Jumat, 06 Mei 2016

Disosiatif (Judul film : Peacock)


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Judul Film
Judul film               : Peacock
Sutradara                : Michael Lander
Produser                 : Nicole Brown, Nathan Kahatne, Barry Mandel
Dirilis oleh               : Mandate pictures
Tahun rilis              : 2010
Genre                      : Thriller
B.    Deskripsi Tokoh-Tokoh Dalam Film
1. Cillian Murphy sebagai John Skillpa
Tokoh utama pria yang berprofesi sebagai seorang karyawan BANK yang pemalu dan termasuk orang yang menutup diri di lingkungan tempat tinggalnya, John mempunyai kepribadian ganda sebagai Emma yaitu perempuan sebagai alter ego.
2. Ellen Page sebagai Maggie
Seorang ibu muda yang berjuang menghidupi anak hasil hubungannya dengan John, Meggi juga memegang kunci kehidupan John di masa lalu dan memicu pertempuran atau pertengkaran antara kepribadian John dan Emma.
3. Susan Sarandon sebagai Fanny Crill ,
Seorang wanita istri dari Ray Crill yang mencalonkan diri menjadi walikota Peacock,. Saat suaminya mencalonkan diri menjadi walikota Peacock dan ia berpikir kalau lokasi kecelakaan kereta tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari kampanyenya suaminya. Mulailah Fanny (Susan Sarandon) mendekati Emma untuk melancarkan misi suaminya.

4. Josh Lucas sebagai TomMcGonigle

Seorang perwira polisilokal dan merupakan orang yang paling dekat dengan John.

C. Sinopsis Film “Peacock”
Peacock menceritakan mengenai John Skillpa (Murphy), seorang pegawai di sebuah bank di kota Peacock, Nebraska, yang memilih untuk menjauhi kehidupan di sekitarnya. Memang, semenjak dahulu keluarga Skillpa dikenal mayarakat Peacock sebagai sebuah keluarga yang tertutup. Namun bukan hanya itu yang menjadikan John sebagai seorang pria yang terasing dari komunitas sekitarnya. John memiliki kepribadian ganda sebagai seorang wanita yang tak seorangpun tahu keberadaannya.
Suatu hari, ketika sedang berada dalam kepribadiannya sebagai seorang wanita, sebuah gerbong kereta api mengalami kecelakaan dan menabrak halaman belakang rumah John. Hal ini tentu saja menarik perhatian masyarakat sekitarnya, apalagi setelah melihat bahwa ada sesosok wanita yang berada di rumah John. Oleh tetangga, sosok wanita tersebut akhirnya dikenal sebagai istri John yang bernama Emma.
Kehidupan John yang selama ini tertutup, kini seolah menjadi perhatian publik dengan adanya kejadian kecelakaan gerbong kereta api dan penemuan bahwa John telah memiliki seorang “istri”. Tak pelak, bahkan istri walikota Peacock, Fanny Crill (Susan Sarandon), tertarik dengan kehidupan Emma dan ingin mengajaknya untuk ikut bagian dalam kampanye pemilihan suaminya kembali sebagai walikota Peacock di periode berikutnya. Ternyata, sosok Emma dan John sama sekali tidak terhubung satu sama lain. Ketika Emma menyatakan kesetujuannya untuk ikut serta di berbagai acara publik, sosok John malah kemudian menentang keputusan tersebut.
Masalah bagi John kemudian malah semakin bertambah dengan kedatangan Maggie (Ellen Page), seorang wanita yang dulu pernah dibayar ibu John agar mau berhubungan intim dengannya. Ternyata, hubungan tersebut membuahkan seorang anak. Ibu John ternyata selama ini telah membayar Maggie agar menjaga jaraknya dari John agar ia tidak mengetahui tentang keberadaan sang anak. Maggie, yang tidak mengetahui bahwa ibu John telah meninggal setahun yang lalu, kini datang untuk meminta bantuan finansial karena dirinya tidak menerima kiriman uang selama setahun terakhir. Berbagai permasalahan ini kemudian makin diperumit oleh sosok Emma dalam diri John yang semakin ingin menunjukkan eksistensinya dan berniat untuk menyingkirkan sosok John.




















BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Gangguan disosiatif merupakan sebuah tipe gangguan psikologis yang melibatkan suatu perubahan atau gangguan dalam fungsi self-identitas, memori atau kesadaran yang membentuk sebuah kepribadian utuh. Pada kondisi normal, kita mengetahui siapa diri kita. Kita mungkin tidak merasa yakin mengenai diri kita secara eksistensial, atau filosofis, namun kita tahu siapa nama kita, dimana kita tinggal. Kita juga ingat pada peristiwa-peristiwa penting dalam hidup kita. Kita mungkin tidak dapat menceritakan secara detail, namaun secara umum kita tahu apa yang telah kita lakukan selama beberapa hari, beberapa minggu, dan beberapa tahun terakhir. Secara normal, ada kesatuan kesadaran yang membangkitkan sence of self. Pada gangguan disosiatif, satu atau lebih dari aspek dalam kehidupan sehari-hari ini terganggu terkadang secara aneh.
Secara umum gangguan disosiatif (dissociative disorders) bisa didefinisikan sebagai adanya kehilangan (sebagian atau seluruh) dari integrasi normal (di bawah kendali sadar) yang meliputi ingatan masa lalu, kesadaran identitas dan peng-nderaanan segera (awareness of identity and immediate sensations), serta control terhadap gerak tubuh.
Dalam penegakan diagnosis Gangguan Disosiatif harus ada gangguan yang menyebabkan kegagalan mengoordinasikan identitas, memori persepsi ataupun kesadaran, dan menyebabkan gangguan yang bermakna dalam fungsi sosial, pekerjaan dan memanfaatkan waktu senggang.
Gejala utama gangguan ini adalah adanya kehilangan (sebagian atau seluruh dari integrasi normal (dibawah kendali kesadaran) antara lain:
  • ingatan masa lalu
  •  kesadaran identitas dan penginderaan (awareness of identity and immediate sensations)
  • kontrol terhadap gerakan tubuh
            Pada DSM versi awal, gangguan disosiatif dikelompokkan bersama gangguan kecemasan. Pengelompokkan ini didasarkan pada model psikodinamika, yang berpendapat bahwa berbagai gangguan melibatkan cara-cara maladaptif dalam mengelola kecemasan. Pada gangguan kecemasan, munculnya kecemasan pada tingkatan mengganggu diekspresikan secara langsung dalam perilaku, seperti fobia pada suatu objek atau situasi. Namun peran keemasan dalam gangguan disosiatif lebih cenderung diisyaratkan dan bukan diekspresikan dalam perilaku. Orang dengan gangguan disosiatif mungkin tidak akan menunjukkan kecemasan yang terlihat jelas. Namun hal tersebut dimanifestasikan pada masalah psikologis lain, seperti kehilangan ingatan atau perubahan identitas. Saat ini DSM memisahkan gangguan kecemasan dari gangguan disosiatif.
Gangguan Disosiatif
            Gangguan disosiatif mayor mencakup gangguan identitas disosiatif, amnesia disosiatif, fugue disosiatif dan gangguan depersonalisasi. Dalam setiap kasus terdapat suatu gangguan atau disosiasi (perpecahan) pada fungsi-fungsi identitas, ingatan, atau kesadaran yang dalam keadaan normalmembuat diri kita menjadi satu kesatuan.
Penyebab Gangguan Disosiatif
Gangguan Disosiatif  belum dapat diketahui penyebab pastinya, namun biasanya terjadi akibat trauma masa lalu yang berat, namun tidak ada gangguan organik yang dialami. Gangguan ini terjadi pertama pada saat anak-anak namun tidak khas dan belum bisa teridentifikasikan, dalam perjalanan penyakitnya gangguan disosiatif ini bisa terjadi sewaktu-waktu dan trauma masa lalu pernah terjadi kembali, dan berulang-ulang sehingga terjadinya gejala gangguan disosiatif.

Dalam beberapa referensi menyebutkan bahwa trauma yang terjadi berupa : 
  • Kepribadian yang labil 
  • Pelecehan seksual 
  • Pelecehan fisik 
  • Kekerasan dalam rumah tangga (ayah dan ibu cerai) 
  • Lingkungan social yang sering memperlihatkan kekerasan

Identitas personal terbentuk selama masa kecil, dan selama itupun, anak-anak lebih mudah melangkah keluar dari dirinya dan mengobservasi trauma walaupun itu terjadi pada orang lain.
Tanda dan Gejala

Pada Gangguan disosiatif, kemampuan kendali dibawah kesadaran dan kendali selektif tersebut terganggu sampai taraf yang dapat berlangsung dari hari kehari atau bahkan jam ke jam.
Gejala umum untuk seluruh tipe gangguan disosiatif, meliputi :

-       Hilang ingatan (amnesia) terhadap periode waktu tertentu, kejadian dan orang

-       Masalah gangguan mental, meliputi depresi dan kecemasan

-       Persepsi terhadap orang dan benda di sekitarnya tidak nyata (derealisasi)

-       Identitas yang buram

Gangguan Identitas Disosiatif
            Gangguan identitas disosiatif disebut juga kepribadian terpecah. Kepribadian ini terpecah menjadi dua atau lebih, dimana masing-masing dengan trait dan ingatan yang terdefinisi secara baik yang menempati tubuh satu orang. Mereka bisa sadar atau tidak sadar akan keberadaan satu dan yang lainnya.
Menurut DSM-IV-TR, gangguan identitas disosiatif (DID) sebelumnya disebut kepribadian ganda, gangguan (GKG) adalah gangguan disosiatif yang dramatis dimana pasien memanifestasikan dua atau lebih identitas berbeda yang dalam beberapa cara alternative dalam mengendalikan perilaku. Ada juga ketidakmampuan untuk mengingat informasi yang penting yang tidak dapat dijelaskan. Setiap identitas tampak memiliki sejarah pribadi yang berbeda, citra diri dan nama meskipun ada beerapa identitas yang hanya parsial yang berbeda dan independent dari identitas lainnya.
Menurut DSM-IV-TR, diagnosis gangguan identitas disosiatif (DID) dapat ditegakkan bila seseorang memiliki sekurang-kurangnya dua kondisi ego yang terpisah, atau berubah dan berbeda dalam keberadaan, perasaan, dan tindakan yang satu sama lain tidak saling mempengaruhi dan yang muncul serta memegang kendali pada waktu yang berbeda. Kadangkala terdapat satu kepribadian primer, dan penanganan biasanya diperuntukkan bagi kepribadian primer. Umumnya terdapat dua hingga empat kepribadian pada saat diagnosis ditegakkan, namun selama berlangsungnya terapi seringkali muncul beberapa kepribadian baru. Kesenjangan memori juga umum terjadi dan biasanya karena sekurang-kurangnya satu kepribadian tidak memiliki kontak dengan yang lain; yaitu, kepribadian A tidak memiliki memori mengenai seperti apa kepribadian B atau bahkan tidak mengetahui sedikitpun bahwa ia memiliki kepribadian lain yang berbeda.
DID biasanya berawal pada masa kanak-kanak, namun jarang didiagnosis hingga usia dewasa. Gangguan ini lebih luas dibanding gangguan disosiatif lain, dan penyembuhannya kurang menyeluruh. Gangguan ini jauh lebih sering terjadi pada perempuan disbanding laki-laki.
DID umumnya disertai sakit kepala, penyalahgunaan zat, fobia, halusinasi, upaya bunuh diri, disfungsi seksual, perilaku melukai diri sendiri, dan juga simtom-simtom disosiatif lain seperti amnesia dan depersonlisasi.
Kriteria DSM-IV-TR untuk DID, diantaranya :
1)    Harus ada dua atau lebih identitas atau kesadaran yang berbeda di dalam diri orang tersebut.
2)     Kepribadian-kepribadian ini secara berulang mengambil alih perilaku orang tersebut (Switching).
3)    Ada ketidakmampuan untuk mengingat informasi penting yang berkenaan dengan dirinya yang terlalu luar biasa untuk dianggap hanya sebagai lupa biasa.
4)   Gangguan-gangguan yang terjadi ini tidak terjadi karena efek psikologis dari substansi seperti alkohol atau obat-obatan atau karena kondisi medis seperti demam.

Perkembangan Gangguan Indentitas Disosiatif:
  • Individu memiliki setidaknya dua kepribadian yang berbeda (adanya perbedaan dalam keberadaan, feeling, perilaku), bahkan ada yang bertolak belakang.
  • Adanya dua atau lebih kepribadian yang terpisah dan berbeda pada seseorang. Setiap kepribadian memiliki pola perilaku, hubungan dan memori masing-masing.
  • Kepribadian yang asli dan pecahannya kadang dapat menyadari adanya periode waktu yang hilang, adanya kepribadian yang lain. Suara dari kepribadian yang lain sering bergema, masuk ke kesadaran mereka tapi tidak diketahui milik siapa.
  • Gap dalam memori mungkin terjadi jika suatu kepribadian tidak berkaitan dengan kepribadian yang lain.
  • Keberadaan pribadi-pribadiyang berbeda menyebabkan gangguan dalam kehidupan seseorang dan tidak dapat disembuhkan seketika oleh obat-obatan.
  • Biasanya muncul di awal masa kanak-kanak (adanya trauma berat di masa kanak-kanak), namun jarang didiagnosis sampai masa remaja. Lebih berat dari bentuk gangguan disosiatif lainnya
  • Wanita > pria
Ciri-ciri dalam salah satu penelitian terbesar mengenai kepribadian ganda saat ini, Ross, Norton, dan Wozney (1989) mengumpulkan 236 laporan kasus dengan gangguan tersebut dari 203 ahli kesehatan di Kanada. Tidak seperti laporan mengenai kepribadian ganda pada abad ke-19 dan awal abad ke-20, dimana hampor semua kasus melibatkan dua kepribadian, kasus-kasus pada sampel di Kanada rata-rata memiliki 15 hingga 16 kepribadia alter per orang (Ross dkk, 1989).
Ada banyak variasi. Pada beberapa kasus, kepribadian tuan rumah (utama) mungkin tidak sadar akan kehadiran identitas lainnya, sementara kepribadian lainnya sadar akan keberadaan si tuan rumah (Dorahy, 2001). Pada kasus-kasus lainnya, kepribadian-kepribadian yang berbeda benar-benar tidak sadar satu sama lain. Terkadang dua kepribadian bersaing untuk mendapatkan kontrol terhadap orang tersebut. Kadang-kadang ada satu kepribadian dominan atau inti dan ada beberapa kepribadian subkordinat. Beberapa dari kepribadian pengganti (atau “kepribadian alter”) umumnya mencakup anak-anak dari beragam usia, remaja dengan jenis kelamin yang berbeda, pekerja seks komersial, serta laki-laki homoseksual dan wanita lesbian (Ross dkk, 1989). Beberapa kepribadian dapat menunujukkan simtom-simtom psikosis-putus dari realitas yang diekpresikan dalam bentuk halusinasi dan berpikir delusional.
Kelompok-kelompok keribadian alter berfungsi sebagai mikroskosmos dari tema-tema dorongan dan budaya yang saling bertentangan. Tema-tema ambivalensi seksual (kterbukaan vs keterbatasan seksual) dan perubahan orientasi seksual cukup umum terjadi. Hal ini seolah-olah menggambarkan dorongan-dorongan internal yang saling bertentangan tidak dapat muncul atau mencapai dominansi. Sebagai hasilnya, masing-masing diekspresikan sebagai trait utama atau trait penuntun dari kepribadian pengganti.
Kepribadian yang dominan sering tidak menyadari keberadaan kepribadian-kepribadian alter. Hal ini menunjukkan bahwa mekanisme disosiasi dikontrol oleh proses-proses keidaksadaran. Meski kepribadian dominan tidak menyadari mengenai keberadaan kepribadian lainnya, ia dapat samar-samar merasakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Bahkan mungkin terjadi “persaingan interpersonalitas” dimana satu kepribadian ingin mengenyahkan yang lain, biasanya dengan penuh ketidakpedulian dari kenyataan bahwa menganigerahkan coup the grace pada satu pengganti akan menimbulkan kematian bagi semuanya.
Kontroversi meskipun kepribadian ganda umumnya dianggap jarang, keberadaan yang sebenarnya dari gangguan tersebut terus menimbulkan perdebatan. Hanya sedikit kasus diseluruh dunia yang dilaporkan telah meroket menjadi ribuan (Spanos. 1994). Hal ini membuat sejumlah paraktisi mengatakan bahwa kepribadian ganda lebih umum terjadi daripada yang diyakini sebelumnya (Bliss & Jeppsen,1985; Schafer, 1986). Namun ahli-ahli yang lain tidak terlalu yakin. Sejumlah ahli percaya bahwa gangguan tersebut terlalu cepat didiagnosis pada orang-orang yang sangat mudah tersugesti bahwa mereka mungkin memiliki gangguan tersebut (APA, 2000) meningkatnya perhatian publik terhadap gangguan ini pada tahun-tahun terakhir juga terjadi karena persepsi bahwa prevalensinya lebih besar daripada yang dipercaya sebelumnya.
            Ganggaun ini tampak terikat dengan budaya dan terutama terbatas pada Amerika utara (Spanos, 1994). Relatif hanya sedikit kasus yang dilaporkan di tempat lain, bahwa dinegara barat seperti Inggris Raya dan Prancis sekalipun. Survei terakhir di jepang tidak menemukan satu kasus pun, di Swiss, 90% psikiater melaporkan tidak pernah melihat satu kasus pun dari gangguan tersebut (Modestin, 1992; Spanos, 1994). Di Amerika Utara saja hanya  sedikit psikolog dan psikiater yang pernah menangani kasus kepribadian ganda. Kebanyakan kasus dilaporkan oleh relatif sejumlah kecil penelitian dan klinisi yang sangat percaya pada keberadaan dari gangguan tersebut. Hal ini menimbulkan kritik, mungkinkah mereka membantu membentuk gangguan yang mereka cari tersebut ?
Sejumlah pakar terkenal, seperti almarhum psikologi Nicholas spanos percaya akan hal itu. Spanos dan para psikolog lainnya telah menantangh keberadaan gangguan identitas disosiatif (kepribadian ganda). (Reisner, 1994; Spanos, 1994) bagi Spanos, kepribadian ganda bukanlah suatu ganggguan tersendiri, namun suatu bentuk bermain peran  di mana individu pertama-tama mulai menanggap diri mereka memiliki self ganda dan kemudian mulai bertindak dengan cara konsisten dengan konsepsi mereka mengenali gangguan tersebut. pada kahirnya permainan peran mereka tertanam sangat dalam sehingga menjadi kenyataan bagi mereka. Mungkinm terapis atau konselur mereka secara tidak sengajka menanamkan ide di pikiran mereka bahwa perubahan emosi dan tingkah laku mereka yang membingungkan dapat mewakili kepribadian-kepribadian berbeda yang sedang muncul. Orang yang mudah terpesona kemungkinan belajar bagaimana menampilkan peran dari tokoh-tokoh yang memilik igangguan ini dengan cara menonton orang lain berakting dalam peran tersebut di televisidan film. Film dan acara tv seperti The Theree Faces of Eve dan Sybil telah memberikan contoh detail dari tingkah laku yang mencirikan kepribadian ganda (Spanos, Weekes, & Bertrand, 1985). Atau mungkin dapat membuat orang menampilkan peran tersebut secara menyakinkan.
            Banyak reinforcement yang bersatu untuk mendorong tampilanya peran suatu kepribadian ganda. Mendapatkan perhatian dari orang lain dan menghindari tanggung jawab untuk tingkah laku yang tidak daapat diterima adalah 2 kemungkinan sumber reinforcement (Spanos dkk., 1985).hal ini tidak untuk dapat diterima adalah 2 kemungkinan sumber reinforcement (Spanos dkk., 1985). Hal ini tidak untuk menyatakan bahwa orang dengan kepribadian ganda ‘berpura-pura, “ lebih dari Anda mungkin menampilkan peran dari pelajar (contohnya, duduk dengan penuh perhatian dikelas, mengangkat tangan saat ingin berbicara, dll). Karena anda telah belajar mengorganisasikan tingkah laku anda sesuai dengan tuntutan peran dan karena anda telah belajar mendapat reward dengan melakukannya. Orang dengan kepribadian ganda mungkin telah mengindentifikasi dirinya secara sangat dekat hingga peran tersebut menjadi nyata bagi mereka.
Untuk melindungi keyakinan bahwa kepribadian ganda merupakan suatu bentuk bermain peran. Spanos ndan kolega-koleganya menunjukkan bahwa dengan petunjuk secukupnya, mahasiswa – mahasiswa dalam bentuk stimulasi laboratorium dari tipe introgasi terhadap Bianchi dapat dengan sangat mudah menampilkan sebuah peran kepribadian ganda, bahkan melemparkan kesalahan pmelarikan ada cara introgasi yang dilakukan terhadap  Bianchi dapat dengan sangat mudah menampilkan sebuah peran kepribadian ganda, bahkan melemparkan kesalahan pada cara interogasi yang dilakukan terhadap Bianchi telah memberikan petunjuk pada Bianchi untuk menampilkan peran kepribadian ganda dengan maksud  melarikan diri dari tanggung jawab kriminal (ini tidak berhasil, karena ia tetap saja dianggap bersalah).
            Relatif hanya sedikit kasus kepribadian ganda yang melibatkan tingkah laku kriminalitas dimana dengan menampilkan peranan kepribadian ganda dengan membebaskan seseorang dengan tanggung jawab kriminal atas tingkah lakunya. Tetapi bahkan pada kasus-kasus yang lebih umum, mungkin terdapat lebih umum, mungkin terdapat lebih banyak insntif yang halus/samar untuk menampilkan peran kepribadian ganda, seperti ekspresi terapis yang tertarik dan gembira saat menemukan suatu kasus kepribadiaan ganda sering kali sangat imajinatif pada masa kecilnya. Karena terbiasa dengan permainan “make-believe” (pua-pura/bermain peran), mereka mungkin sudah mengadopsi identitas pengganti, terutama bila mereka belajar bagaimanan menampilkan peran kepribadian ganda dan ada sumber eksternal yang membenarkan, seperti tertarik dan kepedulian seorang klinis. 
Kepribadian ganda, yang sering disebut “kepribadian terpecah “  oleh orang awam , tidak boleh dicampuradukkan  skizofernia. Skizofernia (berasal dari akar kata yang berarti “otak terpecah” lebih umum terjadi daripada kepribadian ganda dan mencakup  ‘ pecahnya” Kognisi , afek, dan prilaku . hal tersebut dapat berupa sedikitnya keserasian antara  pikiran dan emosi , atau antara persepsi individu terhadap realitas denagn apa yangt sebenarnya terjadi. Orang dengan skizrofenia akan menjadi pusing bila diberi tahu mengenai peristiwa yang menggangu atau dapat mengalami halusinasi dan waham (lihat Bab 13). Pada orang dengan kepribadian ganda, kepribadian seperti terbagi ke dalam dua atau lebih kepribadian, namun masing-masing biasanya menunjukkan fungsi yang lebih terintegrasi pada tingkat kognisi, afektif, dan prilaku daripada orang yang mengalami skizrofenia. 




Amnesia Disosiatif
            Amnesia disosiatif dipercaya sebagai tipe yang paling umum dari gangguan disosiatif (Maldonado, Butler & Speigel, 1998). Amnesia diambil dari akar kata Yunani a-, berarti “tanpa” dan mnasthai, berarti “untuk mengingat.” Dalam amnesia disosiatif (dissocistive amnesia), sebelumnya disebut amnesia psikogenik, orang menjadi tidak mampu menyebutkan kembali informasi pribadi yang penting, biasanya melibatkan pengalaman yang traumatis atau penuh tekanan, dalam bentuk yang tidak dapat sebagai lupa yang biasa. Kehilangan ingatan ini juga tidak disebabkan oleh penyebab organis tertentu, seperti kerusakan pada otak atau kondisi medis tertentu, bukan pula efek langsung dari obat-obatan atau alkohol. Tidak seperti bentuk progresif dari hendaya ingatan (seperti demensia yang diasosiasikan dengan penyakit alzheimer), ingatan yang hilang dalam amnesia disosiatif dapat kembali, meski gangguan ini bisa berlangsung selama beberapa hari, minggu, atau bahkan tahun. Mengingat kembali dalam amnesia disosiatif dpat terjadi secara bertahap tetapi sering kali muncul secara tiba-tiba dan spontan, seperti saat seseorang tentara yang tidak dapat mengingat pertarungan beberapa hari setelahnya tiba-tiba dapat mengingat pengalamannya setelah dipindahkan kerumah sakit yang jauh dari medan perang.
Amnesia disosiatif adalah hilangnya memori setelah kejadian yang penuh stres. Seseorang yang menderita gangguan ini tidak mampu mengingat informasi pribadi yang penting, biasanya setelah suatu episode yang penuh stres.
Pada amnesia total, penderita tidak mengenali keluarga dan teman-temannya, tetapi tetap memiliki kemampuan bicara, membaca dan penalaran, juga tetap memiliki bakat dan pengetahuan tentang dunia yang telah diperoleh sebelumnya.
Perkembangan Klinis amnesia disosiatif:
  • Hilangnya daya ingat (sebagian / seluruh), biasanya mengenai kejadian-kejadian penting (stressful, traumatik) yang baru terjadi, tidak disebabkan gangguan mental organic, kelupaan, kelelahan, intoksikasi.
  • Individu tiba-tiba menjadi tidak dapat mengingat kembali informasi personal yang penting (biasanya setelah mengalami beberapa peristiwa stressful).
  • Selama periode amnesia, perilaku atau kemampuan individu mungkin tidak berubah, kecuali bahwa hilangnya memori menyebabkan beberapa disorientasi, tidak mengenali identitas (asal, teman, keluarga, dll)
  • Hilangnya memori
  • Bisa hanya untuk peristiwa tertentu atau seluruh peristiwa kehidupan
  • Biasanya berlangsung dalam periode waktu tertentu, bisa beberapa jam sampai dengan beberapa tahun
  • Memori biasanya kembali muncul secara tiba-tiba juga, lengkap seperti sebelumnya (hanya sedikit kemungkinan untuk kambuh)
  • Hilangnya memori tidak sama dengan yang disebabkan oleh kerusakan otak atau karena ketergantungan obat.
            Amnesia bukanlah lupa yang biasa, seperti lupa nama seseorang atu dimana anda meletakkan kunci mobil. Kehilangan ingatan dalam amnesia bersifat lebih ekstrem atau luas cakupannya. Kebanyakan kasus dari amnesia disosiatif mengambil bentuk amnesia terlokalisasi di mana peristiwa yang terjadi dalam suatu periode waktu tertentu hilang dari ingatan. Misalnya, orang tersebut tidak bisa mengingat kembali untuk beberapa jam atau hari setelah suatu kejadian yang menekan atau traumatis, seperti perang atau kecelakaan mobil. Bentuk lain dari amnesia disosiatif mencakup amnesia selektif dan amnesia menyeluruh. Dalam amnesia selektif, orang lupa hanya pada hal-hal khusus yang mengganggu yang terdapat dalam suatu periode waktu tertentu. Seseorang dapat mengingat periode hidup dimana ia melakukan perselingkuhan dalam pernikahannya, tapi justru tidak ingat peristiwa perselingkuhan yang membuat ia merasa bersalah tersebut. Seorag tentara dapat mengingat hampir seluruh pertempuran, tapi bukan kematian dari sahabatnya. Dalam amnesia menyeluruh, orang melupakan seluruh kehidupan, siapa dirinya, apa pekerjaannya, dimana tempat tinggalnya, dengan siapa ia tinggal, bentuk amnesia ini sangat jarang terjadi, meski anda tidak akan mengira begitu bila anda menenton opera-opera sabun di siang hari. Orang dengan amnesia menyeluruh tidak dapat mengingat informasi pribadi, namun cendrung untuk tetap mempertahankan kebiasaan, selera dan keterampilan mereka. Bila anda mengalami amnesia menyeluruh anda akan tetap tahu bagaimana cara membaca, meski anda tidak ingat siapa guru sekolah dasar anda. Anda akan tetap lebih suka kentang goreng daripada kentang panggang atau sebaliknya. Orang dengan amnesia disosiatif biasanya lupa p[ada peristiwa atau periode kehidupan yang traumatis, yang membangkitkan emosi negatif yang kuat seperti ketakutan atau rasa bersalah.
            Orang terkadang mengaku mereka tidak dapat mengingat peristiwa-peristiwa tertentu dalam kehidupan mereka, seperti tindakan kriminal, janji terhadap orang lain, dan seterusnya. Pura-pura mengaku amnesia sebagai suatu carta menghindari tanggung jawab disebut malingering, yang mencakup usaha untuk meniru simtom terkait atau membuat pengakuan palsu demi keuntungan pribadi. Metode penelitian kita tidak menjamin bahwa kita bisa membedakan antara orang yang mengalami amnesia disosiatif dengan orang yang malingering. Namun klinisi yang berpengalaman dapat membuat dugaan yang masuk akal dan terpelajar.
Fugue Disosiatif
            Fugue berasal dari bahas latin fugere yang berarti “melarikan diri”. Kata fugitive (pelarian buronan) memiliki asal kata yang sama. Fugue sama seperti amnesia “dalam pelarian”. Dalam fugue disosiatif (dissociative fugue), sebelum disebut fugue psikogenik, si penderita melakukan perjalanan secara tiba-tiba dan tanpa diduga sebelumnya dari rumah atau tempat kerjanya, ia tidak mampu mengingat kembali informasi personal yang sudah-sudah, dan menjadi bingung akan identitasnya atau mengasumsikan identitas yang baru (baik secara bagian atau pun secara lengkap)(APA, 2000). selain perilaku yang aneh ini , orang tersebut dapat terkesan “normal” dan tidak menunjukan tanda-tanda lain dari gangguan mental (Maldonado dkk., 1998) orang tersebut mungkin tidak memikirkan tentang masa lalu, atau mungkin melaporkan masa lalu yang penuh dengan memori yang salah tanpa menyadari bahwa memori itu salah.
Fugue disosiatif adalah hilangnya memori yang disertai dengan meninggalkan rumah dan menciptakan identitas baru. Dalam fugue disosiatif, hilangnya memori lebih besar dibanding dalam amnesia disosiatif. Orang yang mengalami fugue disosiatif tidak hanya mengalami amnesia total, namun tiba-tiba meninggalkan rumah dan beraktivitas dengan menggunakan identitas baru.

Perkembangan klinis Fugue Disosiatif:
  • Gangguan di mana individu melupakan informasi personal yang penting dan membentuk identitas baru, juga pindah ke tempat baru.
  • Individu tidak hanya mengalami amnesia secara total, namun juga tiba-tiba pindah (melarikan diri) dari rumah dan pekerjaan, serta membentuk identitas baru.
  • Biasanya terjadi setelah seseorang mengalami beberapa stress yang berat (konflik dengan pasangan, kehilangan pekerjaan, penderitaan karena bencana alam).
  • Identitas baru sering berkaitan dengan nama, rumah, pekerjaan bahkan karakteristik personality yang baru. Di kehidupan yang baru, individu bisa sukses walaupun tidak mampu untuk mengingat masa lalu. 
  • Recovery biasanya lengkap dan individu biasanya tidak ingat apa yang terjadi selama fugue.
            Bila orang dengan amnesia tampak berjalan-jalan tanpa tujuan, orang dalam tahap fugue bertindak lebih bertujuan. Beberapa tetap berada dekat dengan tempat tinggal mereka. Mereka menghabiskan siang hari di taman atau bioskiop, atau mereka menghabiskan malam hari dihotel menggunakan nama lain, biasanya hanya dengan sedikit atau tanpa kontak dengan orang lain saat berada pada tahap fugue. Namun identitas baru tersebut tidaklah lengkap serta mengambang dan kesadaran akan dirinya yang duludapat muncul dalam waktu beberapa jam atau beberapa hari. Pola yang jarang terjadi adalah bila tahap fugue berlangsu ng selama beberapa bulan atau tahun serta mencakup perjalanan ke tempat dan jauh dan asumsi akan identitas yang baru.  Individu-individu ini dapat mengasumsikan sebuah identitas yang lebih spontan dan lebih mudah bersosialisasi daripada dirinya yang dulu, yang biasanya “pendiam” dan “biasa-biasa saja”. Mereka dapat membangun keluarga baru dan bisnis yang sukses. Meskipun kejadian ini terdengar agak aneh, tahap fugue tidak dianggap sebagai psikotik karena orang yang memiliki gangguan ini dapat berpikir dan berperilaku cukup normal, tentu, dikehidupan barunya. Hingga suatu hari, secara tiba-tiba, kesadaran akan identitas masa lalunya muncul kembali, dan mereka dibanjiri dengan memori lama. Pada saat itu, biasanya, mereka tidak mengingat kejadian yang muncul selama tahap fugue. Identitas barunya, kehidupan barunya termasuk semua keterlibatan dan tanggung jawabnya hilang dari ingatan.
            Fugue seperti amnesia, relatif jarang terjadi dan diyakini hanya mempengaruhi 2 dari 1000 orang dalam populasi umum (APA, 2000). Gangguan ini paling banyak muncul dalam masa perang (Loewenstein, 1991) atau terbangkitkan karena adanya bencana maupun peristiwa lain yang sangat menekan. Hal yang utama disini adalah disosiasi dalam tahap fugue melindungi seseorang dari ingatan traumatis atau sumber pengalaman maupun konflik lain yang menyakitkan secara emosi  (Maldonado dkk. 1998).
            Fugue juga sulit untuk dibedakan dari malingering. Ini karena sejumlah orang yang tidak puas dengan kehidupan lamanya mengaku amnesia saat mereka ditemukan dilokasi baru dengan identitas barunya.
Gangguan Depersonalisasi
            Gangguan depersonalisasi adalah suatu kondisi dimana persepsi atau pengalaman seseorang terhadap diri sendiri berubah. Dalam episode depersonalisasi, yang umumnya dipicu oleh stres, individu secara mendadak kehilangan rasa diri mereka. Para penderita gangguan ini mengalami pengalaman sensori yang tidak biasa, misalnya ukuran tangan dan kaki mereka berubah secara drastis, atau suara mereka terdengar asing bagi mereka sendiri. Penderita juga merasa berada di luar tubuh mereka, menatap diri mereka sendiri dari kejauhan, terkadang mereka merasa seperti robot, atau mereka seolah bergerak di dunia nyata.
Perkembangan klinis gangguan Dipersonalisasi:
  • Gangguan di mana adanya perubahan dalam persepsi atau pengalaman individu mengenai dirinya.
  • Individu merasa “tidak riil” dan merasa asing terhadap diri dan sekelilingnya, cukup mengganggu fungsi dirinya.
  • Memori tidak berubah, tapi individu kehilangan sense of self.
  • Gangguan ini menyebabkan stress dan menimbulkan hambatan dalam berbagai fungsi kehidupan.
  • Biasanya terjadi setelah mengalami stress berat, seperti kecelakaan atau situasi yang berbahaya.
  • Biasanya berawal pada masa remaja dan perjalanannya bersifat kronis (dalam waktu yang lama).
Depersonalisasi (depersonalization) mencakup kehilangan atau perubahan temporer dalam perasaan yang biasa mengenai realitas  diri sendiri. Dalam suatu tahap depersonalisasi, orang merasa terpisah dari dirinya sendiri dan lingkungan sekitarnya. Mereka mungkin merasa seperti sedang bermimpi atau bertingkah laku seperti robot(Guralnik,Schmeidler, & Simeon,2000;Maldonado, Butler,&Speigel,1998).
Derealisasi (derealization)- suatu perasaan tidak nyata mengenai dunia luar yang mencakup perubahan yang aneh dalam persepsi mengenai lingkungann sekitar, atau dalam perasaan mengenai periode waktu-juga dapat muncul.  Orang dan objek dapat tampak berubah ukuran atau bentuk dan dapat pula mengeluarkan suara yang berbeda. Semua perasaan ini dapat diasosiasikan dengan kecemasan,termasuk pusing dan ketakutan akan menjadi gila,atau dengan depresi.
            Meski sensai –sensasi  ini asinng, orang  dengan depersonalisasi tetap memeiliki kontak dengan realitas. Berbeda dengan membedakan kenyataan dari yang tidak nyata, bahkan pada  episode depersonalisasinya. Berbeda dengan amnesia menyeluruh dann fugue, mereka tahu siapa dari  mereka. Ingatan mereka lebih baik dan mereka tahu  di mana mereka berada bahkan bila mereka tidak menyukai kondisi mereka saat itu. Perasaan depersonalisasi biasanya datang tiba2 dan menghilang secara bertahap.
Perhatikan bahwa sejauh ini kami hanya menjelaskan perassaan yang normal dari depersonalisasi. Menurut DSM ,satu episode singkat    depersonalisasi pernah di alami kira-kira oleh setengah dari seluruh orang dewasa, biasanya saat mengalami stres berat. Perkiraan antara 80%-90% dari  populasi umum mengalami pengalaman  di sosiatif sewaktu-waktu(Gershuny&Thayer,1999).Pertimbangkan pengalaman  Richhier.


Sebuah kasus Gangguan Depersonalisasi
            Seorang mahasiswa berusia  20 tahun takut akan menjadi   gila. Selama dua tahun ,ia semakin sering mengalami   perasaan “berada di luar”  dirinya. Selama episode itu, ia mengalami perasaan “kematian” pada tubuhnya, dan merasa goyah, sering kali menabrak perabotan. Ia makin cenderung untuk kehilangan keseimbangan  jika episode itu terjadi di saat  iya di tengah pabrik terutama  bila ia merasa cemas. Selama terjadinya episode ini pikirannya seperti “berkabut”, mengingatkan nya pada kondisi pikiran saat ia di suntik obat penghilang rasa sakit untuk oprasi usus buntu lima tahun sebelumnya. Ia mencoba memerangi episode-episode ini bila terjadi, dengan mengatakan “stop” pada dirinya sendiri dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Ini akan menjernihkan kepalanya untuk sementara,namun perassaan berada di luar dirinya dan rasa kematian akan semakin kembali. Perasaan yang mengganggu ini akan hilang secara bertahap dalam beberapa jam. Aat pada penanganan, ia mengalami episode ini sekitar 2x per minggu masing-masing berlangsung selama tiga sampai eempat jam. Nilai-nilai  kuliahnya tetap tidak terganggu, bahkan pernah meningkat pada beberapa bulan terakhir, di  saat ia menghabiskan waktu lebih banyak untuk belajar.namun demikiann, pacarny,orang yang ia ceritakan tentang massalahnya, merasa bahwa si ahasiswa merassakan benar-benar terpaku pada dirinya sendiri dan pacarnya mengajak untuk putus hubungan bila ia  tidak berubah.Pacarnya juga berkencan dengan pria lain.(Spitzer dkk,1994, hal 270-270.
Dalam wacana tingkah laku yang dapat di observasi dan ciri-ciri yang terkait , depersonalisasi mungkin lebih erat hubungannya dengan ggangguan seperti fobia dan panik dari pada ganggguan  disosiatif. Tidak seperti bentuk lain dari gangguan disosiatif yang sepertinya melindungi self dari kecemasan, depersonalisasi  dapat menimbulkan kecemasan dan selanjutnya menimbulkan perilaku mmenghindar, seperti yang kita lihat dalam kasus richie.
Sindrom Disosiatif yanng terkait dengan budaya
Ada kesamaan antara konsep barat akan gangguan disosiatif dengan sindrom-sindrom tertentu yang terkait dengan budaya yang ditemukan di bagian lain benua. Amok  adalah sebuah sindrom terkait budaya terutama terdapat di budaya  asia dan kebudayaan pasifik yang menggambarkan suatu tahap  trancelike dimana seseorang tiba-tiba menjaddi sangat kacau secara emosional dan menyerang orang lain atau merusak objek secara kejam. Orang yang  mengamuk  nantinya akan mengaku bahwa iya tidak ingat episode tersebut dan mengingat perasaan seolah-olah terak ber akting menjadi sebuah robot. Contoh lain adalah istilah yang di gunakan di negara-negara afrika utara dan timur tengah untuk menggambarkan penguasaan roh-roh dalam diri orang yang mengalami tahap disosiatif saat tahap ini terjadi, individu terlibat dalam perilaku yang tidak biasa, mulai dari berteriak-teriak hingga membentur-bentur kepalanya kedinding. Perilaku ini sendiri tidak disebut abnormal, karena dipercaya bahwa hal tersebut di kontrol oleh roh-roh.
Pandangan-pandangan Teoritis
Gangguan disasosiatif adalah fenomena yang sangat mengagumkan dan menarik namun membingungkan. Bagaimana perasaan seseorang akan identitas dirinya bisa menjadi sangat terdistorsi hingga orang tersebut membangun kepribadian ganda, kehilangan banyak potongan dari ingattan pribadi, atau membentuk sebuah identitas baru ? meski gangguan-gangguan ini tetap misterius dalam beberapa hal, petunjuk-petunjuk yang memberikan pemahaman akan asal muasalnya telah bermunculan.

Pandangan Psikodinamika- Amnesia disasosiatif dapat menjadi suatu fungsi adaptif dengan cara memutus atau mendisosiasi alam sadar seseorang dari kesadaran akan pengalaman traumatis atau sumber-sumber lain dari nyeri maupun konflik psikologis (Dorahy, 2001). Bagi teoretikus psikodinamika, gangguan disasosiatif melibatkan penggunaan represi secara besar-besaran, yang menghasilkan “terpisahnya” impuls yang tidak dapat diterima dan ingatan yang menyakitkan dari kesadaran seseorang. Dalam amnesia dan fugue disosiatf, ego melindungi dirinya sendiri dari kebanjiran kecemasan dengan mengeluarkan ingatan-ingatan yang mengganggu atau dengan mendisosiasi umpuls menakutkan yang bersifat seksual atau agresif. Pada kepribadian ganda, orang mungkin mengekspresikan impuls-impuls yang tidak dapat diterima ini melalui pengembangan kepribadian pengganti. Pada depersonalisasi, orang berada di luar dirinya sendiri-aman dengan cara menjauh dari pertarungan emosional di dalam dirinya.
Pandangan Kognitif dan Belajar- Teoretikus belajar dan kognitif memandang disosiasi sebagai suatu respons yang dipelajari yang meliputi proses tidak berpikir tentang tindakan atau pikiran yang mengganggu dalam rangka menghindari rasa bersalah dan malu yang ditimbulkan oleh pengalaman-pengalaman itu. Kebiasaan tidak berpikir tentang masalah-masalah tersebut secara negatif dikuatkan dengan adanya perasaan terbebas dari kecemasan, atau dengan memindahkan perasaan bersalah atau malu. Sejumlah teoretikus  sosial kognitif, seperti (almarhum) Nicholas Spanos, percaya bahwa gangguan identitas disosiatif adalah suatu bentuk bermain peran yang dikuasai melalui observasi, yang melibatkan proses pembelajaran dan reinforcement. Ini tidak sama dengan berpura-pura atau malingering; orang dapat secara jujur mengorganisasikan pola perilaku mereka menurut peran tertentu yang telah mereka amati. Mereka juga dapat menjadi sangat mendalami permainan peran mereka hingga ‘lupa’ bahwa mereka sedang menampilkan sebuah peran.
Disfungsi Otak – mungkinkah perilaku disosiatif dihubungkan dengan disfungsi otak yang mendasarinya? Penelitian mengenai hal  ini masih berada dalam tahap-tahap awal, namun bukti terakhir menunjukkan perbedaan dalam aktivitas metabolisme otak antara orang dengan gangguan depersonalisasi dan subjek yang sehat (Simeon dkk, 2000). Penemuan ini,yang menekankan pada kemungkinan adanya disfungsi di bagian otak yang terlibat dalam persepsi tubuh, dapat membantu menjelaskan perasaan terpisah dari tubuh yang diasosiasikan dengan depersonalisasi.
Menggabungkan Berbagai Pandangan
Meski memiliki konseptualisasi yang berbeda akan fenomena disosiatif, para psikolog menyadari bahwa sejarah penyiksaan  di masa kecil sering memegang peranan penting. Pandangan yang paling banyak dianut dari gangguan identitas disosiatif adalah bahwa gangguan tersebut mewakili sebuah cara untuk mengatasi (coping) dan selamat dari penyiksaan di masa kecil yang berat dan berulang, yang pada umumnya dimulai sebelum usia 5tahun (Burton & Lane, 2001). Anak yang mengalami penyiksaan berat dapat memiliki kepribadianalter sebagai pertahanan psikologis menghadapi penyiksaan yang tak tertahankan. Pembentukkan kepribadian alter ini memberi jalan bagi anak-anak seperti itu untuk secara psikologis menyelamatkan atau menjauhkan diri dari penderitaan mereka (Burton & Lane, 2001). Disosiasi memberikan  suatu cara untuk melarikan diri saat tidak ada cara lain yang tersedia (Gershuny & Thayer, 1999). Meskipun terdapat penyiksaan yang terus-menerus, kepribadian alter ini dapat menjadi stabil, membuat sulit bagi orang tersebut untuk mempertahankan kepribadian yang utuh. Padda masa dewasa, orang dengan kepribadian ganda dapat menggunakan kepribadian alter mereka untuk menghadang ingatan masa kecil yang traumatis dan reaksi emosional terhadap hal itu, sehingga menghapus bersih ingatan dan memulai hidup baru dengan  kehadiran kepribadian alter (Schafer, 1986). Identitas atau kepribadian alter juga dapat membantu orang tersebut mengatasi situasi penuh tekanan atau mengekspresikan kekecewaan yang sangat dalam yang tidak dapap diintergrasikan individu di dalam kepribadiannya yang utama (Spanos, 1994).
            Bukti-bukti yang saling menguatkan menunjukkan bahwa pemaparan terhadap trauma masa kecil, biasanya yang dilakukan oleh keluarga atau pengasuh, terlibat dalam perkembangan gangguan disosiatif, terutama gangguan identitas disosiatif. Sebagian besar orang dengan kepribadian ganda melaporkan pernah mengalami penyiksaan fisik atau seksual saat masa kanak-kanak (Lewis dkk, 1997); Weaver & Clum, 1995). Dalam suatu sampel, 83% orang dengan gangguan identitas disosiatif melaporkan sejarah penyiksaan seksual dimasa kanak-kanak dan 2 dari 3 melaporkan penyiksaan fisik dan seksual sekaligus (Putnam dkk, 1986). Pada sampel-sampel lain, jumlah penderita yang menjalani masa kecil dengan penyiksaan fisik atau seksual berkisar antara 76% sampai dengan 95% dari semua kasus yang ada (Ross dkk,1990; Scroppo dkk, 1998). Bukti adanya kesamaan lintas budaya datang dari suatu penelitian di Turki, yang menunjukkan bahwa 3 lebih dari 4 pasien gangguan identitas disosiatif, yang semuanya berjumlah 35 orang, melaporkan penyiksaan seksual dan fisik di masa kecil (Sar dkk, 1996). Trauma atau penyiksaan masa kecil juga dilaporkan lebih sering dalam kassus amnesia disosiatif dan gangguan depersonalisasi daripada dalam kelompok kontrol (orang yang normal) (Coons, Bowman, & Pellow, 1989); Simeon dkk, 1997, 2001).
            Penyiksaaan masa kanak-kanak bukanlah satu-satunya sumber trauma yang dikaitkan dengan gangguan-gangguan disosiatif. Pemaparan terhadap trauma perang baik di kalangan khalayak sipil dan tentara memainkan peran dalam beberapa kasus fugue disosiatif dan amnesia disosiatif. Pada fugue, tekanan pertempuran dan keuntungan sekunder dari meninggalkan medan perang tampaknya menjadi kontributor penting (Loewenstein, 1991). Tekanan dalam mengatasi masalah keuangan yang berat dan harapan menghindari hukuman untuk perilaku yang secara sosial tidak diterima adalah anteseden yang mungkin dalam episode fugue (Riether & Stoudemire, 1988). Pemaparan terhadap stres tingkat tinggi juga dihubungkan dengan gangguan depersonalisasi (Kluft, 1988).
Model Diatesis-Stres meski banyak bukti trauma masa kanak-kanak dalam kasus gangguan identitas disosiatif, hanya sedikit anak yang mengalami penyikssaan yang mengembangkan kepribadian ganda, bahkan diantara mereka yang mengalami penyiksaan yang sangat berat. Konsisten dengan model diatesis-stres, trait-trait  kepribadian tertentu, seperti kecenderungan berfantasi, tingkat kemudahan yang tinggi untuk dihipnotis, dan keterbukaan pada kondisi kesadaran alter, dapat menjadi predisposisi bagi individu untuk mengembangkan pengalaman disosiatif bila dihadapkan dengan stres yang ekstrem, seperti penyiksaan yang traumatis. Trait-trait kepribadian ini saja tidak akan membuat gangguan disosiatif muncul ( Rauschenberger & Lynn, 1995). Trait-trait tersebut biasanya cukup umum dalam populasi. Meskipun demikian, hal tersebut dapat meningkatkan risiko bahwa seseorang yang mengalami trauma berat akan membentuk fenomena disosiatif sebagai suatu mekanisme pertahanan diri (Butler dkk, 1996). Orang yang memiliki kecenderungan rendah dalam berfantasi atau kemudahan dihipnotis kemungkinan mengalami semacam karakteristik pikiran-pikiran cemas dan intrusif yang merupakan gangguan stres pasca trauma (PTSD) pada periode setelah stres yang traumatis, dan bukan pengalaman-pengalaman disosiatif (Kirmayer, Robbins, & Paris, 1994).
            Mungkin kebanyakan dari kita dapat membagi-bagi kesadaran sehingga kita menjadi tidak sadar  akan-paling tidak sementara-peristiwa-peristiwa yang dalam keadaan normal akan kita perhatikan. Mungkin kebanyakan dari kita dapat membuang hal-hal yang tidak menyenangkan dari pikiran kita dan menampilkan peran yang bervariasi-orang tua, anak, kekasih, pebisnis, tentara-yang dapat membantu kita memenuhi tuntutan situasi. Mungkin kejutan yang sesungguhnya bukanlah perhatian yang bisa dibagi, tetapi bahwa kesadaran manusia bormalnya terintegrasi ke dalam keseluruhan yang berarti.
Penanganan Gangguan Disosiatif
Amesia dan fugue disosiatif biasanya merupakan pengalaman yang mengambang dan segera berakhir. Sedangkan episode-episode depersonalisasi dapat muncul kembali dan sifatnya presisten dan biasanya terjadi bila orang tersebut berada dalam periode kecemasan atau depresi ringan. Pada kasus-kasus seperti itu, klinisi biasanya berfokus pada penanganan kecemasan atau depresinya. Sebagaian besar perhatian dalam kepustakaan penelitian berfokus pada gangguan identitas disosiatif dan secara khusus pada usaha mengintegrasikan kepribadian alter menjadi sebuah struktur kepribadian yang kohesif.
Psikoanalisa berusaha membantu orang yang menderita gangguan identitas disosiatif untuk mengungkapkan dan belajar mengatasi trauma-trauma masa kecil. Mereka sering merekomendasikan membangun kontak langsung dengan  kepribadian-kepribadian alter..


























BAB III
PEMBAHASAN

            Dari film yang berjudul “Peacock”, maka dapat diketahui bahwa John sebagai pemeran utama merupakan sosok yang  dibesarkan oleh ibu yang sangat otoriter namun sangat penyayang. Hal tersebut dapat dianalisis dari cerita diawal film ini. Terdengar suara ibunya yang mengatakan “Kuperingatkan kamu. Jangan bergerak sedikitpun kecuali aku suruh. Jangan lihat aku kecuali aku perintahkan. Jangan bicara pada siapapun. Dari film ini juga dapat diketahui bahwa ibu john pernah memaksa john untuk berhubungan intim dengan meggie yang merupakan wanita panggilan. Semua perlakuan yang diberikan ibunya sejak kecil, membekas di alam bawah sadar john.
            Setelah ibu john meninggal, John merasa bahwa ia bertemu dengan sesosok wanita yang bernama emma dalam kehidupannya. Namun, dalam kenyataannya sosok emma tersebut adalah sosok yang sama dengan john. Emma dan john adalah dua buah kepribadian yang berada dalam satu tubuh yaitu tubuh john. Ketika John bangun dari tidurnya, maka kepribadian emma yang muncul di tubuh john. Emma akan melakukan rutinitas seperti seorang ibu rumah tangga. Emma selalu mencuci pakaian kemudian dilanjutkan dengan memasak sarapan pagi untuk john. Tidak lupa, emma juga menuliskan memo kepada john. Isi memo itu emma mengatakan selamat pulang kepada john. Emma juga menuliskan bahwa ada makanan siap saji yang harus dipanaskan. Emma suka sekali mengintip tetangga yang memiliki keluarga harmonis dari balik jendela kamarnya. Ketika siang, kepribadian emma di tubuh john berubah menjadi kepribadian john yang sebenarnya. Emma melepas wig dan pakaian wanitanya, kemudian menggantinya dengan pakaian laki-laki. John kemudian keluar kamarnya dan menuju ke meja makan untuk memakan sarapan pagi yang telah disediakan oleh emma. Setelah selesai makan, kemudian john langsung bersiap-siap untuk pergi bekerja. Ketika john pulang dari bekerja, ia selalu mendapatkan kertas memo dari emma yang diletakkan emma di dekat tempat tidur john. Welcome Home, tulis emma. John selalu tersenyum membaca memo dari emma tersebut. Namun antara kepribadian john dan kepribadian emma, walaupun mereka berada dalam satu tubuh yang sama yaitu tubuh john, mereka sama sekali tidak mengetahui apa saja yang dilakukan oleh kepribadian masing-masing.
            Suatu hari, ketika sedang berada dalam kepribadiannya sebagai seorang wanita, sebuah gerbong kereta api mengalami kecelakaan dan menabrak halaman belakang rumah John. Hal ini tentu saja menarik perhatian masyarakat sekitarnya, apalagi setelah melihat bahwa ada sesosok wanita yang berada di rumah John. Tetangga tersebut kemudian berspekulasi bahwa sosok wanita itu adalah istri john. Setelah emma melihat banyak warga yang mendekat dan bertanya padanya, emma kemudian masuk ke dalam rumah. Emma kemudian berubah kepribadian menjadi john. John terkejut ketika melihat gerbong kereta api yang masuk ke halamannya. Ketika melihat gerbong itu, john terlihat sangat gelisah. John kemudian masuk ke rumah dan menuju meja makan. John menemukan memo dari emma yang bertuliskan “Segera pergi ke tempat kerja dan jangan berbicara dengan orang lain”. John sangat patuh pada memo yang dituliskan oleh emma. John tak menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan tetangga tetangganya ketika john dalam perjalanan menuju ke kantornya”.
Kehidupan John yang selama ini tertutup, kini seolah menjadi perhatian publik dengan adanya kejadian kecelakaan gerbong kereta api dan penemuan bahwa John telah memiliki seorang “istri”. Tak pelak, bahkan istri walikota Peacock, Fanny Crill (Susan Sarandon), tertarik dengan kehidupan Emma dan ingin mengajaknya untuk ikut bagian dalam kampanye pemilihan suaminya kembali sebagai walikota Peacock di periode berikutnya. Ternyata, sosok Emma dan John sama sekali berbeda keinginan. Ketika Emma menyatakan kesetujuannya untuk ikut serta di berbagai acara publik dihadapan istri walikota tersebut, tapi ternyata ketika istri walikota tersebut memberitahu bahwa istrinya setuju untuk bekerjasama dalam kampanye walikota tersebut. Namun, sosok John malah kemudian menentang keputusan tersebut. John mengatakan bahwa aku adalah kepala rumah tangga, jadi semua keputusan ada di tangan ku.
Masalah bagi John kemudian malah semakin bertambah dengan kedatangan Maggie (Ellen Page), seorang wanita yang dulu pernah dibayar ibu John agar mau berhubungan intim dengannya. Ternyata, hubungan tersebut membuahkan seorang anak. Ibu John ternyata selama ini telah membayar Maggie agar menjaga jaraknya dari John agar ia tidak mengetahui tentang keberadaan sang anak. Maggie, yang tidak mengetahui bahwa ibu John telah meninggal setahun yang lalu, kini datang untuk meminta bantuan finansial karena dirinya tidak menerima kiriman uang selama setahun terakhir karena ibu john sudah meninggal. Namun, John menolak permintaan dari meggie. John meninggalkan meggie yang berada di ruang tamu ke kamarnya. Meggie tetap saja menunggu john hingga john keluar kamarnya. Namun ternyata, yang menemui meggie adalah bukan sosok john tapi adalah sosok emma. Emma terkejut ketika melihat ada wanita lain di rumah john. Emmapun mengajukan pertanyaan-pertanyaan pada meggie, hingga akhirnya meggie bersedia menceritakan bahwa anak meggie adalah anak john. Emma terkejut, namun ia tidak marah dengan meggie. Emma justru mengatakan bahwa mereka berdua adalah keluarga. Dari pertemuan itulah emma dan meggie kemudian sering bertemu.
Setelah mendengar cerita Meggie tentang sosok ibu john, emma jadi penasaran dengan sosok ibu john tersebut. Emma kemudian masuk ke dalam kamar ibunya john. Emma melihat barang-barang yang ada di kamar ibunya tersebut. Setelah pertemuan itu, emma memikirkan cara untuk dapat membantu meggie karena kasihan. Kemudian emma meminta bantuan istri walikota untuk dapat memasukkan meggie di tempat penampungan milik walikota peacock, dan emma berencana untuk mengadopsi anak meggie tersebut. Namun, ketika meggie menelpon kepribadian john keesokan siangnya, meggie mengatakan bahwa ia ada di penampungan karena dibawa oleh emma tadi malam. Johnpun terkejut, dan ia sangat marah dengan emma. John kemudian menemui meggie dan menyuruh meggie pergi dari kota peacock dan john menjanjikan meggie bahwa ia akan memberikan semua uang tabungannya. Meggie heran, tetapi meggie menuruti perkataan john. Sejak saat itu, john merasa sosok emma adalah sosok yang mengganggu di kehidupan john. John berusaha keras menghindari sosok emma. John tidak mau lagi tinggal di rumahnya, namun sekarang john tinggal di motel.
Keesokan paginya ketika bangun pagi, tubuh john berubah sosok menjadi emma. Namun berbeda dari hari-hari biasanya, emma tidak berubah kepribadian menjadi john. Emma kemudian merencanakan agar masyarakat terutama meggie mengira kalau john seakan-akan meninggal. Emma membuat skenario cerita di motel tempat john tinggal sekarang. Emma membakar seorang laki-laki yang sebelumnya didandani emma seakan itu sosok john. Ketika laki-laki itu beserta motelnya terbakar, oarang-orang mengira bahwa laki-laki itu adalah john. Sejak saat itu, yang ada di tubuh john adalah sosok emma sedangkan sosok john sudah tidak ada lagi.
Berdasarkan cerita dalam film peacock tersebut, maka diketahui bahwa kepribadian john terpecah menjadi dua. Kepribadian utama adalah john sedangkan kepribadian pengganti dalam tubuh john adalah sosok wanita yang bernama emma. Antara kepribadian john dan emma, masing-masing tidak mengetahui apa yang setiap kepribadian lakukan sehari-hari, jadi kepribadian john dan emma masing-masing tidak terhubung. Berdasarkan kriteria-kriteria yang ditampilkan dari sosok john, maka dapat ditentukan bahwa john memiliki gangguan disosiatif.
Menurut DSM-IV-TR, diagnosis gangguan identitas disosiatif (DID) dapat ditegakkan bila seseorang memiliki sekurang-kurangnya dua kondisi ego yang terpisah, atau berubah dan berbeda dalam keberadaan, perasaan, dan tindakan yang satu sama lain tidak saling mempengaruhi dan yang muncul serta memegang kendali pada waktu yang berbeda. Kesenjangan memori juga umum terjadi dan biasanya karena sekurang-kurangnya satu kepribadian tidak memiliki kontak dengan yang lain; yaitu, kepribadian A tidak memiliki memori mengenai seperti apa kepribadian B atau bahkan tidak mengetahui sedikitpun bahwa ia memiliki kepribadian lain yang berbeda.
Kriteria DSM-IV-TR untuk DID, diantaranya :
1)    Harus ada dua atau lebih identitas atau kesadaran yang berbeda di dalam diri orang tersebut.
2)    Kepribadian-kepribadian ini secara berulang mengambil alih perilaku orang tersebut (Switching).
3)    Ada ketidakmampuan untuk mengingat informasi penting yang berkenaan dengan dirinya yang terlalu luar biasa untuk dianggap hanya sebagai lupa biasa.
4)  Gangguan-gangguan yang terjadi ini tidak terjadi karena efek psikologis dari substansiseperti alkohol atau obat-obatan atau karena kondisi medis seperti demam.

            Berdasarkan DSM IV tersebut, maka dapat diketahui bahwa sosok john memiliki gangguan disosiatif yaitu gangguan identitas disosiatif. Hal tersebut karena perilaku yang ditunjukkan oleh kepribadian john dan kepribadian emma sesuai dengan kriteria gangguan identitas disosiatif pada DSM IV diatas, yaitu sosok john memiliki dua kondisi ego yang terpisah. Kemudian kepribadian john dan kepribadian emma tidak saling mengetahui apa yang dilakukan masing-masing kepribadian.
Dinamika Kepribadian
John dibesarkan dalam keluarga yang sangat menutup diri dari lingkungan sekitar. John hanya tinggal berdua dengan ibunya. Ibu john adalah sosok wanita yang sangat menyayangi john. Ibunya tidak memperbolahkan john keluar rumah dan berbicara dengan orang asing yang tidak dikenal. Sehingga membuat john tidak bisa bersosialisasi dengan orang lain. John tumbuh menjadi anak yang pemalu, ia tidak bisa bersosialisasi dengan orang lain. Sehingga membuat john ketika besar tidak bisa menatap lawan bicaranya, john hanya menunduk ketika berbicara dengan orang lain. Menurut ibunya, lingkungan luar tidak aman bagi john, ibu john sangat takut apabila terjadi sesuatu pada john. Ibu john juga melarang john memakan makanan kesukaan john, karena makanan kesukannya adalah coklat yang menurut ibunya tidak sehat. Ibunya selalu berkata dengan keras kepada john, agar john patuh pada semua perkataan ibunya. Apapun yang ibunya perintahkan, maka john harus mematuhinya. Setiap harinya, ibunya selalu melayani kebutuhan john. Ibunya selalu memasakkan makanan yang sama kepada john. Ibu john selalu ingin anaknya merasa senang dan puas. Sampai suatu ketika ibu John membayar seorang wanita untuk berhubungan seksual dengan John, padahal John tidak menginginkannya tetapi karena ibunya memaksa. Perlakuan ibunya itu dianggapnya dapat memberikan kebahagiaan dan kepuasan untuk John. Karena perlakuan ibunya yang selalu mengatur dan melayani semua kebutuhan john, maka membuat john sangat terikat dengan sosok ibunya. Sehingga ketika ibunya meninggal, maka john sangat terpukul. John merasa dirinya telah kehilangan sosok yang selama ini menjaga, mengatur, membimbing dan melayani john. John merasa identitas dirinya terdistorsi sehingga ia membangun kepribadian ganda dan membentuk identitas baru. Dihari ibunya meninggal, perasaan john terdistorsi, ia sangat tidak terima apabila sosok yang selama ini menjaganya menghilang. Kemudian, john merasakan ada sosok yang datang menemaninya. Sosok itu adalah emma. Emma berperilaku seperti sosok yang menjaga dan melayani john. Setiap pagi, emma selalu mencuci pakaian john, ia juga memasakan sarapan pagi untuk john. Makanan yang dimasak oleh emma adalah makanan yang sama persis seperti yang disajikan oleh ibunya. Bahkan tataan tempat makan di meja makan sama persis seperti yang dilakukan ibunya semasa kecil. Selain itu, ketika john pulang dari bekerja, ia selalu mendapatkan kertas memo dari emma yang diletakkan emma di dekat tempat tidur john. Welcome Home, tulis emma. John selalu tersenyum membaca memo dari emma tersebut. Emma juga menuliskan memo perintah yang sama dengan yang pernah dilakukan ibunya sewaktu kecil yaitu “kamu langsung pergi kekantor, jangan berbicara dengan orang lain. Perilaku emma ini membuat john nyaman.
Suatu hari, ketika sedang berada dalam kepribadiannya sebagai seorang wanita, sebuah gerbong kereta api mengalami kecelakaan dan menabrak halaman belakang rumah John. Hal ini tentu saja menarik perhatian masyarakat sekitarnya, apalagi setelah melihat bahwa ada sesosok wanita yang berada di rumah John. Para masyarakat sekitar mengira sosok wanita itu adalah john. Setelah kejadian itu, istri walikota Peacock, Fanny Crill (Susan Sarandon), tertarik dengan kehidupan Emma dan ingin mengajaknya untuk ikut bagian dalam kampanye pemilihan suaminya kembali sebagai walikota Peacock di periode berikutnya. Ternyata, sosok Emma dan John sama sekali berbeda keinginan. Ketika Emma menyatakan kesetujuannya untuk ikut serta di berbagai acara publik dihadapan istri walikota tersebut, tapi ternyata ketika istri walikota tersebut memberitahu bahwa istrinya setuju untuk bekerjasama dalam kampanye walikota tersebut. Namun, sosok John malah kemudian menentang keputusan tersebut. John mengatakan bahwa dia bukan bosku, aku yang mengatur segalanya. Masalah bertambah ketika meggie datang dikehidupan john. meggie meminta uang kepada john untuk menghidupi anak akaibat hubungan mereka berdua. Saat emma ikut campur dengan masalah john dan meggie, maka membuat john marah. Emma melakukan hal-hal yang tidak disukai john. John berfikir bahwa sosok emma yang dulunya selalu melayani dan menjaganya, tiba-tiba berubah. Sekarang emma mulai terbuka dengan lingkungan luar. Emma tidak maksimal lagi mengurusi kebutuhan john. John berusaha keras untuk menghindari emma dengan cara tidak pulang ke rumahnya sendiri. Sosok emma juga berusaha untuk mendominasi john. Sehingga kedua kepribadian tersebut mengalami persaingan interpersonalitas, dimana satu kepribadian ingin mengenyahkan kepribadian yang lain.
Akhirnya, john sebenarnya (cilian murphy) gagal mempertahankan kepribadian utamanya, sehingga kepribadian pengganti lah (emma) yang menguasai john. Semua ini ditandai dengan peristiwa matinya john di kamar motel yang semuanya direkayasa oleh emma sang kepribadian pengganti.


BAB IV
PENUTUP


















DAFTAR PUSTAKA
Nevid, jeffrey dkk. 2005. Psikologi Abnormal Jilid 1. Jakarta: Erlangga






Tidak ada komentar:

Posting Komentar