
Memandang terapis sebagai model, dalam arti bahwa terapis dengan gaya
hidup dan pandangan humanistiknya tentang manusia bisa secara implisit
menunjukkan kepada klien potensi bagi tindakan kreatif dan positif.
9.
Bekerja ke arah mengurangi kebergantungan klien serta meningkatkan
kebebasan klien.
e.
Intervensi