BAB I
PENDAHULUAN
A. Judul Film
Judul
film : Peacock
Sutradara : Michael Lander
Produser : Nicole Brown, Nathan
Kahatne, Barry Mandel
Dirilis
oleh : Mandate pictures
Tahun
rilis : 2010
Genre : Thriller
B. Deskripsi Tokoh-Tokoh Dalam Film
1.
Cillian Murphy sebagai John Skillpa
Tokoh
utama pria yang berprofesi sebagai seorang karyawan BANK yang pemalu dan
termasuk orang yang menutup diri di lingkungan tempat tinggalnya, John
mempunyai kepribadian ganda sebagai Emma yaitu perempuan sebagai alter ego.
2.
Ellen Page sebagai Maggie
Seorang
ibu muda yang berjuang menghidupi anak hasil hubungannya
dengan John, Meggi juga memegang kunci kehidupan John di masa lalu dan memicu
pertempuran atau pertengkaran antara kepribadian John dan Emma.
3.
Susan Sarandon sebagai Fanny Crill ,
Seorang wanita istri dari Ray Crill yang
mencalonkan diri menjadi walikota Peacock,. Saat suaminya mencalonkan
diri menjadi walikota Peacock dan ia berpikir kalau lokasi kecelakaan kereta
tersebut dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari kampanyenya suaminya. Mulailah
Fanny (Susan Sarandon) mendekati Emma untuk melancarkan misi suaminya.
4. Josh Lucas sebagai TomMcGonigle
Seorang perwira polisilokal dan merupakan orang yang paling dekat dengan John.
C. Sinopsis Film “Peacock”
Peacock menceritakan mengenai John
Skillpa (Murphy), seorang pegawai di sebuah bank di kota Peacock, Nebraska,
yang memilih untuk menjauhi kehidupan di sekitarnya. Memang, semenjak dahulu
keluarga Skillpa dikenal mayarakat Peacock sebagai sebuah keluarga yang
tertutup. Namun bukan hanya itu yang menjadikan John sebagai seorang pria yang
terasing dari komunitas sekitarnya. John memiliki kepribadian ganda sebagai
seorang wanita yang tak seorangpun tahu keberadaannya.
Suatu hari, ketika sedang berada dalam kepribadiannya sebagai
seorang wanita, sebuah gerbong kereta api mengalami kecelakaan dan menabrak
halaman belakang rumah John. Hal ini tentu saja menarik perhatian masyarakat
sekitarnya, apalagi setelah melihat bahwa ada sesosok wanita yang berada di
rumah John. Oleh tetangga, sosok wanita tersebut akhirnya dikenal sebagai istri
John yang bernama Emma.
Kehidupan John yang selama ini tertutup, kini seolah menjadi
perhatian publik dengan adanya kejadian kecelakaan gerbong kereta api dan
penemuan bahwa John telah memiliki seorang “istri”. Tak pelak, bahkan istri
walikota Peacock, Fanny Crill (Susan Sarandon), tertarik dengan kehidupan Emma
dan ingin mengajaknya untuk ikut bagian dalam kampanye pemilihan suaminya
kembali sebagai walikota Peacock di periode berikutnya. Ternyata, sosok Emma
dan John sama sekali tidak terhubung satu sama lain. Ketika Emma menyatakan
kesetujuannya untuk ikut serta di berbagai acara publik, sosok John malah kemudian
menentang keputusan tersebut.
Masalah bagi John kemudian malah semakin bertambah dengan kedatangan
Maggie (Ellen Page), seorang wanita yang dulu pernah dibayar ibu John agar mau
berhubungan intim dengannya. Ternyata, hubungan tersebut membuahkan seorang
anak. Ibu John ternyata selama ini telah membayar Maggie agar menjaga jaraknya
dari John agar ia tidak mengetahui tentang keberadaan sang anak. Maggie, yang
tidak mengetahui bahwa ibu John telah meninggal setahun yang lalu, kini datang
untuk meminta bantuan finansial karena dirinya tidak menerima kiriman uang
selama setahun terakhir. Berbagai permasalahan ini kemudian makin diperumit
oleh sosok Emma dalam diri John yang semakin ingin menunjukkan eksistensinya
dan berniat untuk menyingkirkan sosok John.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
Gangguan disosiatif merupakan sebuah tipe gangguan
psikologis yang melibatkan suatu perubahan atau gangguan dalam fungsi
self-identitas, memori atau kesadaran yang membentuk sebuah kepribadian utuh.
Pada kondisi normal, kita mengetahui siapa diri kita. Kita mungkin tidak merasa
yakin mengenai diri kita secara eksistensial, atau filosofis, namun kita tahu
siapa nama kita, dimana kita tinggal. Kita juga ingat pada peristiwa-peristiwa
penting dalam hidup kita. Kita mungkin tidak dapat menceritakan secara detail,
namaun secara umum kita tahu apa yang telah kita lakukan selama beberapa hari,
beberapa minggu, dan beberapa tahun terakhir. Secara normal, ada kesatuan
kesadaran yang membangkitkan sence of self. Pada gangguan disosiatif, satu atau
lebih dari aspek dalam kehidupan sehari-hari ini terganggu terkadang secara
aneh.
Secara umum gangguan
disosiatif (dissociative disorders) bisa didefinisikan sebagai adanya
kehilangan (sebagian atau seluruh) dari integrasi normal (di bawah kendali
sadar) yang meliputi ingatan masa lalu, kesadaran identitas dan peng-nderaanan
segera (awareness of identity and immediate sensations),
serta control terhadap gerak tubuh.
Dalam penegakan diagnosis Gangguan Disosiatif
harus ada gangguan yang menyebabkan kegagalan mengoordinasikan identitas,
memori persepsi ataupun kesadaran, dan menyebabkan gangguan yang bermakna dalam
fungsi sosial, pekerjaan dan memanfaatkan waktu senggang.
Gejala utama gangguan ini
adalah adanya kehilangan (sebagian atau seluruh dari integrasi normal (dibawah
kendali kesadaran) antara lain:
- ingatan masa lalu
- kesadaran identitas dan penginderaan (awareness of identity and immediate sensations)
- kontrol terhadap gerakan tubuh
Pada DSM versi awal, gangguan
disosiatif dikelompokkan bersama gangguan kecemasan. Pengelompokkan ini
didasarkan pada model psikodinamika, yang berpendapat bahwa berbagai gangguan
melibatkan cara-cara maladaptif dalam mengelola kecemasan. Pada gangguan
kecemasan, munculnya kecemasan pada tingkatan mengganggu diekspresikan secara
langsung dalam perilaku, seperti fobia pada suatu objek atau situasi. Namun
peran keemasan dalam gangguan disosiatif lebih cenderung diisyaratkan dan bukan
diekspresikan dalam perilaku. Orang dengan gangguan disosiatif mungkin tidak
akan menunjukkan kecemasan yang terlihat jelas. Namun hal tersebut
dimanifestasikan pada masalah psikologis lain, seperti kehilangan ingatan atau
perubahan identitas. Saat ini DSM memisahkan gangguan kecemasan dari gangguan
disosiatif.
Gangguan Disosiatif
Gangguan disosiatif
mayor mencakup gangguan identitas disosiatif, amnesia disosiatif, fugue
disosiatif dan gangguan depersonalisasi. Dalam setiap kasus terdapat suatu
gangguan atau disosiasi (perpecahan) pada fungsi-fungsi identitas, ingatan,
atau kesadaran yang dalam keadaan normalmembuat diri kita menjadi satu
kesatuan.
Penyebab Gangguan Disosiatif
Gangguan Disosiatif
belum dapat diketahui penyebab pastinya, namun biasanya terjadi akibat
trauma masa lalu yang berat, namun tidak ada gangguan organik yang dialami.
Gangguan ini terjadi pertama pada saat anak-anak namun tidak khas dan belum
bisa teridentifikasikan, dalam perjalanan penyakitnya gangguan disosiatif ini
bisa terjadi sewaktu-waktu dan trauma masa lalu pernah terjadi kembali, dan
berulang-ulang sehingga terjadinya gejala gangguan disosiatif.
Dalam beberapa referensi menyebutkan bahwa trauma yang terjadi berupa :
- Kepribadian yang labil
- Pelecehan seksual
- Pelecehan fisik
- Kekerasan dalam rumah tangga (ayah dan ibu cerai)
- Lingkungan social yang sering memperlihatkan kekerasan
Identitas personal
terbentuk selama masa kecil, dan selama itupun, anak-anak lebih mudah melangkah
keluar dari dirinya dan mengobservasi trauma walaupun itu terjadi pada orang
lain.
Tanda dan Gejala
Pada Gangguan disosiatif,
kemampuan kendali dibawah kesadaran dan kendali selektif tersebut terganggu
sampai taraf yang dapat berlangsung dari hari kehari atau bahkan jam ke jam.
Gejala umum untuk seluruh tipe gangguan
disosiatif, meliputi :
-
Hilang ingatan (amnesia) terhadap periode waktu tertentu, kejadian dan orang
-
Masalah gangguan mental, meliputi depresi dan kecemasan
-
Persepsi terhadap orang dan benda di sekitarnya tidak nyata (derealisasi)
-
Identitas yang buram
Gangguan Identitas Disosiatif
Gangguan identitas
disosiatif disebut juga kepribadian terpecah. Kepribadian ini terpecah menjadi
dua atau lebih, dimana masing-masing dengan trait dan ingatan yang terdefinisi
secara baik yang menempati tubuh satu orang. Mereka bisa sadar atau tidak sadar
akan keberadaan satu dan yang lainnya.
Menurut DSM-IV-TR, gangguan
identitas disosiatif (DID) sebelumnya disebut kepribadian ganda, gangguan (GKG)
adalah gangguan disosiatif yang dramatis dimana pasien memanifestasikan dua
atau lebih identitas berbeda yang dalam beberapa cara alternative dalam
mengendalikan perilaku. Ada juga ketidakmampuan untuk mengingat informasi yang
penting yang tidak dapat dijelaskan. Setiap identitas tampak memiliki sejarah
pribadi yang berbeda, citra diri dan nama meskipun ada beerapa identitas yang
hanya parsial yang berbeda dan independent dari identitas lainnya.
Menurut DSM-IV-TR,
diagnosis gangguan identitas disosiatif (DID) dapat ditegakkan bila seseorang
memiliki sekurang-kurangnya dua kondisi ego yang terpisah, atau berubah dan
berbeda dalam keberadaan, perasaan, dan tindakan yang satu sama lain tidak
saling mempengaruhi dan yang muncul serta memegang kendali pada waktu yang
berbeda. Kadangkala terdapat satu kepribadian primer, dan penanganan biasanya
diperuntukkan bagi kepribadian primer. Umumnya terdapat dua hingga empat
kepribadian pada saat diagnosis ditegakkan, namun selama berlangsungnya terapi
seringkali muncul beberapa kepribadian baru. Kesenjangan memori juga umum
terjadi dan biasanya karena sekurang-kurangnya satu kepribadian tidak memiliki
kontak dengan yang lain; yaitu, kepribadian A tidak memiliki memori mengenai
seperti apa kepribadian B atau bahkan tidak mengetahui sedikitpun bahwa ia
memiliki kepribadian lain yang berbeda.
DID biasanya berawal pada
masa kanak-kanak, namun jarang didiagnosis hingga usia dewasa. Gangguan ini
lebih luas dibanding gangguan disosiatif lain, dan penyembuhannya kurang
menyeluruh. Gangguan ini jauh lebih sering terjadi pada perempuan disbanding laki-laki.
DID umumnya disertai sakit
kepala, penyalahgunaan zat, fobia, halusinasi, upaya bunuh diri, disfungsi
seksual, perilaku melukai diri sendiri, dan juga simtom-simtom disosiatif lain
seperti amnesia dan depersonlisasi.
Kriteria DSM-IV-TR untuk
DID, diantaranya :
1)
Harus ada dua atau lebih identitas atau kesadaran yang
berbeda di dalam diri orang tersebut.
2)
Kepribadian-kepribadian ini secara berulang mengambil
alih perilaku orang tersebut (Switching).
3)
Ada ketidakmampuan untuk mengingat informasi penting yang
berkenaan dengan dirinya yang terlalu luar biasa untuk dianggap hanya sebagai
lupa biasa.
4)
Gangguan-gangguan yang terjadi ini tidak terjadi karena efek
psikologis dari substansi seperti alkohol atau obat-obatan atau karena kondisi
medis seperti demam.
Perkembangan Gangguan
Indentitas Disosiatif:
- Individu memiliki setidaknya dua kepribadian yang berbeda (adanya perbedaan dalam keberadaan, feeling, perilaku), bahkan ada yang bertolak belakang.
- Adanya dua atau lebih kepribadian yang terpisah dan berbeda pada seseorang. Setiap kepribadian memiliki pola perilaku, hubungan dan memori masing-masing.
- Kepribadian yang asli dan pecahannya kadang dapat menyadari adanya periode waktu yang hilang, adanya kepribadian yang lain. Suara dari kepribadian yang lain sering bergema, masuk ke kesadaran mereka tapi tidak diketahui milik siapa.
- Gap dalam memori mungkin terjadi jika suatu kepribadian tidak berkaitan dengan kepribadian yang lain.
- Keberadaan pribadi-pribadiyang berbeda menyebabkan gangguan dalam kehidupan seseorang dan tidak dapat disembuhkan seketika oleh obat-obatan.
- Biasanya muncul di awal masa kanak-kanak (adanya trauma berat di masa kanak-kanak), namun jarang didiagnosis sampai masa remaja. Lebih berat dari bentuk gangguan disosiatif lainnya
- Wanita > pria
Ciri-ciri dalam
salah satu penelitian terbesar
mengenai kepribadian ganda saat ini, Ross, Norton, dan Wozney (1989)
mengumpulkan 236 laporan kasus dengan gangguan tersebut dari 203 ahli kesehatan
di Kanada. Tidak seperti laporan mengenai kepribadian ganda pada abad ke-19 dan
awal abad ke-20, dimana hampor semua kasus melibatkan dua kepribadian,
kasus-kasus pada sampel di Kanada rata-rata memiliki 15 hingga 16 kepribadia
alter per orang (Ross dkk, 1989).
Ada banyak variasi.
Pada beberapa kasus, kepribadian tuan rumah (utama) mungkin tidak sadar akan
kehadiran identitas lainnya, sementara kepribadian lainnya sadar akan
keberadaan si tuan rumah (Dorahy, 2001). Pada kasus-kasus lainnya,
kepribadian-kepribadian yang berbeda benar-benar tidak sadar satu sama lain.
Terkadang dua kepribadian bersaing untuk mendapatkan kontrol terhadap orang
tersebut. Kadang-kadang ada satu kepribadian dominan atau inti dan ada beberapa
kepribadian subkordinat. Beberapa dari kepribadian pengganti (atau “kepribadian
alter”) umumnya mencakup anak-anak
dari beragam usia, remaja dengan jenis kelamin yang berbeda, pekerja seks
komersial, serta laki-laki homoseksual dan wanita lesbian (Ross dkk, 1989).
Beberapa kepribadian dapat menunujukkan simtom-simtom psikosis-putus dari
realitas yang diekpresikan dalam bentuk halusinasi dan berpikir delusional.
Kelompok-kelompok
keribadian alter berfungsi sebagai mikroskosmos dari tema-tema dorongan dan
budaya yang saling bertentangan. Tema-tema ambivalensi seksual (kterbukaan vs
keterbatasan seksual) dan perubahan orientasi seksual cukup umum terjadi. Hal
ini seolah-olah menggambarkan dorongan-dorongan internal yang saling
bertentangan tidak dapat muncul atau mencapai dominansi. Sebagai hasilnya,
masing-masing diekspresikan sebagai trait utama atau trait penuntun dari
kepribadian pengganti.
Kepribadian yang
dominan sering tidak menyadari keberadaan kepribadian-kepribadian alter. Hal
ini menunjukkan bahwa mekanisme disosiasi dikontrol oleh proses-proses
keidaksadaran. Meski kepribadian dominan tidak menyadari mengenai keberadaan
kepribadian lainnya, ia dapat samar-samar merasakan bahwa ada sesuatu yang
tidak beres. Bahkan mungkin terjadi “persaingan interpersonalitas” dimana satu
kepribadian ingin mengenyahkan yang lain, biasanya dengan penuh ketidakpedulian
dari kenyataan bahwa menganigerahkan coup
the grace pada satu pengganti akan menimbulkan kematian bagi semuanya.
Kontroversi meskipun kepribadian ganda umumnya dianggap jarang, keberadaan yang
sebenarnya dari gangguan tersebut terus menimbulkan perdebatan. Hanya sedikit
kasus diseluruh dunia yang dilaporkan telah meroket menjadi ribuan (Spanos.
1994). Hal ini membuat sejumlah paraktisi mengatakan bahwa kepribadian ganda
lebih umum terjadi daripada yang diyakini sebelumnya (Bliss & Jeppsen,1985;
Schafer, 1986). Namun ahli-ahli yang lain tidak terlalu yakin. Sejumlah ahli
percaya bahwa gangguan tersebut terlalu cepat didiagnosis pada orang-orang yang
sangat mudah tersugesti bahwa mereka mungkin memiliki gangguan tersebut (APA,
2000) meningkatnya perhatian publik terhadap gangguan ini pada tahun-tahun
terakhir juga terjadi karena persepsi bahwa prevalensinya lebih besar daripada
yang dipercaya sebelumnya.
Ganggaun ini tampak terikat dengan budaya dan terutama
terbatas pada Amerika utara (Spanos, 1994). Relatif hanya sedikit kasus yang
dilaporkan di tempat lain, bahwa dinegara barat seperti Inggris Raya dan
Prancis sekalipun. Survei terakhir di jepang tidak menemukan satu kasus pun, di
Swiss, 90% psikiater melaporkan tidak pernah melihat satu kasus pun dari
gangguan tersebut (Modestin, 1992; Spanos, 1994). Di Amerika Utara saja
hanya sedikit psikolog dan psikiater
yang pernah menangani kasus kepribadian ganda. Kebanyakan kasus dilaporkan oleh
relatif sejumlah kecil penelitian dan klinisi yang sangat percaya pada
keberadaan dari gangguan tersebut. Hal ini menimbulkan kritik, mungkinkah
mereka membantu membentuk gangguan yang mereka cari tersebut ?
Sejumlah pakar terkenal, seperti almarhum psikologi
Nicholas spanos percaya akan hal itu. Spanos dan para psikolog lainnya telah
menantangh keberadaan gangguan identitas disosiatif (kepribadian ganda).
(Reisner, 1994; Spanos, 1994) bagi Spanos, kepribadian ganda bukanlah suatu
ganggguan tersendiri, namun suatu bentuk bermain peran di mana individu pertama-tama mulai menanggap
diri mereka memiliki self ganda dan kemudian mulai bertindak dengan cara
konsisten dengan konsepsi mereka mengenali gangguan tersebut. pada kahirnya
permainan peran mereka tertanam sangat dalam sehingga menjadi kenyataan bagi
mereka. Mungkinm terapis atau konselur mereka secara tidak sengajka menanamkan
ide di pikiran mereka bahwa perubahan emosi dan tingkah laku mereka yang
membingungkan dapat mewakili kepribadian-kepribadian berbeda yang sedang
muncul. Orang yang mudah terpesona kemungkinan belajar bagaimana menampilkan
peran dari tokoh-tokoh yang memilik igangguan ini dengan cara menonton orang
lain berakting dalam peran tersebut di televisidan film. Film dan acara tv
seperti The Theree Faces of Eve dan Sybil telah memberikan contoh detail dari
tingkah laku yang mencirikan kepribadian ganda (Spanos, Weekes, & Bertrand,
1985). Atau mungkin dapat membuat orang menampilkan peran tersebut secara
menyakinkan.
Banyak reinforcement yang bersatu untuk mendorong
tampilanya peran suatu kepribadian ganda. Mendapatkan perhatian dari orang lain
dan menghindari tanggung jawab untuk tingkah laku yang tidak daapat diterima
adalah 2 kemungkinan sumber reinforcement (Spanos dkk., 1985).hal ini tidak
untuk dapat diterima adalah 2 kemungkinan sumber reinforcement (Spanos dkk.,
1985). Hal ini tidak untuk menyatakan bahwa orang dengan kepribadian ganda
‘berpura-pura, “ lebih dari Anda mungkin menampilkan peran dari pelajar
(contohnya, duduk dengan penuh perhatian dikelas, mengangkat tangan saat ingin
berbicara, dll). Karena anda telah belajar mengorganisasikan tingkah laku anda
sesuai dengan tuntutan peran dan karena anda telah belajar mendapat reward
dengan melakukannya. Orang dengan kepribadian ganda mungkin telah
mengindentifikasi dirinya secara sangat dekat hingga peran tersebut menjadi
nyata bagi mereka.
Untuk melindungi keyakinan bahwa kepribadian ganda
merupakan suatu bentuk bermain peran. Spanos ndan kolega-koleganya menunjukkan
bahwa dengan petunjuk secukupnya, mahasiswa – mahasiswa dalam bentuk stimulasi
laboratorium dari tipe introgasi terhadap Bianchi dapat dengan sangat mudah
menampilkan sebuah peran kepribadian ganda, bahkan melemparkan kesalahan
pmelarikan ada cara introgasi yang dilakukan terhadap Bianchi dapat dengan sangat mudah menampilkan
sebuah peran kepribadian ganda, bahkan melemparkan kesalahan pada cara
interogasi yang dilakukan terhadap Bianchi telah memberikan petunjuk pada
Bianchi untuk menampilkan peran kepribadian ganda dengan maksud melarikan diri dari tanggung jawab kriminal
(ini tidak berhasil, karena ia tetap saja dianggap bersalah).
Relatif hanya sedikit kasus kepribadian ganda yang
melibatkan tingkah laku kriminalitas dimana dengan menampilkan peranan
kepribadian ganda dengan membebaskan seseorang dengan tanggung jawab kriminal
atas tingkah lakunya. Tetapi bahkan pada kasus-kasus yang lebih umum, mungkin
terdapat lebih umum, mungkin terdapat lebih banyak insntif yang halus/samar
untuk menampilkan peran kepribadian ganda, seperti ekspresi terapis yang
tertarik dan gembira saat menemukan suatu kasus kepribadiaan ganda sering kali
sangat imajinatif pada masa kecilnya. Karena terbiasa dengan permainan “make-believe”
(pua-pura/bermain peran), mereka mungkin sudah mengadopsi identitas pengganti,
terutama bila mereka belajar bagaimanan menampilkan peran kepribadian ganda dan
ada sumber eksternal yang membenarkan, seperti tertarik dan kepedulian seorang
klinis.
Kepribadian ganda, yang sering disebut “kepribadian
terpecah “ oleh orang awam , tidak boleh
dicampuradukkan skizofernia. Skizofernia
(berasal dari akar kata yang berarti “otak terpecah” lebih umum terjadi
daripada kepribadian ganda dan mencakup
‘ pecahnya” Kognisi , afek, dan prilaku . hal tersebut dapat berupa
sedikitnya keserasian antara pikiran dan
emosi , atau antara persepsi individu terhadap realitas denagn apa yangt
sebenarnya terjadi. Orang dengan skizrofenia akan menjadi pusing bila diberi
tahu mengenai peristiwa yang menggangu atau dapat mengalami halusinasi dan
waham (lihat Bab 13). Pada orang dengan kepribadian ganda, kepribadian seperti
terbagi ke dalam dua atau lebih kepribadian, namun masing-masing biasanya
menunjukkan fungsi yang lebih terintegrasi pada tingkat kognisi, afektif, dan
prilaku daripada orang yang mengalami skizrofenia.
Amnesia Disosiatif
Amnesia
disosiatif dipercaya sebagai tipe yang paling umum dari gangguan disosiatif
(Maldonado, Butler & Speigel, 1998). Amnesia diambil dari akar kata Yunani
a-, berarti “tanpa” dan mnasthai, berarti “untuk mengingat.” Dalam amnesia
disosiatif (dissocistive amnesia), sebelumnya disebut amnesia psikogenik, orang
menjadi tidak mampu menyebutkan kembali informasi pribadi yang penting,
biasanya melibatkan pengalaman yang traumatis atau penuh tekanan, dalam bentuk
yang tidak dapat sebagai lupa yang biasa. Kehilangan ingatan ini juga tidak
disebabkan oleh penyebab organis tertentu, seperti kerusakan pada otak atau
kondisi medis tertentu, bukan pula efek langsung dari obat-obatan atau alkohol.
Tidak seperti bentuk progresif dari hendaya ingatan (seperti demensia yang
diasosiasikan dengan penyakit alzheimer), ingatan yang hilang dalam amnesia
disosiatif dapat kembali, meski gangguan ini bisa berlangsung selama beberapa
hari, minggu, atau bahkan tahun. Mengingat kembali dalam amnesia disosiatif
dpat terjadi secara bertahap tetapi sering kali muncul secara tiba-tiba dan
spontan, seperti saat seseorang tentara yang tidak dapat mengingat pertarungan
beberapa hari setelahnya tiba-tiba dapat mengingat pengalamannya setelah
dipindahkan kerumah sakit yang jauh dari medan perang.
Amnesia disosiatif adalah
hilangnya memori setelah kejadian yang penuh stres. Seseorang yang menderita
gangguan ini tidak mampu mengingat informasi pribadi yang penting, biasanya
setelah suatu episode yang penuh stres.
Pada amnesia total,
penderita tidak mengenali keluarga dan teman-temannya, tetapi tetap memiliki
kemampuan bicara, membaca dan penalaran, juga tetap memiliki bakat dan
pengetahuan tentang dunia yang telah diperoleh sebelumnya.
Perkembangan Klinis amnesia
disosiatif:
- Hilangnya daya ingat (sebagian / seluruh), biasanya mengenai kejadian-kejadian penting (stressful, traumatik) yang baru terjadi, tidak disebabkan gangguan mental organic, kelupaan, kelelahan, intoksikasi.
- Individu tiba-tiba menjadi tidak dapat mengingat kembali informasi personal yang penting (biasanya setelah mengalami beberapa peristiwa stressful).
- Selama periode amnesia, perilaku atau kemampuan individu mungkin tidak berubah, kecuali bahwa hilangnya memori menyebabkan beberapa disorientasi, tidak mengenali identitas (asal, teman, keluarga, dll)
- Hilangnya memori
- Bisa hanya untuk peristiwa tertentu atau seluruh peristiwa kehidupan
- Biasanya berlangsung dalam periode waktu tertentu, bisa beberapa jam sampai dengan beberapa tahun
- Memori biasanya kembali muncul secara tiba-tiba juga, lengkap seperti sebelumnya (hanya sedikit kemungkinan untuk kambuh)
- Hilangnya memori tidak sama dengan yang disebabkan oleh kerusakan otak atau karena ketergantungan obat.
Amnesia
bukanlah lupa yang biasa, seperti lupa nama seseorang atu dimana anda
meletakkan kunci mobil. Kehilangan ingatan dalam amnesia bersifat lebih ekstrem
atau luas cakupannya. Kebanyakan kasus dari amnesia disosiatif mengambil bentuk
amnesia terlokalisasi di mana peristiwa yang terjadi dalam suatu periode waktu
tertentu hilang dari ingatan. Misalnya, orang tersebut tidak bisa mengingat
kembali untuk beberapa jam atau hari setelah suatu kejadian yang menekan atau
traumatis, seperti perang atau kecelakaan mobil. Bentuk lain dari amnesia
disosiatif mencakup amnesia selektif dan amnesia menyeluruh. Dalam amnesia
selektif, orang lupa hanya pada hal-hal khusus yang mengganggu yang terdapat
dalam suatu periode waktu tertentu. Seseorang dapat mengingat periode hidup
dimana ia melakukan perselingkuhan dalam pernikahannya, tapi justru tidak ingat
peristiwa perselingkuhan yang membuat ia merasa bersalah tersebut. Seorag
tentara dapat mengingat hampir seluruh pertempuran, tapi bukan kematian dari
sahabatnya. Dalam amnesia menyeluruh, orang melupakan seluruh kehidupan, siapa
dirinya, apa pekerjaannya, dimana tempat tinggalnya, dengan siapa ia tinggal,
bentuk amnesia ini sangat jarang terjadi, meski anda tidak akan mengira begitu
bila anda menenton opera-opera sabun di siang hari. Orang dengan amnesia
menyeluruh tidak dapat mengingat informasi pribadi, namun cendrung untuk tetap
mempertahankan kebiasaan, selera dan keterampilan mereka. Bila anda mengalami
amnesia menyeluruh anda akan tetap tahu bagaimana cara membaca, meski anda
tidak ingat siapa guru sekolah dasar anda. Anda akan tetap lebih suka kentang
goreng daripada kentang panggang atau sebaliknya. Orang dengan amnesia
disosiatif biasanya lupa p[ada peristiwa atau periode kehidupan yang traumatis,
yang membangkitkan emosi negatif yang kuat seperti ketakutan atau rasa
bersalah.
Orang
terkadang mengaku mereka tidak dapat mengingat peristiwa-peristiwa tertentu
dalam kehidupan mereka, seperti tindakan kriminal, janji terhadap orang lain,
dan seterusnya. Pura-pura mengaku amnesia sebagai suatu carta menghindari
tanggung jawab disebut malingering, yang mencakup usaha untuk meniru simtom
terkait atau membuat pengakuan palsu demi keuntungan pribadi. Metode penelitian
kita tidak menjamin bahwa kita bisa membedakan antara orang yang mengalami
amnesia disosiatif dengan orang yang malingering. Namun klinisi yang
berpengalaman dapat membuat dugaan yang masuk akal dan terpelajar.
Fugue Disosiatif
Fugue
berasal dari bahas latin fugere yang berarti “melarikan diri”. Kata fugitive
(pelarian buronan) memiliki asal kata yang sama. Fugue sama seperti amnesia
“dalam pelarian”. Dalam fugue disosiatif (dissociative fugue), sebelum disebut
fugue psikogenik, si penderita melakukan perjalanan secara tiba-tiba dan tanpa
diduga sebelumnya dari rumah atau tempat kerjanya, ia tidak mampu mengingat
kembali informasi personal yang sudah-sudah, dan menjadi bingung akan
identitasnya atau mengasumsikan identitas yang baru (baik secara bagian atau
pun secara lengkap)(APA, 2000). selain perilaku yang aneh ini , orang tersebut
dapat terkesan “normal” dan tidak menunjukan tanda-tanda lain dari gangguan
mental (Maldonado dkk., 1998) orang tersebut mungkin tidak memikirkan tentang
masa lalu, atau mungkin melaporkan masa lalu yang penuh dengan memori yang
salah tanpa menyadari bahwa memori itu salah.
Fugue disosiatif adalah
hilangnya memori yang disertai dengan meninggalkan rumah dan menciptakan
identitas baru. Dalam fugue disosiatif, hilangnya memori lebih besar dibanding
dalam amnesia disosiatif. Orang yang mengalami fugue disosiatif tidak hanya
mengalami amnesia total, namun tiba-tiba meninggalkan rumah dan beraktivitas
dengan menggunakan identitas baru.
Perkembangan klinis Fugue
Disosiatif:
- Gangguan di mana individu melupakan informasi personal yang penting dan membentuk identitas baru, juga pindah ke tempat baru.
- Individu tidak hanya mengalami amnesia secara total, namun juga tiba-tiba pindah (melarikan diri) dari rumah dan pekerjaan, serta membentuk identitas baru.
- Biasanya terjadi setelah seseorang mengalami beberapa stress yang berat (konflik dengan pasangan, kehilangan pekerjaan, penderitaan karena bencana alam).
- Identitas baru sering berkaitan dengan nama, rumah, pekerjaan bahkan karakteristik personality yang baru. Di kehidupan yang baru, individu bisa sukses walaupun tidak mampu untuk mengingat masa lalu.
- Recovery biasanya lengkap dan individu biasanya tidak ingat apa yang terjadi selama fugue.
Bila
orang dengan amnesia tampak berjalan-jalan tanpa tujuan, orang dalam tahap
fugue bertindak lebih bertujuan. Beberapa tetap berada dekat dengan tempat
tinggal mereka. Mereka menghabiskan siang hari di taman atau bioskiop, atau
mereka menghabiskan malam hari dihotel menggunakan nama lain, biasanya hanya dengan
sedikit atau tanpa kontak dengan orang lain saat berada pada tahap fugue. Namun
identitas baru tersebut tidaklah lengkap serta mengambang dan kesadaran akan
dirinya yang duludapat muncul dalam waktu beberapa jam atau beberapa hari. Pola
yang jarang terjadi adalah bila tahap fugue berlangsu ng selama beberapa bulan
atau tahun serta mencakup perjalanan ke tempat dan jauh dan asumsi akan
identitas yang baru. Individu-individu
ini dapat mengasumsikan sebuah identitas yang lebih spontan dan lebih mudah bersosialisasi
daripada dirinya yang dulu, yang biasanya “pendiam” dan “biasa-biasa saja”.
Mereka dapat membangun keluarga baru dan bisnis yang sukses. Meskipun kejadian
ini terdengar agak aneh, tahap fugue tidak dianggap sebagai psikotik karena
orang yang memiliki gangguan ini dapat berpikir dan berperilaku cukup normal,
tentu, dikehidupan barunya. Hingga suatu hari, secara tiba-tiba, kesadaran akan
identitas masa lalunya muncul kembali, dan mereka dibanjiri dengan memori lama.
Pada saat itu, biasanya, mereka tidak mengingat kejadian yang muncul selama
tahap fugue. Identitas barunya, kehidupan barunya termasuk semua keterlibatan
dan tanggung jawabnya hilang dari ingatan.
Fugue
seperti amnesia, relatif jarang terjadi dan diyakini hanya mempengaruhi 2 dari
1000 orang dalam populasi umum (APA, 2000). Gangguan ini paling banyak muncul
dalam masa perang (Loewenstein, 1991) atau terbangkitkan karena adanya bencana
maupun peristiwa lain yang sangat menekan. Hal yang utama disini adalah
disosiasi dalam tahap fugue melindungi seseorang dari ingatan traumatis atau
sumber pengalaman maupun konflik lain yang menyakitkan secara emosi (Maldonado dkk. 1998).
Fugue
juga sulit untuk dibedakan dari malingering. Ini karena sejumlah orang yang
tidak puas dengan kehidupan lamanya mengaku amnesia saat mereka ditemukan
dilokasi baru dengan identitas barunya.
Gangguan
Depersonalisasi
Gangguan
depersonalisasi adalah suatu kondisi dimana persepsi atau pengalaman seseorang
terhadap diri sendiri berubah. Dalam episode depersonalisasi, yang umumnya
dipicu oleh stres, individu secara mendadak kehilangan rasa diri mereka. Para
penderita gangguan ini mengalami pengalaman sensori yang tidak biasa, misalnya
ukuran tangan dan kaki mereka berubah secara drastis, atau suara mereka
terdengar asing bagi mereka sendiri. Penderita juga merasa berada di luar tubuh
mereka, menatap diri mereka sendiri dari kejauhan, terkadang mereka merasa
seperti robot, atau mereka seolah bergerak di dunia nyata.
Perkembangan klinis
gangguan Dipersonalisasi:
- Gangguan di mana adanya perubahan dalam persepsi atau pengalaman individu mengenai dirinya.
- Individu merasa “tidak riil” dan merasa asing terhadap diri dan sekelilingnya, cukup mengganggu fungsi dirinya.
- Memori tidak berubah, tapi individu kehilangan sense of self.
- Gangguan ini menyebabkan stress dan menimbulkan hambatan dalam berbagai fungsi kehidupan.
- Biasanya terjadi setelah mengalami stress berat, seperti kecelakaan atau situasi yang berbahaya.
- Biasanya berawal pada masa remaja dan perjalanannya bersifat kronis (dalam waktu yang lama).
Depersonalisasi
(depersonalization) mencakup kehilangan atau perubahan temporer dalam perasaan
yang biasa mengenai realitas diri
sendiri. Dalam suatu tahap depersonalisasi, orang merasa terpisah dari dirinya
sendiri dan lingkungan sekitarnya. Mereka mungkin merasa seperti sedang
bermimpi atau bertingkah laku seperti robot(Guralnik,Schmeidler, &
Simeon,2000;Maldonado, Butler,&Speigel,1998).
Derealisasi
(derealization)- suatu perasaan tidak nyata mengenai dunia luar yang mencakup
perubahan yang aneh dalam persepsi mengenai lingkungann sekitar, atau dalam
perasaan mengenai periode waktu-juga dapat muncul. Orang dan objek dapat tampak berubah ukuran
atau bentuk dan dapat pula mengeluarkan suara yang berbeda. Semua perasaan ini
dapat diasosiasikan dengan kecemasan,termasuk pusing dan ketakutan akan menjadi
gila,atau dengan depresi.
Meski
sensai –sensasi ini asinng, orang dengan depersonalisasi tetap memeiliki kontak
dengan realitas. Berbeda dengan membedakan kenyataan dari yang tidak nyata,
bahkan pada episode depersonalisasinya.
Berbeda dengan amnesia menyeluruh dann fugue, mereka tahu siapa dari mereka. Ingatan mereka lebih baik dan mereka
tahu di mana mereka berada bahkan bila
mereka tidak menyukai kondisi mereka saat itu. Perasaan depersonalisasi
biasanya datang tiba2 dan menghilang secara bertahap.
Perhatikan bahwa
sejauh ini kami hanya menjelaskan perassaan yang normal dari depersonalisasi.
Menurut DSM ,satu episode singkat
depersonalisasi pernah di alami kira-kira oleh setengah dari seluruh
orang dewasa, biasanya saat mengalami stres berat. Perkiraan antara 80%-90%
dari populasi umum mengalami
pengalaman di sosiatif
sewaktu-waktu(Gershuny&Thayer,1999).Pertimbangkan pengalaman Richhier.
Sebuah kasus Gangguan Depersonalisasi
Seorang
mahasiswa berusia 20 tahun takut akan
menjadi gila. Selama dua tahun ,ia
semakin sering mengalami perasaan
“berada di luar” dirinya. Selama episode
itu, ia mengalami perasaan “kematian” pada tubuhnya, dan merasa goyah, sering
kali menabrak perabotan. Ia makin cenderung untuk kehilangan keseimbangan jika episode itu terjadi di saat iya di tengah pabrik terutama bila ia merasa cemas. Selama terjadinya
episode ini pikirannya seperti “berkabut”, mengingatkan nya pada kondisi
pikiran saat ia di suntik obat penghilang rasa sakit untuk oprasi usus buntu
lima tahun sebelumnya. Ia mencoba memerangi episode-episode ini bila terjadi,
dengan mengatakan “stop” pada dirinya sendiri dan menggeleng-gelengkan
kepalanya. Ini akan menjernihkan kepalanya untuk sementara,namun perassaan
berada di luar dirinya dan rasa kematian akan semakin kembali. Perasaan yang
mengganggu ini akan hilang secara bertahap dalam beberapa jam. Aat pada
penanganan, ia mengalami episode ini sekitar 2x per minggu masing-masing berlangsung
selama tiga sampai eempat jam. Nilai-nilai
kuliahnya tetap tidak terganggu, bahkan pernah meningkat pada beberapa
bulan terakhir, di saat ia menghabiskan
waktu lebih banyak untuk belajar.namun demikiann, pacarny,orang yang ia
ceritakan tentang massalahnya, merasa bahwa si ahasiswa merassakan benar-benar
terpaku pada dirinya sendiri dan pacarnya mengajak untuk putus hubungan bila
ia tidak berubah.Pacarnya juga berkencan
dengan pria lain.(Spitzer dkk,1994, hal 270-270.
Dalam wacana tingkah
laku yang dapat di observasi dan ciri-ciri yang terkait , depersonalisasi
mungkin lebih erat hubungannya dengan ggangguan seperti fobia dan panik dari
pada ganggguan disosiatif. Tidak seperti
bentuk lain dari gangguan disosiatif yang sepertinya melindungi self dari
kecemasan, depersonalisasi dapat
menimbulkan kecemasan dan selanjutnya menimbulkan perilaku mmenghindar, seperti
yang kita lihat dalam kasus richie.
Sindrom Disosiatif
yanng terkait dengan budaya
Ada kesamaan antara
konsep barat akan gangguan disosiatif dengan sindrom-sindrom tertentu yang
terkait dengan budaya yang ditemukan di bagian lain benua. Amok adalah sebuah sindrom terkait budaya terutama
terdapat di budaya asia dan kebudayaan
pasifik yang menggambarkan suatu tahap
trancelike dimana seseorang tiba-tiba menjaddi sangat kacau secara
emosional dan menyerang orang lain atau merusak objek secara kejam. Orang
yang mengamuk nantinya akan mengaku bahwa iya tidak ingat
episode tersebut dan mengingat perasaan seolah-olah terak ber akting menjadi
sebuah robot. Contoh lain adalah istilah yang di gunakan di negara-negara
afrika utara dan timur tengah untuk menggambarkan penguasaan roh-roh dalam diri
orang yang mengalami tahap disosiatif saat tahap ini terjadi, individu terlibat
dalam perilaku yang tidak biasa, mulai dari berteriak-teriak hingga
membentur-bentur kepalanya kedinding. Perilaku ini sendiri tidak disebut
abnormal, karena dipercaya bahwa hal tersebut di kontrol oleh roh-roh.
Pandangan-pandangan Teoritis
Gangguan
disasosiatif adalah fenomena yang sangat mengagumkan dan menarik namun
membingungkan. Bagaimana perasaan seseorang akan identitas dirinya bisa menjadi
sangat terdistorsi hingga orang tersebut membangun kepribadian ganda,
kehilangan banyak potongan dari ingattan pribadi, atau membentuk sebuah
identitas baru ? meski gangguan-gangguan ini tetap misterius dalam beberapa
hal, petunjuk-petunjuk yang memberikan pemahaman akan asal muasalnya telah
bermunculan.
Pandangan Psikodinamika- Amnesia disasosiatif dapat menjadi suatu fungsi adaptif dengan cara
memutus atau mendisosiasi alam sadar seseorang dari kesadaran akan pengalaman
traumatis atau sumber-sumber lain dari nyeri maupun konflik psikologis (Dorahy,
2001). Bagi teoretikus psikodinamika, gangguan disasosiatif melibatkan penggunaan
represi secara besar-besaran, yang menghasilkan “terpisahnya” impuls yang tidak
dapat diterima dan ingatan yang menyakitkan dari kesadaran seseorang. Dalam
amnesia dan fugue disosiatf, ego melindungi dirinya sendiri dari kebanjiran
kecemasan dengan mengeluarkan ingatan-ingatan yang mengganggu atau dengan
mendisosiasi umpuls menakutkan yang bersifat seksual atau agresif. Pada
kepribadian ganda, orang mungkin mengekspresikan impuls-impuls yang tidak dapat
diterima ini melalui pengembangan kepribadian pengganti. Pada depersonalisasi,
orang berada di luar dirinya sendiri-aman dengan cara menjauh dari pertarungan
emosional di dalam dirinya.
Pandangan Kognitif dan Belajar- Teoretikus belajar dan kognitif memandang
disosiasi sebagai suatu respons yang dipelajari yang meliputi proses tidak
berpikir tentang tindakan atau pikiran yang mengganggu dalam rangka menghindari
rasa bersalah dan malu yang ditimbulkan oleh pengalaman-pengalaman itu.
Kebiasaan tidak berpikir tentang masalah-masalah tersebut secara negatif
dikuatkan dengan adanya perasaan terbebas dari kecemasan, atau dengan
memindahkan perasaan bersalah atau malu. Sejumlah teoretikus sosial kognitif, seperti (almarhum) Nicholas
Spanos, percaya bahwa gangguan identitas disosiatif adalah suatu bentuk bermain
peran yang dikuasai melalui observasi, yang melibatkan proses pembelajaran dan
reinforcement. Ini tidak sama dengan berpura-pura atau malingering; orang dapat
secara jujur mengorganisasikan pola perilaku mereka menurut peran tertentu yang
telah mereka amati. Mereka juga dapat menjadi sangat mendalami permainan peran
mereka hingga ‘lupa’ bahwa mereka sedang menampilkan sebuah peran.
Disfungsi Otak – mungkinkah perilaku disosiatif dihubungkan dengan disfungsi otak
yang mendasarinya? Penelitian mengenai hal
ini masih berada dalam tahap-tahap awal, namun bukti terakhir
menunjukkan perbedaan dalam aktivitas metabolisme otak antara orang dengan
gangguan depersonalisasi dan subjek yang sehat (Simeon dkk, 2000). Penemuan
ini,yang menekankan pada kemungkinan adanya disfungsi di bagian otak yang
terlibat dalam persepsi tubuh, dapat membantu menjelaskan perasaan terpisah
dari tubuh yang diasosiasikan dengan depersonalisasi.
Menggabungkan Berbagai Pandangan
Meski memiliki
konseptualisasi yang berbeda akan fenomena disosiatif, para psikolog menyadari
bahwa sejarah penyiksaan di masa kecil
sering memegang peranan penting. Pandangan yang paling banyak dianut dari
gangguan identitas disosiatif adalah bahwa gangguan tersebut mewakili sebuah
cara untuk mengatasi (coping) dan selamat dari penyiksaan di masa kecil yang
berat dan berulang, yang pada umumnya dimulai sebelum usia 5tahun (Burton &
Lane, 2001). Anak yang mengalami penyiksaan berat dapat memiliki kepribadianalter sebagai pertahanan psikologis menghadapi penyiksaan yang
tak tertahankan. Pembentukkan kepribadian alter ini memberi jalan bagi
anak-anak seperti itu untuk secara psikologis menyelamatkan atau menjauhkan
diri dari penderitaan mereka (Burton & Lane, 2001). Disosiasi
memberikan suatu cara untuk melarikan
diri saat tidak ada cara lain yang tersedia (Gershuny & Thayer, 1999).
Meskipun terdapat penyiksaan yang terus-menerus, kepribadian alter ini dapat
menjadi stabil, membuat sulit bagi orang tersebut untuk mempertahankan
kepribadian yang utuh. Padda masa dewasa, orang dengan kepribadian ganda dapat
menggunakan kepribadian alter mereka untuk menghadang ingatan masa kecil yang
traumatis dan reaksi emosional terhadap hal itu, sehingga menghapus bersih
ingatan dan memulai hidup baru dengan
kehadiran kepribadian alter (Schafer, 1986). Identitas atau kepribadian
alter juga dapat membantu orang tersebut mengatasi situasi penuh tekanan atau
mengekspresikan kekecewaan yang sangat dalam yang tidak dapap diintergrasikan individu
di dalam kepribadiannya yang utama (Spanos, 1994).
Bukti-bukti yang saling menguatkan menunjukkan bahwa
pemaparan terhadap trauma masa kecil, biasanya yang dilakukan oleh keluarga
atau pengasuh, terlibat dalam perkembangan gangguan disosiatif, terutama
gangguan identitas disosiatif. Sebagian besar orang dengan kepribadian ganda
melaporkan pernah mengalami penyiksaan fisik atau seksual saat masa kanak-kanak
(Lewis dkk, 1997); Weaver & Clum, 1995). Dalam suatu sampel, 83% orang
dengan gangguan identitas disosiatif melaporkan sejarah penyiksaan seksual
dimasa kanak-kanak dan 2 dari 3 melaporkan penyiksaan fisik dan seksual
sekaligus (Putnam dkk, 1986). Pada sampel-sampel lain, jumlah penderita yang
menjalani masa kecil dengan penyiksaan fisik atau seksual berkisar antara 76%
sampai dengan 95% dari semua kasus yang ada (Ross dkk,1990; Scroppo dkk, 1998).
Bukti adanya kesamaan lintas budaya datang dari suatu penelitian di Turki, yang
menunjukkan bahwa 3 lebih dari 4 pasien gangguan identitas disosiatif, yang
semuanya berjumlah 35 orang, melaporkan penyiksaan seksual dan fisik di masa
kecil (Sar dkk, 1996). Trauma atau penyiksaan masa kecil juga dilaporkan lebih
sering dalam kassus amnesia disosiatif dan gangguan depersonalisasi daripada
dalam kelompok kontrol (orang yang normal) (Coons, Bowman, & Pellow, 1989);
Simeon dkk, 1997, 2001).
Penyiksaaan masa kanak-kanak bukanlah satu-satunya sumber
trauma yang dikaitkan dengan gangguan-gangguan disosiatif. Pemaparan terhadap
trauma perang baik di kalangan khalayak sipil dan tentara memainkan peran dalam
beberapa kasus fugue disosiatif dan amnesia disosiatif. Pada fugue, tekanan
pertempuran dan keuntungan sekunder dari meninggalkan medan perang tampaknya
menjadi kontributor penting (Loewenstein, 1991). Tekanan dalam mengatasi
masalah keuangan yang berat dan harapan menghindari hukuman untuk perilaku yang
secara sosial tidak diterima adalah anteseden yang mungkin dalam episode fugue
(Riether & Stoudemire, 1988). Pemaparan terhadap stres tingkat tinggi juga
dihubungkan dengan gangguan depersonalisasi (Kluft, 1988).
Model Diatesis-Stres meski banyak bukti trauma masa kanak-kanak dalam
kasus gangguan identitas disosiatif, hanya sedikit anak yang mengalami
penyikssaan yang mengembangkan kepribadian ganda, bahkan diantara mereka yang
mengalami penyiksaan yang sangat berat. Konsisten dengan model diatesis-stres,
trait-trait kepribadian tertentu,
seperti kecenderungan berfantasi, tingkat kemudahan yang tinggi untuk
dihipnotis, dan keterbukaan pada kondisi kesadaran alter, dapat menjadi
predisposisi bagi individu untuk mengembangkan pengalaman disosiatif bila
dihadapkan dengan stres yang ekstrem, seperti penyiksaan yang traumatis.
Trait-trait kepribadian ini saja tidak akan membuat gangguan disosiatif muncul
( Rauschenberger & Lynn, 1995). Trait-trait tersebut biasanya cukup umum
dalam populasi. Meskipun demikian, hal tersebut dapat meningkatkan risiko bahwa
seseorang yang mengalami trauma berat akan membentuk fenomena disosiatif
sebagai suatu mekanisme pertahanan diri (Butler dkk, 1996). Orang yang memiliki
kecenderungan rendah dalam berfantasi atau kemudahan dihipnotis kemungkinan
mengalami semacam karakteristik pikiran-pikiran cemas dan intrusif yang
merupakan gangguan stres pasca trauma (PTSD) pada periode setelah stres yang
traumatis, dan bukan pengalaman-pengalaman disosiatif (Kirmayer, Robbins, &
Paris, 1994).
Mungkin kebanyakan dari kita dapat membagi-bagi kesadaran
sehingga kita menjadi tidak sadar
akan-paling tidak sementara-peristiwa-peristiwa yang dalam keadaan normal
akan kita perhatikan. Mungkin kebanyakan dari kita dapat membuang hal-hal yang
tidak menyenangkan dari pikiran kita dan menampilkan peran yang
bervariasi-orang tua, anak, kekasih, pebisnis, tentara-yang dapat membantu kita
memenuhi tuntutan situasi. Mungkin kejutan yang sesungguhnya bukanlah perhatian
yang bisa dibagi, tetapi bahwa kesadaran manusia bormalnya terintegrasi ke
dalam keseluruhan yang berarti.
Penanganan Gangguan
Disosiatif
Amesia dan fugue disosiatif biasanya
merupakan pengalaman yang mengambang dan segera berakhir. Sedangkan
episode-episode depersonalisasi dapat muncul kembali dan sifatnya presisten dan
biasanya terjadi bila orang tersebut berada dalam periode kecemasan atau
depresi ringan. Pada kasus-kasus seperti itu, klinisi biasanya berfokus pada
penanganan kecemasan atau depresinya. Sebagaian besar perhatian dalam
kepustakaan penelitian berfokus pada gangguan identitas disosiatif dan secara
khusus pada usaha mengintegrasikan kepribadian alter menjadi sebuah struktur
kepribadian yang kohesif.
Psikoanalisa berusaha membantu orang
yang menderita gangguan identitas disosiatif untuk mengungkapkan dan belajar
mengatasi trauma-trauma masa kecil. Mereka sering merekomendasikan membangun
kontak langsung dengan kepribadian-kepribadian
alter..
BAB III
PEMBAHASAN
Dari film yang berjudul “Peacock”,
maka dapat diketahui bahwa John sebagai pemeran utama merupakan sosok yang dibesarkan oleh ibu yang sangat otoriter
namun sangat penyayang. Hal tersebut dapat dianalisis dari cerita diawal film
ini. Terdengar suara ibunya yang mengatakan “Kuperingatkan kamu. Jangan
bergerak sedikitpun kecuali aku suruh. Jangan lihat aku kecuali aku
perintahkan. Jangan bicara pada siapapun. Dari film ini juga dapat diketahui
bahwa ibu john pernah memaksa john untuk berhubungan intim dengan meggie yang
merupakan wanita panggilan. Semua perlakuan yang diberikan ibunya sejak kecil,
membekas di alam bawah sadar john.
Setelah ibu john meninggal, John
merasa bahwa ia bertemu dengan sesosok wanita yang bernama emma dalam
kehidupannya. Namun, dalam kenyataannya sosok emma tersebut adalah sosok yang
sama dengan john. Emma dan john adalah dua buah kepribadian yang berada dalam
satu tubuh yaitu tubuh john. Ketika John bangun dari tidurnya, maka kepribadian
emma yang muncul di tubuh john. Emma akan melakukan rutinitas seperti seorang
ibu rumah tangga. Emma selalu mencuci pakaian kemudian dilanjutkan dengan
memasak sarapan pagi untuk john. Tidak lupa, emma juga menuliskan memo kepada
john. Isi memo itu emma mengatakan selamat pulang kepada john. Emma juga
menuliskan bahwa ada makanan siap saji yang harus dipanaskan. Emma suka sekali
mengintip tetangga yang memiliki keluarga harmonis dari balik jendela kamarnya.
Ketika siang, kepribadian emma di tubuh john berubah menjadi kepribadian john
yang sebenarnya. Emma melepas wig dan pakaian wanitanya, kemudian menggantinya
dengan pakaian laki-laki. John kemudian keluar kamarnya dan menuju ke meja
makan untuk memakan sarapan pagi yang telah disediakan oleh emma. Setelah
selesai makan, kemudian john langsung bersiap-siap untuk pergi bekerja. Ketika
john pulang dari bekerja, ia selalu mendapatkan kertas memo dari emma yang
diletakkan emma di dekat tempat tidur john. Welcome Home, tulis emma. John
selalu tersenyum membaca memo dari emma tersebut. Namun antara kepribadian john
dan kepribadian emma, walaupun mereka berada dalam satu tubuh yang sama yaitu
tubuh john, mereka sama sekali tidak mengetahui apa saja yang dilakukan oleh
kepribadian masing-masing.
Suatu hari, ketika
sedang berada dalam kepribadiannya sebagai seorang wanita, sebuah gerbong
kereta api mengalami kecelakaan dan menabrak halaman belakang rumah John. Hal
ini tentu saja menarik perhatian masyarakat sekitarnya, apalagi setelah melihat
bahwa ada sesosok wanita yang berada di rumah John. Tetangga tersebut kemudian
berspekulasi bahwa sosok wanita itu adalah istri john. Setelah emma melihat
banyak warga yang mendekat dan bertanya padanya, emma kemudian masuk ke dalam
rumah. Emma kemudian berubah kepribadian menjadi john. John terkejut ketika
melihat gerbong kereta api yang masuk ke halamannya. Ketika melihat gerbong
itu, john terlihat sangat gelisah. John kemudian masuk ke rumah dan menuju meja
makan. John menemukan memo dari emma yang bertuliskan “Segera pergi ke tempat
kerja dan jangan berbicara dengan orang lain”. John sangat patuh pada memo yang
dituliskan oleh emma. John tak menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan
tetangga tetangganya ketika john dalam perjalanan menuju ke kantornya”.
Kehidupan John yang selama ini tertutup, kini seolah menjadi
perhatian publik dengan adanya kejadian kecelakaan gerbong kereta api dan
penemuan bahwa John telah memiliki seorang “istri”. Tak pelak, bahkan istri
walikota Peacock, Fanny Crill (Susan Sarandon), tertarik dengan kehidupan Emma
dan ingin mengajaknya untuk ikut bagian dalam kampanye pemilihan suaminya
kembali sebagai walikota Peacock di periode berikutnya. Ternyata, sosok Emma
dan John sama sekali berbeda keinginan. Ketika Emma menyatakan kesetujuannya
untuk ikut serta di berbagai acara publik dihadapan istri walikota tersebut,
tapi ternyata ketika istri walikota tersebut memberitahu bahwa istrinya setuju
untuk bekerjasama dalam kampanye walikota tersebut. Namun, sosok John malah
kemudian menentang keputusan tersebut. John mengatakan bahwa aku adalah kepala
rumah tangga, jadi semua keputusan ada di tangan ku.
Masalah bagi John kemudian malah semakin bertambah dengan kedatangan
Maggie (Ellen Page), seorang wanita yang dulu pernah dibayar ibu John agar mau
berhubungan intim dengannya. Ternyata, hubungan tersebut membuahkan seorang
anak. Ibu John ternyata selama ini telah membayar Maggie agar menjaga jaraknya
dari John agar ia tidak mengetahui tentang keberadaan sang anak. Maggie, yang
tidak mengetahui bahwa ibu John telah meninggal setahun yang lalu, kini datang
untuk meminta bantuan finansial karena dirinya tidak menerima kiriman uang
selama setahun terakhir karena ibu john sudah meninggal. Namun, John menolak
permintaan dari meggie. John meninggalkan meggie yang berada di ruang tamu ke
kamarnya. Meggie tetap saja menunggu john hingga john keluar kamarnya. Namun
ternyata, yang menemui meggie adalah bukan sosok john tapi adalah sosok emma.
Emma terkejut ketika melihat ada wanita lain di rumah john. Emmapun mengajukan
pertanyaan-pertanyaan pada meggie, hingga akhirnya meggie bersedia menceritakan
bahwa anak meggie adalah anak john. Emma terkejut, namun ia tidak marah dengan
meggie. Emma justru mengatakan bahwa mereka berdua adalah keluarga. Dari
pertemuan itulah emma dan meggie kemudian sering bertemu.
Setelah mendengar cerita Meggie tentang sosok ibu john, emma jadi
penasaran dengan sosok ibu john tersebut. Emma kemudian masuk ke dalam kamar
ibunya john. Emma melihat barang-barang yang ada di kamar ibunya tersebut.
Setelah pertemuan itu, emma memikirkan cara untuk dapat membantu meggie karena
kasihan. Kemudian emma meminta bantuan istri walikota untuk dapat memasukkan
meggie di tempat penampungan milik walikota peacock, dan emma berencana untuk
mengadopsi anak meggie tersebut. Namun, ketika meggie menelpon kepribadian john
keesokan siangnya, meggie mengatakan bahwa ia ada di penampungan karena dibawa
oleh emma tadi malam. Johnpun terkejut, dan ia sangat marah dengan emma. John
kemudian menemui meggie dan menyuruh meggie pergi dari kota peacock dan john
menjanjikan meggie bahwa ia akan memberikan semua uang tabungannya. Meggie
heran, tetapi meggie menuruti perkataan john. Sejak saat itu, john merasa sosok
emma adalah sosok yang mengganggu di kehidupan john. John berusaha keras
menghindari sosok emma. John tidak mau lagi tinggal di rumahnya, namun sekarang
john tinggal di motel.
Keesokan paginya ketika bangun pagi, tubuh john berubah sosok
menjadi emma. Namun berbeda dari hari-hari biasanya, emma tidak berubah kepribadian
menjadi john. Emma kemudian merencanakan agar masyarakat terutama meggie
mengira kalau john seakan-akan meninggal. Emma membuat skenario cerita di motel
tempat john tinggal sekarang. Emma membakar seorang laki-laki yang sebelumnya
didandani emma seakan itu sosok john. Ketika laki-laki itu beserta motelnya
terbakar, oarang-orang mengira bahwa laki-laki itu adalah john. Sejak saat itu,
yang ada di tubuh john adalah sosok emma sedangkan sosok john sudah tidak ada
lagi.
Berdasarkan cerita dalam film peacock tersebut, maka
diketahui bahwa kepribadian john terpecah menjadi dua. Kepribadian utama adalah
john sedangkan kepribadian pengganti dalam tubuh john adalah sosok wanita yang
bernama emma. Antara kepribadian john dan emma, masing-masing tidak mengetahui
apa yang setiap kepribadian lakukan sehari-hari, jadi kepribadian john dan emma
masing-masing tidak terhubung. Berdasarkan kriteria-kriteria yang ditampilkan
dari sosok john, maka dapat ditentukan bahwa john memiliki gangguan disosiatif.
Menurut DSM-IV-TR, diagnosis gangguan identitas
disosiatif (DID) dapat ditegakkan bila seseorang memiliki sekurang-kurangnya
dua kondisi ego yang terpisah, atau berubah dan berbeda dalam keberadaan,
perasaan, dan tindakan yang satu sama lain tidak saling mempengaruhi dan yang
muncul serta memegang kendali pada waktu yang berbeda. Kesenjangan memori juga
umum terjadi dan biasanya karena sekurang-kurangnya satu kepribadian tidak
memiliki kontak dengan yang lain; yaitu, kepribadian A tidak memiliki memori
mengenai seperti apa kepribadian B atau bahkan tidak mengetahui sedikitpun
bahwa ia memiliki kepribadian lain yang berbeda.
Kriteria DSM-IV-TR untuk
DID, diantaranya :
1) Harus ada dua atau lebih
identitas atau kesadaran yang berbeda di dalam diri orang tersebut.
2) Kepribadian-kepribadian
ini secara berulang mengambil alih perilaku orang tersebut (Switching).
3) Ada ketidakmampuan untuk
mengingat informasi penting yang berkenaan dengan dirinya yang terlalu luar
biasa untuk dianggap hanya sebagai lupa biasa.
4) Gangguan-gangguan yang terjadi ini
tidak terjadi karena efek psikologis dari substansiseperti alkohol atau
obat-obatan atau karena kondisi medis seperti demam.
Berdasarkan DSM IV tersebut, maka
dapat diketahui bahwa sosok john memiliki gangguan disosiatif yaitu gangguan
identitas disosiatif. Hal tersebut karena perilaku yang ditunjukkan oleh
kepribadian john dan kepribadian emma sesuai dengan kriteria gangguan identitas
disosiatif pada DSM IV diatas, yaitu sosok john memiliki dua kondisi ego yang
terpisah. Kemudian kepribadian john dan kepribadian emma tidak saling
mengetahui apa yang dilakukan masing-masing kepribadian.
Dinamika Kepribadian
John dibesarkan dalam keluarga yang sangat menutup diri
dari lingkungan sekitar. John hanya tinggal berdua dengan ibunya. Ibu john
adalah sosok wanita yang sangat menyayangi john. Ibunya tidak memperbolahkan
john keluar rumah dan berbicara dengan orang asing yang tidak dikenal. Sehingga
membuat john tidak bisa bersosialisasi dengan orang lain. John tumbuh menjadi
anak yang pemalu, ia tidak bisa bersosialisasi dengan orang lain. Sehingga
membuat john ketika besar tidak bisa menatap lawan bicaranya, john hanya
menunduk ketika berbicara dengan orang lain. Menurut ibunya, lingkungan luar
tidak aman bagi john, ibu john sangat takut apabila terjadi sesuatu pada john.
Ibu john juga melarang john memakan makanan kesukaan john, karena makanan
kesukannya adalah coklat yang menurut ibunya tidak sehat. Ibunya selalu berkata
dengan keras kepada john, agar john patuh pada semua perkataan ibunya. Apapun
yang ibunya perintahkan, maka john harus mematuhinya. Setiap harinya, ibunya
selalu melayani kebutuhan john. Ibunya selalu memasakkan makanan yang sama
kepada john. Ibu john selalu ingin anaknya merasa senang dan puas. Sampai suatu
ketika ibu John membayar seorang wanita untuk berhubungan seksual dengan John,
padahal John tidak menginginkannya tetapi karena ibunya memaksa. Perlakuan
ibunya itu dianggapnya dapat memberikan kebahagiaan dan kepuasan untuk John. Karena
perlakuan ibunya yang selalu mengatur dan melayani semua kebutuhan john, maka
membuat john sangat terikat dengan sosok ibunya. Sehingga ketika ibunya
meninggal, maka john sangat terpukul. John merasa dirinya telah kehilangan
sosok yang selama ini menjaga, mengatur, membimbing dan melayani john. John
merasa identitas dirinya terdistorsi sehingga ia membangun kepribadian ganda
dan membentuk identitas baru. Dihari ibunya meninggal, perasaan john
terdistorsi, ia sangat tidak terima apabila sosok yang selama ini menjaganya
menghilang. Kemudian, john merasakan ada sosok yang datang menemaninya. Sosok
itu adalah emma. Emma berperilaku seperti sosok yang menjaga dan melayani john.
Setiap pagi, emma selalu mencuci pakaian john, ia juga memasakan sarapan pagi
untuk john. Makanan yang dimasak oleh emma adalah makanan yang sama persis
seperti yang disajikan oleh ibunya. Bahkan tataan tempat makan di meja makan
sama persis seperti yang dilakukan ibunya semasa kecil. Selain itu, ketika john
pulang dari bekerja, ia selalu mendapatkan kertas memo dari emma yang
diletakkan emma di dekat tempat tidur john. Welcome Home, tulis emma. John
selalu tersenyum membaca memo dari emma tersebut. Emma juga menuliskan memo
perintah yang sama dengan yang pernah dilakukan ibunya sewaktu kecil yaitu
“kamu langsung pergi kekantor, jangan berbicara dengan orang lain. Perilaku
emma ini membuat john nyaman.
Suatu hari, ketika sedang berada dalam kepribadiannya sebagai
seorang wanita, sebuah gerbong kereta api mengalami kecelakaan dan menabrak
halaman belakang rumah John. Hal ini tentu saja menarik perhatian masyarakat
sekitarnya, apalagi setelah melihat bahwa ada sesosok wanita yang berada di
rumah John. Para masyarakat sekitar mengira sosok wanita itu adalah john.
Setelah kejadian itu, istri walikota Peacock, Fanny Crill (Susan Sarandon),
tertarik dengan kehidupan Emma dan ingin mengajaknya untuk ikut bagian dalam
kampanye pemilihan suaminya kembali sebagai walikota Peacock di periode
berikutnya. Ternyata, sosok Emma dan John sama sekali berbeda keinginan. Ketika
Emma menyatakan kesetujuannya untuk ikut serta di berbagai acara publik
dihadapan istri walikota tersebut, tapi ternyata ketika istri walikota tersebut
memberitahu bahwa istrinya setuju untuk bekerjasama dalam kampanye walikota
tersebut. Namun, sosok John malah kemudian menentang keputusan tersebut. John
mengatakan bahwa dia bukan bosku, aku yang mengatur segalanya. Masalah
bertambah ketika meggie datang dikehidupan john. meggie meminta uang kepada
john untuk menghidupi anak akaibat hubungan mereka berdua. Saat emma ikut
campur dengan masalah john dan meggie, maka membuat john marah. Emma melakukan
hal-hal yang tidak disukai john. John berfikir bahwa sosok emma yang dulunya
selalu melayani dan menjaganya, tiba-tiba berubah. Sekarang emma mulai terbuka
dengan lingkungan luar. Emma tidak maksimal lagi mengurusi kebutuhan john. John
berusaha keras untuk menghindari emma dengan cara tidak pulang ke rumahnya
sendiri. Sosok emma juga berusaha untuk mendominasi john. Sehingga kedua
kepribadian tersebut mengalami persaingan interpersonalitas, dimana satu
kepribadian ingin mengenyahkan kepribadian yang lain.
Akhirnya, john sebenarnya (cilian murphy) gagal mempertahankan
kepribadian utamanya, sehingga kepribadian pengganti lah (emma) yang menguasai
john. Semua ini ditandai dengan peristiwa matinya john di kamar motel yang
semuanya direkayasa oleh emma sang kepribadian pengganti.
BAB IV
PENUTUP
DAFTAR
PUSTAKA
Nevid,
jeffrey dkk. 2005. Psikologi Abnormal Jilid 1. Jakarta: Erlangga
Tidak ada komentar:
Posting Komentar